PELAKITA.ID – MAKASSAR — Upaya memperkuat daya saing industri rumput laut Indonesia tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi. Dibutuhkan pembenahan menyeluruh mulai dari kualitas bibit, tata kelola ruang laut, penerapan teknologi, hingga pengelolaan limbah berbasis ekonomi sirkular.
Pesan itulah yang mengemuka dalam diskusi laporan progres riset dan penyusunan policy brief Program PAIR (Partnership for Australia-Indonesia Research) yang mempertemukan para peneliti, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan mitra pembangunan.
Forum tersebut menjadi ruang untuk mengevaluasi capaian penelitian tahun pertama sekaligus menghimpun masukan dari berbagai impact partners agar hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi mampu menjadi dasar penyusunan kebijakan yang implementatif bagi pembangunan wilayah pesisir, khususnya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Para peserta sepakat bahwa riset harus menghasilkan dampak nyata (research impact), terutama dalam menjawab tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, kesejahteraan pembudidaya rumput laut, serta penguatan ekonomi sirkular di kawasan pesisir.
Menyusun Arah Penelitian Tahun Kedua
Diskusi diawali dengan penyampaian tujuan utama kegiatan, yakni memperoleh berbagai masukan untuk menyempurnakan policy brief sekaligus menyusun agenda penelitian pada tahun kedua (Research Planning Year 2).
Melalui forum ini, para peneliti berharap rekomendasi yang dihasilkan benar-benar relevan dengan kebutuhan pemerintah daerah, masyarakat, maupun sektor industri sehingga dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan.
Selain itu, forum juga menjadi sarana memperkuat kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara yang selama ini menjadi karakter utama Program PAIR.
Kolaborasi Indonesia-Australia untuk Rumput Laut Berkelanjutan
Salah satu sesi utama membahas tema “Advancing Sustainable Seaweed Farming through Circular Economy Principles in West and South Sulawesi.”
Penelitian ini dipimpin oleh Prof. Nita Rinasari dari Universitas Hasanuddin sebagai Principal Investigator bersama tim peneliti multidisiplin yang berasal dari Universitas Hasanuddin, Universitas Sulawesi Barat, Universitas Halu Oleo, Universitas Gadjah Mada, serta sejumlah praktisi lapangan.
Kolaborasi internasional juga melibatkan peneliti dari The University of Queensland (UQ), Australia, di antaranya Prof. Chin Ming Wang, Associate Professor Wen Hua, Dr. Fuen, Dr. Yunil Chu, serta Romsu Gao.
Riset tersebut merupakan bagian dari upaya mengembangkan sistem budidaya rumput laut yang lebih berkelanjutan melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular.
Potensi Besar, Namun Produksi Mengalami Stagnasi
Dalam pemaparan hasil penelitian disebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi lebih dari satu juta hektare lahan budidaya rumput laut. Namun hingga kini pemanfaatannya baru sekitar 20 persen.
Di sisi lain, produktivitas nasional menunjukkan kecenderungan stagnan bahkan menurun di sejumlah wilayah.
Peneliti mengidentifikasi beberapa penyebab utama, antara lain menurunnya kualitas bibit akibat propagasi vegetatif yang dilakukan berulang kali selama bertahun-tahun, serangan penyakit ice-ice, serta meningkatnya variabilitas iklim yang memengaruhi kondisi perairan.
Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa bibit hasil kultur jaringan ternyata tidak selalu berhasil tumbuh pada seluruh lokasi budidaya.
Beberapa galur yang diuji di wilayah Sulawesi Barat bahkan tidak mampu berkembang sama sekali.
Temuan tersebut menegaskan bahwa setiap varietas memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda terhadap lokasi maupun musim sehingga pengembangan bibit tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.
Tantangan Pengembangan Budidaya
Diskusi kemudian mengidentifikasi sejumlah persoalan mendasar yang masih menghambat pengembangan sektor rumput laut nasional.
Pertama, terjadinya degradasi genetik yang menyebabkan mutu bibit terus menurun.
Kedua, terbatasnya laboratorium kultur jaringan serta investasi di bidang bioteknologi.
Ketiga, belum adanya sistem sertifikasi bibit yang memiliki standar mutu dan dapat ditelusuri (traceable).
Keempat, masih terdapat kesenjangan antara hasil penelitian yang dihasilkan perguruan tinggi dengan praktik budidaya yang dilakukan para petani di lapangan.
Menurut para peneliti, tanpa pembenahan terhadap persoalan-persoalan tersebut, peningkatan produktivitas akan sulit dicapai secara berkelanjutan.
Rekomendasi Kebijakan
Sebagai tindak lanjut, tim peneliti menyusun sejumlah rekomendasi dalam bentuk policy brief.
Dalam jangka pendek, pemerintah didorong menyusun regulasi mengenai standar mutu bibit, mempercepat sistem sertifikasi, serta membangun hatchery percontohan yang mengintegrasikan teknologi kultur jaringan, seleksi massa, dan pemuliaan.
Untuk jangka menengah dan panjang, diperlukan pembangunan Seed Center regional, pembentukan bank plasma nutfah atau bank genetik, digitalisasi sistem traceability, serta peningkatan investasi pada riset genomik dan pemuliaan rumput laut.
Selain itu, pemberdayaan pembudidaya juga dinilai sangat penting melalui pelatihan berbasis teknologi, penyuluhan berkelanjutan, penetapan daya dukung lingkungan perairan, serta kepastian zonasi ruang laut agar kawasan budidaya tidak mudah beralih fungsi.
Teknologi Bawah Laut Hadapi Perubahan Iklim
Dalam sesi teknologi, tim dari University of Queensland memperkenalkan rancangan Submersible Seaweed Cultivation Structure, yakni sistem budidaya rumput laut bawah air yang dirancang menghadapi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.
Struktur tersebut berbentuk rak bundar atau oktagonal yang dilengkapi pemberat, pelampung, serta sistem katrol otomatis berbasis tenaga surya.
Saat terjadi badai atau gelombang tinggi, rak budidaya dapat diturunkan beberapa meter ke bawah permukaan laut sehingga tanaman terlindungi dari kerusakan. Ketika kondisi kembali normal, rak dapat dinaikkan kembali untuk memudahkan pemeliharaan dan panen.
Uji lapangan teknologi ini direncanakan berlangsung pada Oktober mendatang di perairan dengan kedalaman sekitar 15 meter.
Pelaksanaan uji coba melibatkan University of Queensland sebagai perancang teknologi, perusahaan D-Algae sebagai mitra fabrikasi dan pembiayaan, sementara Universitas Hasanuddin bertanggung jawab pada operasional budidaya mulai dari penanaman hingga panen.
Tata Ruang Laut Masih Menjadi Persoalan
Selain aspek budidaya, diskusi juga menyoroti persoalan tata ruang laut yang dinilai semakin kompleks.
Pengalaman di kawasan Puntondo, Kabupaten Takalar, maupun wilayah Jeneponto menunjukkan semakin meningkatnya konflik pemanfaatan ruang antara kawasan budidaya rumput laut dengan kepentingan industri, pariwisata, maupun jalur pelayaran.
Para peserta menilai perlunya penyusunan rincian tata ruang yang lebih terintegrasi agar memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan bagi kawasan budidaya masyarakat.
Kejelasan zonasi dinilai menjadi salah satu syarat utama bagi keberlanjutan investasi dan kepastian usaha para petani rumput laut.
Pengelolaan Limbah dan Inovasi Ulva
Pembahasan berikutnya mengangkat hasil riset mengenai pengelolaan limbah dalam kerangka ekonomi sirkular.
Penelitian yang dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan di Manado, Gorontalo, dan Luwu menunjukkan bahwa tantangan utama masih berkaitan dengan keterbatasan infrastruktur dan jauhnya akses pengelolaan limbah.
Sebagian besar praktik pembakaran sampah yang dilakukan masyarakat ternyata merupakan limbah nonmedis.
Karena itu, tim peneliti merekomendasikan pemanfaatan energi terbarukan berbasis off-grid atau tenaga surya untuk mendukung sistem pengelolaan limbah di wilayah terpencil.
Sementara itu, inovasi lain yang mendapat perhatian adalah pemanfaatan Ulva, rumput laut hijau yang selama ini lebih banyak dianggap sebagai gulma.
Melalui proses ekstraksi sederhana tanpa menghasilkan limbah (zero waste), Ulva dapat diolah menjadi bahan baku bioplastik, pelapis makanan (food coating), hingga biostimulan untuk sektor pertanian.
Teknologi tersebut bahkan telah diperkenalkan kepada masyarakat melalui pelatihan awal di Desa Punaga, Kabupaten Takalar, dan Desa Tadui, Kabupaten Mamuju.
Dunia Usaha Ingatkan Pentingnya Orientasi Pasar
Pada sesi tanggapan, pelaku usaha mengingatkan bahwa arah penelitian harus tetap mempertimbangkan kebutuhan pasar internasional.
Pengembangan bibit unggul maupun inovasi produk baru perlu disertai kajian pasar agar tidak menimbulkan persoalan baru terkait ketertelusuran produk maupun standar keberlanjutan yang semakin ketat diterapkan pembeli global.
Menurut mereka, tantangan yang lebih mendesak saat ini justru terletak pada penguatan infrastruktur pascapanen, akses pembiayaan petani, penyederhanaan regulasi seperti KKPRL/PKPRL, serta mitigasi peningkatan suhu laut yang memicu munculnya penyakit ice-ice.
Pemerintah Daerah Minta Hasil Riset Segera Menjadi Kebijakan
Perwakilan pemerintah daerah, termasuk Dinas Perikanan Kabupaten Takalar dan Dinas Kelautan dan Perikanan, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi riset tersebut.
Mereka berharap hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, melainkan segera dirumuskan menjadi policy brief resmi yang dapat disampaikan kepada kepala daerah sebagai bahan penyusunan kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan.
Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas antara akademisi, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor rumput laut yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat pesisir di Sulawesi.
Kronologi Kegiatan
1. Pembukaan forum
- Pemaparan tujuan diskusi untuk memperoleh masukan dari impact partners serta menyempurnakan policy brief dan agenda riset tahun kedua.
2. Presentasi hasil riset budidaya rumput laut
- Tim Universitas Hasanuddin dan University of Queensland memaparkan hasil penelitian mengenai kualitas bibit, tantangan produksi, dan penerapan ekonomi sirkular.
3. Penyampaian rekomendasi kebijakan
- Peneliti menawarkan strategi penguatan sistem perbibitan, pembangunan Seed Center, bank genetik, sistem traceability, serta penguatan kapasitas pembudidaya.
4. Presentasi inovasi teknologi
- University of Queensland memperkenalkan desain Submersible Seaweed Cultivation Structure sebagai solusi menghadapi perubahan iklim.
5. Diskusi tata ruang dan ekonomi sirkular
- Peserta membahas konflik pemanfaatan ruang laut, pengelolaan limbah kawasan pesisir, serta inovasi pemanfaatan Ulva menjadi produk bernilai tambah.
6. Masukan dari stakeholder
- Pelaku usaha menekankan pentingnya orientasi pasar dan kesiapan infrastruktur, sementara pemerintah daerah mendorong percepatan transformasi hasil riset menjadi kebijakan publik.
Melalui diskusi tersebut, Program PAIR menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat tidak hanya menghasilkan temuan ilmiah, tetapi juga membangun fondasi kebijakan yang lebih kuat bagi pengembangan ekonomi sirkular dan keberlanjutan industri rumput laut Indonesia.









