TOLITOLI — Kebahagiaan terpancar dari wajah Pak Lage, seorang petani asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, yang telah lama menggarap sawah di Kabupaten Tolitoli. Dalam waktu dekat, pria kelahiran Batu-Batu, Soppeng, tahun 1957 itu akan menunaikan ibadah haji bersama sang istri.
Kabar bahagia tersebut disampaikan saat Pak Lage berkunjung menemui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Tolitoli, Rustan Rewa.
Pertemuan berlangsung hangat, diwarnai nostalgia perjalanan panjang mereka sebagai sesama perantau asal Sulawesi Selatan yang telah lama berjuang di sektor pertanian. Pertemuan ini bahkan disertai dengan rekaman video perbincangan.
Rustan memperkenalkan Pak Lage sebagai sahabat seperjuangannya yang sejak dahulu menekuni dunia pertanian di Tolitoli.
“Ini sahabat saya, Pak Lage. Kami sudah lama berjuang bersama. Beliau lahir di Batu-Batu, Kabupaten Soppeng, pada tahun 1957,” ujar Rustan.
Menurutnya, sejak dulu mereka memiliki harapan yang sama, yakni bekerja keras di sawah sembari menanam niat untuk suatu hari dapat menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
Petani berusia sekitar 69 tahun itu telah lama menetap di Desa Lalos, Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli.
Sehari-hari ia mengelola lahan persawahan seluas kurang lebih dua hektare yang menjadi sumber penghidupan keluarganya sekaligus menjadi saksi perjalanan panjangnya sebagai perantau asal Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.
Rustan mengaku telah mengenal Pak Lage sejak tahun 1996.
Persahabatan mereka terjalin selama hampir tiga dekade dan tumbuh melalui aktivitas bertani serta kehidupan sebagai sesama perantau di Tolitoli.
Bagi Rustan, Pak Lage adalah sosok pekerja keras yang tekun mengelola sawah dan tidak pernah meninggalkan cita-citanya untuk dapat menunaikan ibadah ke Tanah Suci bersama sang istri.
Rustan mengatakan keberangkatan Pak Lage menjadi bukti bahwa kesempatan berhaji bukan semata-mata ditentukan oleh jabatan ataupun kekayaan, melainkan panggilan dari Allah SWT.
“Saya selalu bilang, tidak pernah ada jaminan bahwa pejabat yang dipanggil ke Tanah Suci atau orang kaya yang pasti berangkat. Yang dipanggil adalah mereka yang Allah kehendaki,” katanya.
Ia mengaku bersyukur karena sahabatnya itu kini telah menyelesaikan berbagai persiapan administrasi untuk berangkat bersama istrinya.
Di sela pertemuan, Rustan juga berpesan agar Pak Lage tetap menuntaskan urusan pengelolaan sawah sebelum keberangkatan sehingga ibadah dapat dijalani dengan tenang.
“Kami masih sama-sama mengurus persiapan sawah. Saya bilang, urus dulu semuanya dengan baik. Semoga Allah memudahkan seluruh proses keberangkatannya,” ujarnya.
Rustan pun mengajak masyarakat mendoakan agar Pak Lage dan istrinya diberikan kesehatan, kelancaran, serta menjadi haji yang mabrur.
Kisah Pak Lage menjadi potret sederhana tentang buah dari kerja keras, kesabaran, dan keteguhan niat.
Bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai petani di tanah rantau, ia kini bersiap memenuhi panggilan suci ke Baitullah bersama pasangan hidupnya, membawa harapan dan doa yang telah lama dipupuk di tengah hamparan sawah Tolitoli.









