BULUKUMBA — Sebanyak 30 kader posyandu di wilayah kerja UPT Puskesmas Tanah Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, mengikuti pelatihan pendampingan pemberian makan anak yang digelar Universitas Hasanuddin, 25-26 Juli 2026.
Pelatihan yang berlangsung di bawah payung Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin (PPMU-PK-M) Tahun 2026 ini merupakan tindak lanjut dari sosialisasi dan diskusi kebutuhan yang sebelumnya dilakukan tim pengabdian bersama pihak UPT Puskesmas Tanah Toa.
Ketua tim pengabdian, Andi Imam Arundhana Thahir, S.Gz., MPH, Ph.D., dosen Departemen Ilmu Gizi sekaligus Ketua Obesity and Child Nutrition Research Group Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, memimpin kegiatan bersama dua anggota tim, Sabaria Manti, M.Sc., Ph.D., dan Muhammad Ikhsan, S.Gz.
Kepala UPT Puskesmas Tanah Toa, Ns. Haerani, S.Kep., M.Kes., yang membuka kegiatan tersebut, menyebut pelatihan ini memberi bekal baru bagi kadernya dalam menghadapi orang tua yang mengeluhkan anaknya susah makan.

“Kegiatan ini menjadi penyegaran bagi kader-kader kami. Yang lebih penting, mereka mendapat ilmu baru tentang bagaimana melakukan pendekatan berbasis masalah kepada orang tua, bukan sekadar menyampaikan penyuluhan,” ujarnya.
Tiga persoalan makan yang paling sering dikeluhkan ibu menjadi materi utama pelatihan, yakni anak yang tidak menghabiskan makanan utama, anak yang lebih memilih jajanan dibanding makanan utama, dan anak yang makan sambil terganggu gawai atau televisi. Seluruh media pelatihan, dari buku saku, kartu situasi bergambar, hingga skenario bermain peran, disusun berdasarkan tiga persoalan tersebut.
Kader diajarkan kerangka pendampingan empat langkah: bertanya, mendengarkan, memberi satu saran, dan menanyakan kembali hasilnya pada kunjungan berikutnya.
Andi Imam Arundhana menjelaskan, pendekatan ini sengaja dibuat sederhana agar kader tidak perlu memberi banyak nasihat sekaligus.
“Selama ini kader sering merasa harus tahu semua jawaban. Padahal yang paling dibutuhkan ibu adalah didengarkan lebih dulu. Satu saran yang benar-benar dikerjakan jauh lebih berguna daripada sepuluh nasihat yang hanya dicatat,” katanya.
Pelatihan berlangsung dua hari. Hari pertama diisi penyampaian materi, sedangkan hari kedua digunakan sepenuhnya untuk praktik bermain peran dengan kader bergantian memerankan pendamping dan ibu. Setiap peserta membawa pulang buku saku kader dan satu set kartu situasi yang dapat langsung dipakai di posyandu bulanan.
Haerani turut menyoroti jumlah peserta yang menurutnya masih jauh dari kebutuhan riil di lapangan.
“Sayang sekali kegiatan ini hanya menyasar 30 kader. Padahal kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan, dan kader kami jauh lebih banyak dari itu,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Andi Imam Arundhana mengatakan modul yang digunakan saat ini bukan versi final dan akan terus disempurnakan.
“Modul ini bukan versi final. Kami akan memperkayanya dengan konteks lokal masyarakat Kajang, menyempurnakannya, lalu mencoba menerapkannya di desa dan wilayah lain di Kabupaten Bulukumba,” katanya.
Program ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera (good health and well-being) dan SDG 2 Tanpa Kelaparan (zero hunger) tujuan kedua tentang pengentasan kelaparan dan gizi baik serta tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera, melalui penguatan praktik pemberian makan anak di tingkat rumah tangga.
Pelatihan ini merupakan bagian dari program pengabdian yang berjalan hingga akhir Agustus 2026. Ke depan, tim akan melanjutkan pendampingan untuk memastikan kader dapat menerapkan kerangka empat langkah tersebut secara mandiri di posyandu masing-masing.









