Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Demi menghindari kemacetan di jalan utama, saya memilih melewati lorong-lorong kecil. Di salah satu ujung lorong, mata saya tertuju pada sebuah tulisan di pagar yang hampir roboh.
Catnya memang mulai memudar dimakan usia, tetapi pesannya tetap terbaca jelas, “Kalau ngantuk, tidur. Bukan ngopi.” Saya tersenyum karena kalimat sederhana itu menyimpan makna yang jauh lebih dalam.
Tulisan tersebut sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang kantuk atau secangkir kopi. Ia sedang mengajarkan cara memandang persoalan dengan memahami akar penyebabnya sebelum tergesa-gesa mencari jalan keluar.
Kantuk tidak selalu membutuhkan kopi. Ia membutuhkan tidur. Kopi mungkin mampu menunda rasa kantuk, tetapi tidak pernah menghilangkan kebutuhan tubuh untuk beristirahat secara cukup dan berkualitas.
Begitulah kita sering menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Kita terburu-buru mencari solusi, padahal yang diselesaikan hanyalah gejalanya, sementara penyebab utamanya tetap dibiarkan hidup dan berkembang.
Saya teringat pepatah lama, “Gatal di kaki, tangan yang digaruk.” Yang diobati bukan bagian yang sakit. Tidak mengherankan apabila rasa gatal tetap bertahan meskipun sudah berusaha mengatasinya.
Dalam dunia akademik, mahasiswa selalu diajarkan mendefinisikan masalah sebelum menyusun metodologi penelitian. Rumusan masalah yang keliru akan menggiring seluruh proses penelitian menuju kesimpulan yang juga keliru.
Metode secanggih apa pun tidak akan mampu memperbaiki kesalahan mendasar dalam merumuskan persoalan. Ketepatan jawaban selalu bergantung pada ketepatan memahami pertanyaan sejak awal.
Pelajaran tersebut sesungguhnya berlaku dalam keluarga, organisasi, pemerintahan, bahkan dalam membangun bangsa. Banyak kebijakan gagal bukan karena kurang anggaran, melainkan karena salah membaca akar persoalan.
Kita sering tergoda memberikan jawaban secara cepat sebelum benar-benar memahami apa yang sedang dihadapi. Akibatnya, persoalan tampak selesai di permukaan, tetapi terus berulang dalam bentuk berbeda.
Dalam tasawuf diajarkan bahwa setiap kegelisahan memiliki sumbernya sendiri. Hati yang resah tidak selalu membutuhkan hiburan, melainkan sering kali membutuhkan keheningan untuk kembali mengingat Allah.
Al-Qur’an mengingatkan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ketenangan sejati lahir ketika manusia mengenali akar kegelisahannya, bukan sekadar menutupinya dengan kesibukan.
Di era yang serba cepat, kita mudah tergoda mencari solusi instan untuk setiap persoalan. Padahal, kebijaksanaan selalu dimulai dari kesediaan berhenti, mengamati, mendengar, lalu memahami dengan jernih.
Tidak semua masalah membutuhkan percepatan. Sebagian justru memerlukan waktu untuk direnungkan agar akar persoalannya terlihat jelas, sehingga solusi yang diambil benar-benar menyelesaikan, bukan sekadar menenangkan.
Sore itu saya akhirnya tiba di rumah dengan tubuh yang mulai terasa lelah. Di dapur, aroma kopi tubruk begitu menggoda, seolah mengajak saya menikmati secangkir kehangatan.
Namun, saya memilih memejamkan mata. Tidur, bukan ngopi. Sebab, tubuh saya sedang meminta istirahat, bukan sekadar tambahan tenaga yang bersifat sementara.
Barangkali begitulah hidup mengajarkan kebijaksanaan. Setiap persoalan memiliki obatnya sendiri. Tugas kita bukan sekadar pandai mencari jawaban, melainkan jujur mengenali apa sesungguhnya yang sedang kita hadapi.
Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban.”









