PELAKITA.ID – Ada orang-orang yang ketika berpulang, kita sulit percaya kabar itu benar adanya. Begitulah saat kabar wafatnya H. Mustafa Kufung beredar di grup WhatsApp, Sabtu pagi 25 Juli 2026.
Berkali-kali saya membaca pesan putra Kak Mus di grup. Berharap itu hanya kabar yang keliru.
Ternyata tidak.
Kak Mus benar-benar pergi. Di atas sepeda yang begitu dicintainya. Saat sedang mengayuh di depan Mal Pipo dan jatuh tak sadarkan diri.
Saya mengenal Kak Mus sebagai sosok yang nyaris selalu tersenyum. Setiap bertemu di Graha Pena, ia lebih dulu menyapa. Hangat. Ramah.
Diselingi tawa khasnya yang membuat orang di sekitarnya ikut merasa ringan. Seperti tak pernah memikul beban hidup.
Perjalanan kariernya begitu panjang di Fajar Group.
Puluhan tahun mengabdi di Fajar, pernah dipercaya memimpin Radar Sulbar, kemudian Fajar Technos. Di balik lahirnya Fajar Online, ada tangan dingin Kak Mus yang bekerja senyap.
Dunia teknologi informasi memang menjadi keahliannya, jauh sebelum media digital berkembang seperti sekarang. Namun, jabatan tak pernah mengubahnya. Ia tetap Kak Mus yang sederhana.
Beberapa tahun terakhir, ia menemukan cinta baru: bersepeda. Bahkan ia pernah menggagas touring sejauh sekitar 540 kilometer dari Mamuju ke Makassar. Ia begitu menikmati setiap kayuhan. Rajin berolahraga. Nyaris tak pernah terdengar sakit.

Karena itu, kepergiannya di usia 59 tahun begitu mengejutkan. Yang membuat hati semakin sesak, seminggu sebelum berpulang, Kak Mus sempat bercerita kepada istrinya, Kak Indri, bahwa beberapa teman sepedanya meninggal karena henti jantung saat sedang bersepeda.
Tak ada yang menyangka, kalimat itu seakan menjadi firasat untuk dirinya sendiri. Kak Mus juga dikenal sebagai pribadi yang menjaga hubungannya dengan Allah. Puasa Senin-Kamis tak pernah putus. Salat berjamaah di masjid hampir tak pernah ditinggalkan.
Ia meninggalkan seorang istri dan dua putra yang menjadi kebanggaannya. Putra sulung sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Indonesia, sementara si bungsu telah menyelesaikan pendidikan di SMK dan mulai magang di Fajar Technos, mengikuti jejak sang ayah di
dunia teknologi.
Barangkali memang begitulah cara Allah memanggil hamba-Nya. Cepat. Tenang. Di tengah aktivitas yang dicintainya.
Selamat jalan, Kak Mus.
Terima kasih atas senyum, ketulusan, ilmu, dan jejak yang telah engkau tinggalkan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Penulis: Sunarti ‘Una’ SainĀ









