PELAKITA.ID – Sudah lama saya ingin menulis tentang foto lama ini. Foto yang kembali beredar di sebuah grup kelautan Unhas, mungkin bagi sebagian orang hanyalah dokumentasi biasa.
Lima orang berdiri berdampingan, tersenyum ke kamera, seolah tidak ada yang istimewa. Bagi saya, foto ini menyimpan sesuatu yang lebih panjang: perjalanan manusia, pengetahuan, jaringan, pilihan profesi, dan tentu saja laut yang mempertemukan banyak jalan kehidupan.
Dari kiri ke kanan, ada Mahatma Lanuru, Lukijanto, M. Zulficar Mochtar, Rony Megawanto, dan Muhammad Syakir. Saya mengenal semuanya. Ya, iyyalah. Bagaimana tidak? Kami satu almamater, berasal dari ruang akademik yang sama, pernah tumbuh dalam atmosfer Kampus Merah, dan kemudian masing-masing menempuh jalan yang berbeda setelah meninggalkan kampus.
Mahatma Lanuru adalah yang pertama dari kiri. Kami seangkatan, 1989. Setelah menyelesaikan pendidikan tinggi dan memperluas pengalaman akademiknya di Jerman, perjalanan waktu membawanya kembali ke kampus dalam posisi yang jauh berbeda. Kini ia menjadi Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas. Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan seperti ini: kampus yang dahulu menjadi ruang belajar, bertahun-tahun kemudian berubah menjadi ruang pengabdian, kepemimpinan, dan reproduksi pengetahuan.
Di sampingnya berdiri Lukijanto. Ia termasuk orang yang perjalanan profesionalnya sulit diringkas dalam satu jabatan. Ia pernah malang melintang di BPPT, kemudian berada dalam orbit kebijakan kemaritiman, termasuk di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.
Kini ia bekerja sebagai Sekretaris Ditjen di Kementerian Koordinator Infrastruktur, dalam lingkungan pemerintahan yang dipimpin Menteri AHY. Jalurnya memperlihatkan bagaimana pengetahuan teknis dapat bergerak ke ruang kebijakan, tempat gagasan harus berhadapan dengan struktur negara, koordinasi antarlembaga, kepentingan pembangunan, dan tuntutan pelayanan publik.
Di tengah adalah M. Zulficar Mochtar. Nama ini juga memiliki jejak panjang dalam dunia kelautan dan perikanan Indonesia. Alumni angkatan 1990 ITK Unhas ini pernah menjadi Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch Indonesia, sebelum kemudian menempati sejumlah posisi strategis di Kementerian Kelautan dan Perikanan, termasuk sebagai Direktur Jenderal Perikanan Tangkap dan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP. Perjalanannya memperlihatkan satu hal penting: pengetahuan tentang laut tidak berhenti di ruang kelas atau laboratorium, tetapi dapat masuk ke jantung pengambilan keputusan negara.
Rony Megawanto berdiri setelah Zulficar. Ia juga alumni 1990. Jalannya mungkin berbeda dari dua orang sebelumnya, tetapi justru karena itulah menarik untuk dibaca.
Ia pernah wara-wiri sebagai karyawan perusahaan rokok, kemudian masuk ke dunia aktivisme lembaga swadaya masyarakat. Ia melanjutkan studi ekonomi lingkungan di Belanda, sebelum akhirnya berkiprah di Yayasan Kehati. Kini ia dipercaya sebagai Direktur Program, membawa pengalaman panjangnya ke dalam kerja-kerja konservasi dan pengelolaan lingkungan. Dari dunia korporasi, LSM, pendidikan lingkungan hingga lembaga konservasi, perjalanan Rony menunjukkan bahwa karier sering kali bukan garis lurus.
Yang paling muda adalah Muhammad Syakir, alumni 1994. Kini ia bekerja di salah satu anak perusahaan Pertamina atau mitra usaha di lingkungan bisnis tersebut. Sebelumnya ia pernah terlibat dalam proyek The Nature Conservancy. Syakir juga dikenal sebagai penyelam tangguh. Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang lebih penting dari kemampuan menyelam itu sendiri: kesetiaannya pada gagasan tentang keseimbangan sosial, ekonomi, dan ekologi.
Lima orang dalam satu bingkai. Lima perjalanan yang berbeda. Ada kampus, birokrasi, kebijakan publik, organisasi masyarakat sipil, konservasi, korporasi, riset, pendidikan, dan pengalaman internasional. Ada Jerman, Belanda, lembaga negara, organisasi lingkungan, perusahaan, dan tentu saja Unhas sebagai salah satu titik awal perjalanan mereka.
Foto ini menjadi menarik justru karena kita bisa membaca waktu melalui orang-orang di dalamnya. Mereka bukan lagi mahasiswa yang sedang mengejar nilai atau menyelesaikan tugas akhir. Mereka telah menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan dan praktik kelautan Indonesia, masing-masing dengan arena, bahasa, dan tanggung jawab yang berbeda.
Mungkin di sinilah makna sebuah almamater menemukan bentuknya yang paling sederhana. Almamater bukan sekadar kesamaan nama universitas di belakang nama seseorang. Ia adalah jaringan ingatan yang terus bekerja, bahkan ketika para alumninya telah berjalan sangat jauh dari kampus.
Kampus mempertemukan mereka pada suatu masa. Laut, pengetahuan dan profesi kemudian membawa mereka ke banyak tempat.
Ada yang masuk ke pemerintahan dan mengurus kebijakan. Ada yang bekerja di lembaga riset dan teknologi. Ada yang bergerak di konservasi. Ada yang berada di dunia usaha. Ada yang kembali ke kampus dan memimpin fakultas. Jalurnya berbeda, tetapi terdapat satu benang merah yang sulit disangkal: laut menjadi ruang pengetahuan sekaligus ruang pengabdian.
Saya membayangkan foto lama seperti ini sebagai sebuah peta kecil tentang bagaimana sebuah komunitas akademik berkembang. Orang-orang yang dahulu duduk di bangku kuliah kemudian menyebar ke berbagai institusi.
Mereka membawa pengetahuan, pertemanan, cara berpikir, bahkan mungkin juga kebiasaan berdiskusi dari Kampus Merah ke ruang-ruang yang jauh lebih luas.
Dalam konteks kelautan Indonesia, jejaring semacam ini penting. Laut tidak pernah mengenal batas-batas institusi. Persoalan nelayan bersentuhan dengan kebijakan negara.
Konservasi berhadapan dengan ekonomi. Perikanan bertemu industri. Teknologi bertemu masyarakat. Pendidikan bertemu kebutuhan pembangunan. Karena itu, mereka yang bekerja di dalamnya juga membutuhkan jejaring lintas sektor dan lintas generasi.
Foto ini, bagi saya, adalah pengingat tentang itu.
Saya juga melihat sesuatu yang lebih personal. Kami semua pernah menjadi bagian dari generasi yang belajar memahami laut dengan cara masing-masing. Ada masa ketika istilah blue economy, sustainability, marine governance, social-ecological system, atau nature-based solution belum menjadi kosakata sehari-hari seperti sekarang. Tetapi persoalan dasarnya telah lama ada: bagaimana manusia memanfaatkan laut tanpa kehilangan masa depan laut itu sendiri.
Kini, masing-masing membawa jawabannya sendiri.
Mahatma membawanya ke kampus dan dunia pendidikan. Lukijanto membawanya ke birokrasi dan kebijakan. Zulficar membawanya ke perikanan tangkap dan tata kelola negara. Rony membawanya ke konservasi dan masyarakat sipil. Syakir membawanya ke dunia usaha, pengalaman lapangan, penyelaman, dan ruang perjumpaan antara kepentingan ekonomi dan ekologi.
Tidak ada satu jalan tunggal untuk mencintai laut.
Ada yang menjaganya melalui kebijakan. Ada yang mengajarkannya di kampus. Ada yang memperjuangkan masyarakat pesisir. Ada yang bekerja di lapangan konservasi. Ada pula yang mencoba membawa prinsip keberlanjutan ke dalam dunia usaha.
Saya kira, karena itu foto lama ini terasa penting. Bukan karena siapa yang paling tinggi jabatannya, paling luas pengalamannya, atau paling jauh perjalanan akademiknya. Justru karena kelimanya memperlihatkan bahwa pengetahuan memiliki perjalanan hidup setelah seseorang meninggalkan kampus.
Saya membaca makna foto ini: lima orang, satu almamater, banyak jalan, tetapi laut yang sama.
Waktu boleh membawa kami ke institusi berbeda. Jabatan boleh berganti. Kota tempat bekerja boleh berubah. Rambut mungkin semakin putih. Tetapi ingatan tentang Kampus Merah, tentang laut, tentang teman-teman seperjalanan, dan tentang cita-cita yang pernah dibicarakan ketika masih muda, agaknya tidak mudah hilang.
Foto lama itu akhirnya bukan hanya foto. Ia adalah arsip kecil tentang sebuah generasi. Tentang orang-orang yang pernah belajar dari laut, kemudian memilih mengabdikan sebagian hidupnya untuk mengurus berbagai persoalan yang datang bersama laut.
Suatu hari nanti, foto seperti ini akan dibaca kembali oleh generasi berikutnya sebagai pengingat sederhana bahwa perjalanan kelautan Indonesia juga dibangun oleh jejaring manusia—oleh mereka yang belajar, merantau, kembali, bekerja, berdebat, berjuang, dan terus menjaga hubungan dengan laut dalam caranya masing-masing.
___
Penulis Denun
Tugu Tani, 3 September 2026









