Komitmen Daeng Manye untuk Petani Takalar, Perjuangkan Tiga Kali Panen Setahun

  • Whatsapp

“Daeng Nuntung, ri Jakartaka anne. Lagi silaturahmi ke Kementerian Pertanian.”

JAKARTA — Penulis berkomunikasi dengan Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, dua hari lalu via whatsapp. Ada sejumlah hal disampaikan, salah satu yang menarik adalah misinya ke Kementerian Pertanian.

Di tengah sejumlah agenda kunjungannya ke Jakarta, Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye menyempatkan diri menemui sejumlah pihak untuk membicarakan kepentingan daerah. Salah satunya adalah pertemuan dengan jurnalis senior asal Makassar, Upi Asmaradhana, di sebuah kafe di Jakarta.

Bagi penulis, ada agenda lain yang menarik perhatian. Daeng Manye juga menyambangi Kantor Kementerian Pertanian, kementerian yang saat ini dipimpin Andi Amran Sulaiman.

Kunjungannya bukan sekadar agenda kelembagaan, melainkan membawa satu kepentingan yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat Takalar: memperjuangkan peningkatan produktivitas petani melalui peluang tiga kali panen dalam setahun.

Dalam komunikasi dengan penulis, Daeng Manye menjelaskan bahwa salah satu yang diperjuangkannya adalah dukungan program irigasi tersier berbasis pompa. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk memperluas areal pertanian yang dapat memperoleh layanan air secara lebih optimal, terutama pada lahan yang selama ini menghadapi keterbatasan pasokan air.

“Memperjuangkan petani Takalar di Kementerian Pertanian untuk program tiga kali panen setahun,” kata Daeng Manye.

Menurutnya, semakin banyak lokasi yang dapat ditanami atau dialiri melalui dukungan irigasi tersier pompa, semakin besar pula peluang peningkatan hasil pertanian. Program tersebut diharapkan dapat mendukung dua komoditas utama yang menjadi perhatian, yakni padi dan jagung.

Gagasan tiga kali panen bukan sekadar soal menambah frekuensi tanam. Di baliknya terdapat kepentingan yang lebih besar, yakni bagaimana memastikan lahan pertanian Takalar dapat dimanfaatkan secara lebih produktif, ketersediaan air menjadi lebih terjamin, dan peluang peningkatan pendapatan petani semakin terbuka.

Karena itu, bagi pemerintah daerah, dukungan terhadap infrastruktur pertanian menjadi bagian penting dari upaya mendorong produktivitas. Irigasi tersier pompa dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses air ke lahan sekaligus membuka peluang pengaturan pola tanam yang lebih intensif.

Dalam kunjungannya ke Kementerian Pertanian, Daeng Manye bertemu dengan Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Andi Nur Alamsyah, S.TP., M.T serta sejumlah direktur terkait. Pertemuan tersebut secara khusus membahas kebutuhan dan usulan Pemerintah Kabupaten Takalar untuk mendukung pengembangan pertanian daerah.

Ia menyebut respons Kementerian Pertanian terhadap usulan tersebut sangat baik. Bahkan, menurut Daeng Manye, usulan Pemerintah Kabupaten Takalar langsung ditindaklanjuti oleh kementerian.

“Alhamdulillah usulan Pemerintah Kabupaten Takalar disambut baik Kementerian Pertanian,” ujarnya.

Bagi Daeng Manye, respons tersebut menjadi kabar penting bagi petani Takalar. Sebab, peningkatan produktivitas pertanian membutuhkan dukungan lintas pemerintahan, terutama ketika pemerintah daerah berupaya memperluas cakupan layanan infrastruktur pertanian dan memastikan lahan produktif memperoleh dukungan yang memadai.

Takalar selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam produksi pangan di Sulawesi Selatan. Karena itu, agenda peningkatan produktivitas pertanian memiliki arti strategis, bukan hanya bagi petani dan ekonomi daerah, tetapi juga bagi penguatan ketahanan pangan.

Dalam konteks itu, perjuangan mendapatkan dukungan irigasi tersier pompa menjadi bagian dari komitmen Daeng Manye untuk membawa kebutuhan petani Takalar ke tingkat kementerian. Pemerintah daerah berupaya memastikan persoalan yang dihadapi di lapangan tidak berhenti sebagai agenda lokal, tetapi memperoleh dukungan kebijakan dan program dari pemerintah pusat.

Target tiga kali panen setahun tentu membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan air. Produktivitas juga berkaitan dengan pola tanam, sarana produksi, kualitas lahan, teknologi, pendampingan petani, hingga kepastian pasar. Namun, bagi daerah pertanian, air tetap menjadi salah satu fondasi penting yang menentukan kemungkinan intensifikasi pertanian.

Karena itu, semakin luas lahan yang dapat memperoleh layanan irigasi, semakin terbuka pula ruang bagi petani untuk meningkatkan indeks pertanaman. Pada titik inilah program irigasi tersier pompa menjadi penting dalam agenda pertanian Takalar.

Daeng Manye menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian atas respons terhadap usulan Pemerintah Kabupaten Takalar.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pertanian,” katanya.

Kunjungan ke Jakarta tersebut dengan demikian membawa pesan yang cukup jelas: agenda pembangunan Takalar tidak hanya dikerjakan dari kantor pemerintahan daerah, tetapi juga diperjuangkan melalui komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat.

Di balik pertemuan, dialog, dan pengajuan program, terdapat satu kepentingan yang ingin dibawa lebih jauh—bagaimana petani Takalar memperoleh dukungan agar lahan mereka semakin produktif, air semakin tersedia, dan peluang panen dapat ditingkatkan.

Tiga kali panen setahun menjadi salah satu target yang sedang diperjuangkan. Bagi Daeng Manye, semakin banyak lahan yang teraliri, semakin besar pula peluang Takalar meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan petaninya.

Tentang sosok yang ditemui Daeng Manye, Andi Nur Alam Syah, S.TP., M.T., merupakan pejabat pada Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, dengan pendidikan terakhir S2 Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung.

Dia mengawali karier sebagai Pegawai Negeri Sipil pada 2002 sebagai pelaksana di Balai Penelitian Pascapanen Pertanian Bogor, ia kemudian berkarier sebagai Peneliti Madya pada 2005–2011, sebelum mendapat tugas sebagai pejabat Eselon IV.a di Puslitbangbun pada 2013.

Pada 2016, ia dipercaya sebagai Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, kemudian menjabat Direktur Alat dan Mesin Pertanian pada 2018–2022. Selanjutnya, pada 2022–2024 ia dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan dan sejak 2024 diamanahkan sebagai Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.

Atas pengabdiannya, Andi Nur Alam Syah menerima Satyalancana Karya Satya X pada 2019 dan Satyalancana Wira Karya pada 2026 dari Republik Indonesia.

Penulis Denun