PELAKITA.ID – Tim 9 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (UNHAS) bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak kembali mendampingi masyarakat Weri-Saharey melalui pelatihan Keamanan Pangan, Higiene Sanitasi, Pelabelan, dan Persyaratan Dasar Produk Pangan Olahan Perikanan untuk Pemasaran.
Kegiatan yang berlangsung pada 29 September 2026 ini diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri atas mama-mama dan pemuda, sekaligus menjadi tahap kedua pendampingan pengembangan produk olahan perikanan melalui Rumah Produksi Bersama (RPB) Weri-Saharey.
Pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang memberikan penguatan pada keterampilan dasar pengemasan sejumlah produk olahan perikanan, seperti abon ikan, sambal ikan, dan keripik.
Pada tahap lanjutan ini, perhatian pendampingan diperluas agar masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami aspek keamanan pangan, higiene dan sanitasi, pelabelan, hingga persyaratan dasar dan legalitas yang diperlukan agar produk dapat dipasarkan secara lebih luas.
Materi mengenai keamanan pangan, higiene, dan sanitasi disampaikan oleh Andi Nur, S.Farm.
Dalam sesi tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai hal yang perlu diperhatikan selama proses produksi, mulai dari kebersihan personal, kondisi lingkungan tempat produksi, penanganan bahan baku dan produk, hingga langkah-langkah untuk mencegah terjadinya kontaminasi.
Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan produk olahan yang dihasilkan tetap aman dan memiliki kualitas yang baik.
Aspek lain yang mendapat perhatian adalah pelabelan dan informasi produk. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai informasi yang perlu dicantumkan pada kemasan agar produk tidak berhenti pada tampilan yang menarik, tetapi juga mampu memberikan keterangan yang jelas dan informatif kepada konsumen.
Dengan demikian, kemasan dipahami bukan sekadar pembungkus, melainkan bagian dari identitas sekaligus sarana komunikasi produk.
Penguatan kemudian dilanjutkan melalui materi mengenai legalitas dan perizinan dasar produk pangan olahan yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, dr. Maulana Karjadi Patiran, M.Kes.
Dalam pemaparannya, peserta diperkenalkan pada tahapan serta sejumlah persyaratan yang perlu dipersiapkan untuk memperoleh Sertifikat Pemenuhan Komitmen Produksi Pangan Olahan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT).
Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak juga menyatakan kesiapan untuk mendukung masyarakat dalam memenuhi berbagai persyaratan tersebut.
Dukungan ini menjadi penting karena pengembangan produk olahan perikanan membutuhkan proses yang bertahap, bukan hanya dari sisi keterampilan produksi, tetapi juga dari aspek standar keamanan, administrasi, legalitas, dan kesiapan memasuki pasar.
Kegiatan tersebut turut diperkuat oleh Armita Abdullah, S.Si., Apt., selaku penanggung jawab urusan kefarmasian pada Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak.
Sepanjang pelatihan, peserta terlihat aktif mengikuti materi, berdiskusi, serta menyampaikan pertanyaan mengenai penerapan pengetahuan yang diperoleh dalam proses produksi olahan perikanan yang sedang mereka kembangkan di Weri-Saharey.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak, dr. Maulana Karjadi Patiran, M.Kes., berharap keberadaan RPB Weri-Saharey dapat berkembang menjadi ruang produksi yang mampu menghasilkan produk berkualitas dan menjangkau pasar yang lebih luas.
“Harapannya, produk yang dihasilkan dari Rumah Produksi Bersama ini nantinya dapat terjual dan menjangkau berbagai wilayah. Kami dari Dinas Kesehatan juga berharap masyarakat dapat terus memperhatikan keamanan dan kualitas produk serta memenuhi persyaratan yang diperlukan, sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga aman dan dapat diterima oleh konsumen,” ujarnya.
Pendampingan tersebut menempatkan RPB Weri-Saharey bukan semata sebagai tempat produksi dan pengemasan, tetapi sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas, memperbaiki standar produksi, serta membangun kesiapan produk olahan perikanan agar memiliki identitas dan peluang pasar yang lebih luas.
Bagi masyarakat Weri-Saharey, penguatan kapasitas ini juga membuka ruang untuk mengembangkan hasil perikanan lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Proses tersebut membutuhkan kesinambungan antara keterampilan produksi, keamanan pangan, identitas produk, legalitas, hingga strategi pemasaran agar potensi ekonomi yang ada dapat berkembang secara berkelanjutan.
Rangkaian pendampingan selanjutnya akan diarahkan pada pelatihan pemasaran dan Focus Group Discussion (FGD) Branding Guideline.
Tahapan tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas produk sekaligus membantu masyarakat menyusun strategi pemasaran yang lebih terarah, sehingga produk olahan perikanan Weri-Saharey memiliki peluang untuk dikenal dan menjangkau konsumen di luar wilayah.
Melalui rangkaian pendampingan yang dilakukan secara bertahap, pengembangan RPB Weri-Saharey diharapkan tidak berhenti pada kemampuan memproduksi makanan olahan.
Lebih jauh, proses ini diarahkan untuk membangun kapasitas masyarakat dalam menghasilkan produk yang aman, higienis, memiliki identitas, memenuhi persyaratan dasar, serta memiliki peluang tumbuh sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi perikanan lokal.









