Mustamin Raga | Mendidik Kebiasaan, Menyelamatkan Peradaban

  • Whatsapp
Ilustrasi

“Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita. Kita meminjamnya dari anak cucu kita.”
— Pepatah Indian Amerika

PELAKITA.ID – Ada ironi yang sering luput dari perhatian kita. Setiap hari kita menikmati makanan yang disediakan bumi, meminum air yang mengalir dari alam, menghirup udara yang dianugerahkan Tuhan, tetapi pada saat yang sama kita juga setiap hari mengirimkan ribuan ton sampah kembali kepada bumi.

Seolah-olah bumi diciptakan bukan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya, melainkan untuk dijadikan tempat pembuangan terakhir dari semua yang tidak lagi kita inginkan.

Barangkali, inilah paradoks terbesar peradaban modern. Kita semakin maju dalam menciptakan berbagai produk, tetapi tidak cukup dewasa dalam mengelola sisa dari produk-produk itu. Kita bangga dengan pertumbuhan ekonomi, namun sering lupa menghitung pertumbuhan gunung-gunung sampah yang diam-diam ikut membesar setiap harinya.

Karena itu, ukuran kemajuan sebuah kota sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh tingginya gedung pencakar langit, lebarnya jalan raya, atau megahnya pusat-pusat perdagangan. Peradaban sebuah kota justru diuji pada sesuatu yang sering dianggap sepele: bagaimana warganya memperlakukan sampah.

Sampah adalah cermin kejujuran sebuah masyarakat. Ia tidak pernah berdusta. Ia memperlihatkan apakah sebuah kota hanya pandai menghasilkan, atau juga mampu bertanggung jawab terhadap apa yang dihasilkannya.

Di Kota Makassar, setiap hari diperkirakan lahir sekitar 800 hingga 1.000 ton sampah. Angka ini mungkin hanya tampak sebagai deretan statistik dalam laporan resmi. Namun cobalah berhenti sejenak dan membayangkannya.

Delapan ratus hingga seribu ton setiap hari. Dalam seminggu menjadi sekitar tujuh ribu ton. Dalam sebulan mendekati tiga puluh ribu ton. Dalam setahun mencapai ratusan ribu ton. Lalu bagaimana jika keadaan ini berlangsung lima tahun? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun?

Pertanyaan yang sesungguhnya harus kita jawab bukan lagi, “Ke mana sampah itu dibuang?” tetapi, “Berapa lama bumi sanggup menanggungnya?”

Karena bumi pun memiliki batas kesabaran.

Yang lebih menarik untuk dicermati, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup, komposisi terbesar sampah perkotaan, termasuk Makassar, berasal dari sampah organik, terutama sisa makanan dan limbah dapur.

Persentasenya mencapai sekitar separuh dari keseluruhan timbulan sampah. Selebihnya terdiri atas plastik, kertas, kayu, kain, logam, kaca, dan berbagai jenis residu lainnya.

Data ini sesungguhnya membawa dua pesan sekaligus. Pesan buruknya, sebagian besar sampah yang memenuhi TPA setiap hari berasal dari sesuatu yang sebenarnya mudah membusuk.

Namun pesan baiknya jauh lebih besar. Artinya, sebagian terbesar persoalan sampah sebenarnya dapat diselesaikan sejak dari rumah.

Dengan kata lain, persoalan terbesar kita bukan karena sampah terlalu banyak. Persoalannya adalah terlalu sedikit yang dipilah. Kita masih terbiasa mencampurkan sisa nasi, kulit pisang, botol plastik, popok sekali pakai, pecahan kaca, kardus, bahkan limbah berbahaya dalam satu kantong yang sama.

Padahal masing-masing memiliki “takdir” yang berbeda. Sampah organik ingin kembali menjadi tanah. Plastik ingin didaur ulang. Kertas masih dapat digunakan kembali. Logam memiliki nilai ekonomi.

Sementara residu memang harus berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Ketika semuanya dicampur, maka yang terjadi bukanlah efisiensi, melainkan pemborosan. Kita membuang nilai yang masih tersimpan di dalam sampah.

Selama bertahun-tahun, cara kita memperlakukan sampah hampir tidak pernah berubah. Sampah dikumpulkan. Diangkut. Lalu dibuang. Persoalan dianggap selesai.

Padahal sesungguhnya persoalan itu baru saja dipindahkan dari halaman rumah menuju halaman bumi. Model pengelolaan seperti ini dikenal dengan pola “kumpul-angkut-buang.” Cara berpikir seperti inilah yang perlahan-lahan sedang ditinggalkan oleh banyak negara di dunia.

Mengapa?

Karena bumi tidak pernah meminta lebih banyak tempat pembuangan sampah. Bumi hanya meminta manusia berhenti memproduksi masalah.

Bayangkan bila seluruh sampah Makassar yang mencapai hampir seribu ton setiap hari itu terus dibuang ke TPA Antang tanpa pemilahan melalui sistem open dumping.

Maka gunungan sampah akan terus bertambah tinggi. Bau busuk akan terus berembus mengikuti arah angin.Burung-burung pemakan bangkai akan berputar di langit. Gas metana akan terus terbentuk akibat pembusukan sampah organik. Gas ini bukan hanya memicu kebakaran, tetapi juga merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Air lindi. Cairan hitam pekat hasil pembusukan sampah itu perlahan meresap ke dalam tanah, membawa berbagai zat pencemar menuju lapisan air tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Air yang kita minum. Tanah yang kita tanami. Udara yang kita hirup. Sedikit demi sedikit ikut menanggung akibat dari kebiasaan kita mencampur sampah.

Persoalan sampah akhirnya tidak lagi berhenti sebagai persoalan kebersihan. Ia berubah menjadi persoalan kesehatan.

Persoalan ekonomi. Persoalan sosial. Bahkan persoalan keadilan antar-generasi. Sebab anak-anak yang lahir hari ini tidak pernah ikut memproduksi sampah puluhan tahun yang lalu, tetapi merekalah yang kelak akan menerima akibatnya.

Filsuf Jerman Hans Jonas, dalam karyanya The Imperative of Responsibility, mengingatkan bahwa setiap tindakan manusia modern harus mempertimbangkan nasib generasi yang belum lahir. Menurut Jonas, kemajuan teknologi telah memperbesar kemampuan manusia merusak bumi. Karena itu, tanggung jawab moral manusia tidak lagi berhenti pada sesama yang hidup hari ini, tetapi juga kepada mereka yang akan hidup puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.

Pandangan Jonas terasa sangat relevan ketika kita berbicara tentang sampah.

Sebab setiap kantong sampah yang kita buang hari ini sesungguhnya sedang menulis sejarah yang akan dibaca oleh anak cucu kita. Apakah mereka akan mewarisi tanah yang subur? Ataukah gunung-gunung sampah yang terus mengeluarkan bau dan racun? Pilihan itu sedang kita tentukan hari ini.

Berangkat dari kenyataan itulah Pemerintah Kota Makassar mengambil langkah yang patut diapresiasi. Mulai 1 Agustus 2026, setiap rumah tangga diwajibkan memilah sampah menjadi tiga kelompok, yaitu organik, anorganik, dan residu, sebelum diangkut oleh petugas. Sampah yang tidak dipilah tidak lagi diangkut sebagaimana sebelumnya.

Sebagian orang mungkin menganggap kebijakan ini merepotkan.

Sebagian lagi mungkin menganggap pemerintah terlalu keras.

Namun sesungguhnya kebijakan ini bukanlah tentang mempersulit masyarakat. Kebijakan ini adalah upaya mengubah cara berpikir. Mengubah budaya. Mengubah kebiasaan. Karena sesungguhnya, peradaban besar tidak pernah dibangun oleh kebijakan yang populer. Ia dibangun oleh kebijakan yang mendidik.

(Bersambung ke Bagian II)