Mustamin Raga: Negara Modern Dibangun Lewat Persepsi, Bukan Sekadar Fakta

  • Whatsapp
Ilustrasi bedah buku Negara dalam Kemasan (ilustrasi oleh Pelakita.ID)

Salah satu contoh yang disampaikan Mustamin adalah fenomena pseudo event atau peristiwa semu. Ia menggambarkan praktik pemasangan spanduk penolakan terhadap seorang pejabat yang sengaja dipasang hanya beberapa menit untuk difoto, kemudian disebarluaskan melalui media sosial.

PELAKITA.ID – GOWA – Penulis Negara dalam Kemasan, Mustamin Raga, mengajak masyarakat memahami bagaimana persepsi publik dibentuk melalui proses komunikasi, media, dan pencitraan dalam bedah buku yang digelar di Aula Perpustakaan Daerah Gowa, Jumat (31/7/2026).

Dalam pemaparannya, Mustamin menjelaskan bahwa buku tersebut berangkat dari kegelisahannya melihat semakin kuatnya peran citra dalam membentuk cara masyarakat memandang realitas.

Menurutnya, era komunikasi digital telah menggeser banyak hal sehingga publik sering kali berhadapan dengan “kemasan” sebelum menemukan fakta yang sesungguhnya.

Ia membuka penjelasannya dengan ilustrasi sederhana mengenai proses terbentuknya persepsi.

Menurut Mustamin, setiap orang yang melihat objek yang sama belum tentu menghasilkan penilaian yang sama karena informasi yang diterima terlebih dahulu diproses melalui perhatian, pengalaman, pengetahuan, serta memori yang dimiliki masing-masing individu.

Dari proses itu lahirlah persepsi, kemudian berkembang menjadi interpretasi, hingga akhirnya membentuk keyakinan.

“Brand bukan sekadar logo. Brand adalah keyakinan yang terbentuk melalui proses persepsi,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa konsep brand pada mulanya hanya digunakan sebagai penanda kepemilikan suatu produk. Namun, perkembangan ilmu komunikasi membuat konsep tersebut meluas hingga memasuki dunia politik, pemerintahan, bahkan kehidupan sosial. Tokoh politik, menurutnya, kini diperlakukan layaknya sebuah produk yang harus dikemas agar menarik perhatian publik.

Melalui buku Negara dalam Kemasan, Mustamin menguraikan bagaimana strategi komunikasi bekerja dalam membangun citra, baik terhadap produk maupun figur politik. Baginya, yang diperebutkan dalam politik modern bukan hanya suara masyarakat, melainkan juga persepsi masyarakat terhadap seorang pemimpin.

Dalam paparannya, Mustamin juga mengulas perubahan lanskap media di Indonesia. Ia menyinggung masa Orde Baru ketika informasi didominasi oleh media pemerintah sehingga ruang publik hanya menerima satu sudut pandang.

Situasi tersebut, menurutnya, memungkinkan negara membangun citra secara lebih mudah melalui berbagai teori komunikasi seperti framing, agenda setting, hingga pengelolaan persepsi.

Revolusi media dan hadirnya televisi swasta serta media sosial mengubah kondisi tersebut.

Ilustrasi kegiatan

Publik kini memiliki banyak sumber informasi sehingga narasi tunggal tidak lagi mudah dipertahankan. Meski demikian, tantangan baru justru muncul dalam bentuk manipulasi informasi yang lebih halus dan cepat menyebar.

Salah satu contoh yang disampaikan Mustamin adalah fenomena pseudo event atau peristiwa semu. Ia menggambarkan praktik pemasangan spanduk penolakan terhadap seorang pejabat yang sengaja dipasang hanya beberapa menit untuk difoto, kemudian disebarluaskan melalui media sosial.

Menurutnya, tujuan utama tindakan tersebut bukan agar masyarakat sekitar membaca spanduk tersebut, melainkan agar foto itu menjadi viral dan membentuk persepsi bahwa penolakan benar-benar terjadi secara luas.

“Media hari ini tidak hanya memberitakan peristiwa, tetapi juga dapat menciptakan peristiwa,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa praktik semacam itu berpotensi menyesatkan masyarakat, terutama mereka yang memiliki literasi media rendah. Sebab, sebuah peristiwa yang berlangsung hanya beberapa menit dapat terus beredar di ruang digital selama berhari-hari dan dipercaya sebagai kenyataan.

Selain pseudo event, Mustamin juga menguraikan teori agenda setting, yaitu strategi mengalihkan perhatian publik dari suatu isu menuju isu lain yang lebih menarik perhatian. Ia menilai teori tersebut telah lama digunakan dalam praktik komunikasi politik untuk mengendalikan fokus masyarakat.

Ia juga menyinggung konsep confirmation bias, yakni kecenderungan seseorang hanya mencari dan mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya, sekaligus menolak informasi yang bertentangan. Menurutnya, kondisi ini semakin diperkuat oleh media sosial yang memungkinkan seseorang hanya mengonsumsi informasi dari kelompok yang sependapat dengannya.

Karena itu, Mustamin menegaskan bahwa tujuan utama penulisan Negara dalam Kemasan bukan semata-mata membahas strategi membangun citra, melainkan mengedukasi masyarakat agar mampu membaca realitas secara lebih kritis.

“Buku ini ingin menyadarkan pembaca bahwa sekarang hampir semua hal dikemas. Citra itu penting, tetapi jangan sampai citra menutupi fakta,” katanya.

Ia mengibaratkan citra seperti awan yang menutupi matahari. Selama tidak terlalu tebal, citra masih dapat membantu orang memahami suatu objek. Namun, apabila citra terlalu dominan, masyarakat justru kehilangan kemampuan melihat kenyataan yang sebenarnya.

Dalam konteks politik elektoral, Mustamin menyebut persepsi publik menjadi faktor yang sangat menentukan. Seorang politisi harus mampu membangun kepercayaan masyarakat, tetapi pada saat yang sama masyarakat juga perlu memiliki kemampuan literasi agar tidak mudah terjebak dalam pencitraan.

Ia bahkan menyebut politikus pada era modern telah menjadi sebuah “komoditas” yang dipasarkan kepada publik. Karena itu, proses membangun personal branding menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kontestasi politik.

Menutup paparannya, Mustamin menekankan bahwa pendidikan literasi media merupakan kebutuhan mendesak di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat harus dibekali kemampuan memahami bagaimana persepsi dibentuk agar tidak mudah terpengaruh oleh pencitraan, propaganda, maupun manipulasi informasi yang beredar di ruang publik.

“Buku ini saya tulis agar pembaca memahami cara kerja komunikasi, filsafat, dan kekuasaan dalam membentuk persepsi. Harapannya, masyarakat tidak mudah tertipu oleh kemasan dan mampu melihat substansi di balik setiap informasi,” tutupnya.