Di Antara Dua Aktor Kawakan Asal Makassar

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Pelakita.ID
  • Rusman Madjulekka dan Ilham Anwar (Puma) mewakili dua jalur kreatif yang berbeda tetapi bertemu pada satu kekuatan yang sama: kemampuan mengolah pengalaman dan kekayaan lokal menjadi cerita yang hidup.
  • Rusman bergerak terutama melalui jurnalistik, kolom, dan feature writing, dengan kekuatan pada narasi tokoh, observasi sosial, anekdot, serta memori kolektif; ia mengubah realitas dan peristiwa sehari-hari menjadi tulisan yang humanis, reflektif, dan dekat dengan pembaca.
  • Sementara itu, Ilham Anwar (Puma) berakar pada teater, skenario, dan seni pertunjukan, dengan kekuatan pada olah tubuh, panggung, karakter, serta dramaturgi; ia mengolah tradisi sastra Bugis, terutama La Galigo, menjadi pertunjukan yang dapat dibaca dan dirasakan dalam konteks kontemporer.

PELAKITA.ID – “Saya masih di Phoenampungan, nanti saya ke situ.” “Sudah adama di KKP, saya menuju.” Pesan-pesan singkat yang masuk lewat telepon genggam itu menjadi penanda dimulainya sebuah reuni kecil semalam di restoran Hotel Aryaduta.

Di tengah kehangatan malam yang mengalir santai, kami berkumpul mengitari meja, melepas nakku’ sembari membiarkan obrolan meluncur tanpa sekat—tentang denyut kota Makassar, geliat kesenian lokal, hingga seluk-beluk dunia kepenulisan dan aksi orang-orang di media sosial terutama yang bertemali ke alumni Unhas.

Di sudut ruangan, sempat tercipta sebuah rekaan visual yang dramatis sekaligus jenaka, mirip adegan dalam film-film Mafia Italia: sosok pertama, Rusman, duduk santai melipat kaki di atas ranjang kamar, sementara sosok kedua, Puma, duduk anggun di kursi mendampinginya seperti dua lakon utama yang siap berbagi cerita.

Catatan kali ini tidak dimaksudkan untuk membedah substansi atau arah perbincangan kami malam itu.

Lebih dari sekadar kenangan hangat persinggungan linimasa manusia yang bangga sebagai ‘Anak Makassar’ semalam, saya ingin mengajak pembaca menyelami rekam jejak, keunikan, serta kiprah sosial-budaya dari kedua figur tersebut—dua sahabat kawakan yang mungkin jejak pengabdian dan kedalaman karyanya belum sepenuhnya diketahui secara luas oleh publik Nusantara maupun bahkan Sulawesi Selatan.

Rusman Madjulekka: Penulis Ulet dan Penjaga Memori Kolektif

Sosok pertama adalah Moh. Rusman Madjulekka. Bagi publik alumni Universitas Hasanuddin maupun penikmat literasi media, Rusman dikenal sebagai alumni Ilmu Komunikasi/FISIP Unhas, seorang jurnalis ulet, kolumnis yang sangat produktif, sekaligus pemerhati sepak bola yang kini lincah beraktivitas di jejaring Jakarta dan Makassar.

“Saya kosan sekarang, di Tebet.”

OK.

Membaca karya-karya Rusman selalu memberikan pengalaman emosional yang khas; ia punya keahlian mengolah potongan realitas menjadi narasi yang bernyawa dan hangat.

Setiap kali membaca kolom-kolomnya di Pelakita.ID maupun berbagai media publikasi lain, saya selalu menemukan setidaknya lima karakter khas yang membuat gaya kepenulisannya begitu hidup dan berjiwa.

Pertama, Rusman memiliki keterampilan alami dalam merajut data mentah atau lembar riwayat hidup (curriculum vitae) seseorang menjadi sebuah narasi kisah manusia yang hangat dan berdaya pikat.

Ketika mengulas sosok Taruna Ikrar, misalnya, ia tidak sekadar memajang rentetan gelar atau jabatannya sebagai Kepala BPOM. Rusman menjalin cerita mulai dari memori masa muda Taruna, percakapan bermakna dengan Jusuf Kalla, perjalanannya menuntut ilmu ke Amerika Serikat, hingga pencapaian akademik dan profesionalnya. Di tangan Rusman, data teknis berubah menjadi kisah inspiratif yang bernapas.

Kedua, menggunakan anekdot sebagai pintu masuk, Rusman jarang sekali membuka tulisannya dengan kalimat yang kaku atau kening berkerut.

Ia lebih suka memetik adegan kecil, percakapan informal, atau potongan kenangan ruang nongkrong untuk mengetuk pintu perhatian pembaca sebelum melangkah ke tema yang lebih besar.

Laporannya mengenai keberadaan BOSKA Coffee, misalnya, dibuka dengan ajakan yang sangat karib: “Yuk ngopi di Boska”. Dari tempat duduk kedai kopi itu, ia lalu merajut cerita tentang ruang perjumpaan dan kehangatan komunitas warga Makassar di tanah perantauan Jakarta.

Yang ketiga, lewat ulasan mengenai PSM Makassar, Rusman tidak sebatas menganalisis taktik atau pergerakan bola di lapangan hijau. Ia menghubungkan setiap kemenangan tim berjuluk Ayam Jantan dari Timur itu dengan ingatan kolektif para suporter serta penantian panjang warga selama 23 tahun.

Bahkan dalam artikelnya yang berbobot, Politisi Muda Sulsel dan Kesabaran, ia dengan jeli menggunakan analogi dinamika sepak bola untuk mengurai arti penting kesabaran dan kematangan dalam gelanggang politik.

Di mana pun ia berada, tulisan-tulisan Rusman tidak pernah kehilangan akar kultural Bugis-Makassar. Ia secara natural menyelipkan idiom lokal, kisah perantauan, dan memori kolektif warga. Hal ini terasa sangat menyentuh ketika ia mengenang almarhum Ande Abdul Latif dengan menyelipkan ungkapan khas Makassar: “Manna bella lampa’na pasti mottere ji”. Ungkapan sederhana ini menjadi kunci pembuka yang melapangkan jalan untuk merefleksikan ketokohan almarhum.

Saya beruntung, sebagai founder Pelakita.ID, Rusman royal berbagi tulisan probono ke, melalui platform Pelakita.ID, produktivitas Rusman seolah tak pernah kering. Spektrum tulisannya merentang luas mencakup olahraga, figur politik, kiprah alumni Unhas, tokoh akademik, ruang budaya, tempat nongkrong, hingga refleksi kebangsaan.

Konsistensi ini terus terjaga hingga kini, seperti yang terlihat dalam ulasan figur-figur terbarunya tentang Prof. Muhammad Ruslin dan dr. Idul Saputra, yang tetap mengusung pola penulisan khasnya: mengalir dari tokoh, pengalaman, percakapan, menuju pemaknaan nilai dan refleksi.

Kualitas dan ketajaman pena Rusman ini bukanlah klaim tanpa bukti. Rekam jejaknya sebagai penulis telah teruji secara konkret, salah satunya ketika ia berhasil menjuarai lomba penulisan opini tingkat nasional kategori wartawan melalui karyanya yang berkedalaman, Politisi Muda Sulsel dan Kesabaran.

Ilham Anwar (Puma): Dramawan Senior dan Pengolah La Galigo

Sosok kedua dalam perjumpaan malam itu adalah Ilham Anwar, seorang sahabat lama, aktor teater senior, dan dramawan yang akrab disapa Puma (Putra Maros) di balik nama Ilo-nya yang sangat Makassar – setelah ini namanya dituliskan Ilham saja.

Julukan Puma itu menempel erat karena ia melewatkan masa kanak-kanak dan remaja dari SD hingga SMP di tanah Marusu’, Maros, sebelum akhirnya melangkah ke Makassar dan menempuh pendidikan di SMAN 3 Makassar (Smantig)—sekolah yang secara emosional terasa dekat bagi saya karena merupakan almamater dari putri sulung saya, Marina.

Dalam peta ekosistem seni pertunjukan Makassar, nama Ilham Anwar berdiri sejajar dengan deretan maestro dan tokoh panggung kawakan seperti Yudhistira Sukatanya, Asia Ramli Prapanca, Hasyimi Ibrahim, Arman Dewarti, Luna Vidya, hingga Ancoe Ichsan Amar.

Perjalanan keseniannya tumbuh dan mengakar kuat bersama Sanggar Merah Putih Makassar, salah satu kawah candradimuka dan ruang regenerasi teater terpenting di Makassar yang berdenyut sejak tahun 1978.

Menyaksikan perjalanan kesenian Ilham Anwar adalah menyaksikan sebuah transformasi estetika yang matang.

Ilham tidak membatasi dirinya sekadar sebagai aktor olah tubuh dan vokal di atas pentas. Ia bertransformasi menjadi seorang penulis skenario dan pengarah pertunjukan (sutradara) yang berani dan telaten, terutama dalam mendedikasikan pikirannya untuk mengolah dan menggali kembali naskah-naskah sastra Bugis kuno.

Karya besar Ilham, “I La Galigo Asekku (I La Galigo Namaku)”, berhasil menghentak panggung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada Mei 2016 dalam rangka peringatan HUT ke-60 Universitas Hasanuddin—setelah sebelumnya sukses dipentaskan di Kuala Lumpur.

Lewat medium yang mereka tekuni masing-masing, kedua sahabat ini terus bekerja tanpa lelah—membawa pengalaman lokal, memori kultural, dan dinamika manusia Sulawesi Selatan ke hadapan publik pembaca dan penonton yang lebih luas. Sebuah sumbangsih kebudayaan yang sunyi namun sangat berharga, yang patut kita beri penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya.

Dalam pertunjukan megah tersebut, Ilham tidak hanya bertindak sebagai sutradara dan penulis skenario, tetapi juga turun langsung memerankan tokoh utama Sawerigading.

Penulis Yusran Darmawan memberikan kesaksian menarik mengenai pementasan ini.

Ia mencatat bagaimana Ilham Anwar tidak hanya berhasil menghadirkan karakter Sawerigading secara bernyawa di panggung, tetapi juga sukses menaklukkan tantangan artistik yang sangat rumit: menerjemahkan dan menjembatani naskah La Galigo yang penuh dengan kosakata Bugis lama (kosakata Bugis kuno) agar dapat dipahami, diresapi, dan dinikmati oleh penonton kontemporer tanpa kehilangan keagungan estetiknya.

Panggilan jiwa Ilham terhadap sastra klasik Bugis terus membara. Pada tahun 2025, dedikasinya kembali mewujud melalui pertunjukan Galigo – Nawanawanna Sawerigading yang dibawakan bersama Teater SATU SMAN 1 Makassar. Di sini, sang dramawan senior kembali memegang kendali penuh sebagai penulis skenario sekaligus pengarah pertunjukan, membimbing generasi muda menyelami akar kebudayaannya sendiri.

Menatap Ekosistem Kreatif: Sebuah Komparasi

Jika kita menyejajarkan kedua figur ini, kita dapat melihat bagaimana papan ketik dan panggung pertunjukan saling mengisi dalam merawat lanskap kebudayaan serta intelektual di Makassar.

Keduanya adalah dua sisi dari mata uang naratif yang sama. Berikut adalah gambaran ringkas bagaimana Rusman dan Ilham mengolah kreativitas mereka.  Rusman Madjulekka dan Ilham Anwar (Puma) mewakili dua jalur kreatif yang berbeda tetapi bertemu pada satu kekuatan yang sama: kemampuan mengolah pengalaman dan kekayaan lokal menjadi cerita yang hidup.

Rusman bergerak terutama melalui jurnalistik, kolom, dan feature writing, dengan kekuatan pada narasi tokoh, observasi sosial, anekdot, serta memori kolektif; ia mengubah realitas dan peristiwa sehari-hari menjadi tulisan yang humanis, reflektif, dan dekat dengan pembaca.

Sementara itu, Ilham Anwar (Puma) berakar pada teater, skenario, dan seni pertunjukan, dengan kekuatan pada olah tubuh, panggung, karakter, serta dramaturgi; ia mengolah tradisi sastra Bugis, terutama La Galigo, menjadi pertunjukan yang dapat dibaca dan dirasakan dalam konteks kontemporer.

Keduanya, sama-sama Fisip Unhas. Jika Rusman dari kelas Komunikasi, Ilham dari jalur Hubungan Internasional.

Dari sisi identitas, Rusman memiliki keterkaitan kuat dengan Universitas Hasanuddin sebagai alumni Komunikasi FISIP Unhas dan penulis yang aktif di ruang media, termasuk Pelakita.ID, sedangkan Ilham berakar pada lingkungan seni dan kebudayaan Makassar, khususnya sebagai putra Maros (Marusu’), alumni Smantig atau Smaga – sekolah asal Jusuf Kalla, dan bagian dari perjalanan Sanggar Merah Putih.

Dengan medium yang berbeda—Rusman melalui kata-kata dan Ilham melalui tubuh, panggung, serta karakter—keduanya memperlihatkan cara berbeda dalam merawat memori, identitas, dan pengalaman lokal agar tetap hidup di ruang publik.

Dua Aktor, Satu Benang Merah Storytelling

Jika dirangkai dalam satu garis simpul, Rusman Madjulekka dan Ilham Anwar sejatinya adalah dua “aktor” dalam panggung kehidupan sosial-budaya kita.

Ilham adalah aktor yang mewujudkan cerita di atas panggung tata cahaya, menggunakan gerak tubuh, vokal, dan karakter naskah untuk mengetuk kesadaran penonton. Sementara Rusman adalah aktor di balik papan ketik, yang menggunakan ketajaman observasi dan kehangatan kata-kata untuk menghidupkan ruang publik kita.

Benang merah yang menyatukan keduanya adalah peran mulia sebagai seorang storyteller (pencerita) yang ulung. Rusman mengolah realitas harian, kenangan perantauan, dan dinamika manusia menjadi lembaran kisah yang hangat dan humanis.

Pada satu sisi, Ilham merawat, menerjemahkan, dan menghembuskan napas baru pada keagungan tradisi sastra Bugis kuno ke dalam bahasa teater modern.

Lewat medium yang mereka tekuni masing-masing, kedua sahabat ini terus bekerja tanpa lelah—membawa pengalaman lokal, memori kultural, dan dinamika manusia Sulawesi Selatan ke hadapan publik pembaca dan penonton yang lebih luas. Sebuah sumbangsih kebudayaan yang sunyi namun sangat berharga, yang patut kita beri penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya.

___
Denun, Menteng, 30 September 2026