Oleh: Rustan Rewa
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Kabupaten Tolitoli
PELAKITA.ID – Ada pengalaman yang tidak bisa diukur hanya dengan jarak tempuh. Ia harus dirasakan melalui perjalanan, perjumpaan, dan percakapan dengan mereka yang hidup jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Itulah yang saya rasakan ketika menelusuri kawasan permukiman masyarakat Suku Lauje di Desa Bangkir, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Tolitoli.
Perjalanan menuju kampung ini menyuguhkan bentang alam yang luar biasa. Hutan alam yang masih lebat membentang di sepanjang jalur, menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna sekaligus penyangga kehidupan masyarakat.
Di sela rimbunnya pepohonan, tampak kebun-kebun sederhana yang menjadi sumber penghidupan warga. Di sinilah masyarakat Lauje membangun kehidupan, mengolah tanah, dan mempertahankan tradisi bertani yang telah diwariskan turun-temurun.
Masyarakat Lauje hidup berdampingan dengan alam. Pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi menjadi bagian dari identitas dan cara mereka menjaga keseimbangan dengan lingkungan.
Berbagai komoditas pangan dan perkebunan tumbuh di kawasan perbukitan yang menantang, dikerjakan dengan semangat gotong royong dan ketekunan yang patut diapresiasi.
Di balik keindahan alam tersebut, masih terdapat tantangan yang harus dihadapi bersama. Akses menuju kawasan permukiman masih terbatas, demikian pula infrastruktur dasar, layanan pendidikan, kesehatan, hingga pendampingan pertanian yang lebih intensif.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar pembangunan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian hutan yang menjadi penyangga kehidupan mereka.
Membangun kawasan seperti Desa Bangkir tentu memerlukan pendekatan yang berbeda.
Pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan jalan atau fasilitas fisik, tetapi juga harus memperkuat kapasitas masyarakat, meningkatkan produktivitas pertanian, membuka akses pasar, serta memastikan generasi muda memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik.
Semua itu perlu dilakukan dengan tetap menghormati kearifan lokal masyarakat Lauje yang selama ini menjaga harmoni dengan alam.
Perjalanan ini memberikan pelajaran berharga bahwa pembangunan sesungguhnya adalah menghadirkan negara hingga ke wilayah-wilayah yang paling jauh.
Ketika masyarakat di pelosok merasakan kehadiran pemerintah melalui pelayanan, pemberdayaan, dan perhatian yang nyata, maka cita-cita mewujudkan kesejahteraan yang merata akan semakin mendekati kenyataan.
Desa Bangkir dan masyarakat Suku Lauje mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak hanya dibangun dari pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga dari kampung-kampung di tengah hutan, tempat harapan tumbuh bersama ladang-ladang sederhana.
Di sanalah pembangunan menemukan makna yang sesungguhnya: menghadirkan keadilan, membuka peluang, dan memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam perjalanan menuju Indonesia yang lebih maju.
Tentang Suku Kaili-Lauje
Suku Kaili-Lauje merupakan salah satu komunitas adat di Sulawesi Tengah yang mendiami wilayah pegunungan dan pesisir, terutama di Kabupaten Parigi Moutong, Donggala, dan Tolitoli.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat Lauje juga telah menyebar ke berbagai daerah di Sulawesi hingga Kalimantan. Dalam tradisi lisan mereka, asal-usul Suku Lauje dikaitkan dengan kisah Sae Mandulang dan Yele Lumut yang memiliki tujuh anak, yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah dan menjadi cikal bakal komunitas Lauje di sejumlah daerah.
Kehidupan masyarakat Lauje sangat bergantung pada alam. Mata pencaharian utama mereka adalah berladang dengan menanam padi, jagung, kakao, cengkih, kelapa, serta berbagai tanaman pangan lainnya. Selain bertani, mereka juga memanfaatkan hasil hutan seperti rotan, damar, kemiri, dan berburu.
Meski mayoritas masyarakat Lauje kini memeluk agama Islam dan sebagian Kristen, mereka masih menghormati nilai-nilai adat dan kepercayaan leluhur, terutama yang berkaitan dengan penghormatan terhadap hutan, sumber air, dan keseimbangan alam.
Dalam kehidupan sosial, Suku Lauje tetap memegang teguh sistem adat yang mengatur hubungan antarmasyarakat, pengelolaan sumber daya alam, hingga penyelesaian sengketa melalui lembaga adat.
Salah satu tradisi yang masih dikenal adalah Moganoi, sebuah ritual meminta restu sebelum membuka lahan di hutan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam. Namun, masyarakat Lauje juga menghadapi berbagai tantangan, terutama akses pendidikan, infrastruktur, dan layanan publik, karena sebagian besar masih tinggal di kawasan pegunungan dan hutan yang relatif terpencil.
Hal ini menjadikan mereka salah satu komunitas adat yang membutuhkan perhatian dalam pembangunan yang inklusif sekaligus tetap menghormati kearifan lokal mereka.
__
Editor Denun









