PELAKITA.ID – Alumni Sekolah Politik Perempuan Maupe, SPPM Maros, St. Nur Aswa Riski Wahyuni membagikan hasil perenungan, pembacaan dan bayangan tentang Indonesia. Negara yang saat ini sedang bersiap merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaannya. Mari simak dan baca.
Dirgahayu, sang pemilik khatulistiwa.
Lantunan lagu kemerdekaan bergema di seluruh penjuru,
bagai aksara yang mengalun syahdu,
dari Sumatra hingga Papua,
mengantar haru yang tak kunjung usai.Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
dilafalkan hingga menggema ke langit biru.Merdeka…
Merdeka…
Merdeka…Namun,
apa yang sesungguhnya telah merdeka?Berapa nilai darmabakti para pejuang,
ketika para petinggi negeri
masih sibuk menghitung lembar demi lembar uang?Sudah lunaskah darah,
peluh,
dan nyawa
yang dipersembahkan demi keadilan?Mengapa batin Ibu Pertiwi
justru terluka,
disayat oleh riuhnya pelecehan
atas cita-cita kemerdekaan?Negara Kesatuan
terasa kian rapuh,
bagai bangunan yang retak
oleh tangan-tangan yang seharusnya menjaga.Mereka yang bersemayam di singgasana mewah,
bukannya melindungi,
justru menjelma bayang-bayang penjajah.Entah takhta apa yang diperebutkan,
hingga rakyat perlahan kembali
menjadi hamba di tanahnya sendiri.Dirgahayu, Indonesiaku.
Dirgahayu, sang pemilik khatulistiwa.
Dirgahayu, sang pemersatu dalam Bhinneka Tunggal Ika.Maafkan riang yang terasa semu.
Maafkan doa-doa
yang sebagian mulai kehilangan harap.Jaya dan sejahteramu
tak lagi mudah dibayangkan
dalam ketulusan yang utuh.Sebab dirgahayumu
sering terasa dipaksa menjadi pesta,
sementara penegakan
lima sila Pancasila
kian memudar dalam kenyataan.Namun,
di balik segala luka,
aku masih menyebut namamu
dengan cinta.Dirgahayu, Indonesiaku.
___
Maros, 1 Agustus 2026









