Mohammad Suaib Mappasila, ‘Network Builder’ dari Kampus Merah yang Mencatat Indonesia

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Pelakita.ID
  • Dalam organisasi, ia ikut membangun kultur IKAFE yang menekankan keswadayaan, networking, lintas generasi dan aktivitas alumni. Dalam pengetahuan, ia mengubah pengamatan terhadap persoalan publik menjadi tulisan, kolom dan buku. Dalam jejaring, ia bergerak di antara alumni, konsultan, parlemen, penegakan hukum, media, organisasi masyarakat dan anak muda kreatif.
  • Ia membangun karier bukan melalui satu garis jabatan yang lurus, melainkan melalui kemampuan berpindah dan menghubungkan banyak ruang. Dari Senat Mahasiswa Ekonomi Unhas ke dunia organisasi, dari masyarakat sipil ke konsultansi, dari dunia profesional menuju parlemen, dari parlemen ke penulisan, dari alumni menuju jejaring internasional, lalu dari buku menuju sebuah rumah bagi gagasan.

PELAKITA.ID – Saya bergegas meninggalkan Hotel Aryaduta semata untuk mewawancarai Mohammad Suaib Mappasila, sosok Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, IKAFE Unhas.

Namanya direkomendasikan sejumlah senior Unhas untuk diwawancarai dan dituliskan sepak terjangnya sebagai ‘penghubung pengalaman dan pengetahuan’, bukan hanya untuk alumni Unhas, tetapi juga alumni kampus-kampus ternama di Indonesia.

“Saya ada waktu sebelum jam tiga, setelah itu bergeser,” kata dia kepada penulis yang saat itu berjarak sekitar sepuluh kilometer.

Saya berada di sekitar Tugu Tani, sementara dia bersama beberapa koleganya sedang makan siang di Plaza Senayan. Jakarta seperti biasa sedang bergerak cepat, dengan kendaraan yang bertumpuk, orang-orang berpindah dari satu janji ke janji lain, sementara waktu terasa lebih pendek daripada jarak.

Saya bergegas order Gocar, sempat waswas sebab pukul dua siang, saya baru lepas Cut Meutia Menteng.

Pendek cerita, saya sampai di Plaza Senayan. Saya bergegas ke gate utama.

Setelah memasuki pintu utama, saya berbelok ke arah selatan, dari salah satu cafe, Suaib berdiri dan memberi pelukan. Dia nampak segar, bercahaya.

“Sehat-sehatjaki cika?” kataku sembari melihat dan menyalami tiga orng yang semeja dengannya.

Bagi penulis, ada sesuatu yang terasa simbolik dari pertemuan semacam itu: seorang penulis mengejar seorang narasumber di tengah padatnya Jakarta, sementara narasumber sendiri menyelipkan sebuah percakapan di antara makan siang dan agenda berikutnya.

Dalam kota yang hidup dari pertemuan, perpindahan, dan koneksi, mungkin begitulah sebuah jejaring bekerja—tidak selalu melalui ruang resmi, tetapi melalui kesediaan untuk bertemu.

“Nikmati-maki, saya ngobrol sama teman dulu nah,” kata dia saat saya mereguk segelas jus terong belanda, seporsi kentang goreng dan cemilan lainnya.

Bagi saya, Suaib Mappasila bukan nama yang setiap hari muncul di halaman depan surat kabar, meski ia kolomnis Kompas yang selalu dinantikan kabar pembacaannya untuk kondisi kontemporer Indonesia.

Ia tidak menduduki jabatan politik elektif, bukan pula figur yang selalu tampil di panggung utama ketika kebijakan negara diumumkan.

Di balik sejumlah ruang tempat kebijakan, organisasi, alumni, konsultansi, media dan gagasan publik bertemu, namanya berulang kali muncul sebagai bagian dari ekosistem yang menghubungkan orang dan institusi.

Tentang Suaib

Mohammad atau Moh. Suaib Mappasila adalah putra Jeneponto, Sulawesi Selatan, yang kemudian membangun sebagian besar perjalanan profesionalnya di Jakarta.

Ia menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan di Fakultas Ekonomi Unhas pada 1997, sebelum melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Universitas Sangga Buana YPKP Bandung dan menyelesaikannya pada 2012. Latar ekonomi itu kelak membawanya memasuki wilayah yang jauh lebih luas daripada sekadar dunia ekonomi.

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan tersebut. Pendidikan formalnya bukan hukum, dia ;manajer’, perjalanan profesionalnya kemudian cukup dekat dengan parlemen, kebijakan publik, hukum dan penegakan hukum. Itu yang saya tangkap dari perjumpaan Suaib dengan beberapa kolega ini.

Ia masuk ke ruang-ruang itu bukan melalui satu garis lurus profesi, melainkan melalui organisasi, konsultansi, komunikasi, pengalaman kerja, jejaring dan keterlibatan dalam berbagai institusi.

Di sanalah karakter Suaib mulai terbentuk: seorang generalis yang terbiasa berpindah ruang, tetapi tidak sepenuhnya meninggalkan ruang sebelumnya.

Ekonomi bertemu organisasi, organisasi bertemu masyarakat sipil, masyarakat sipil bertemu konsultansi, konsultansi bertemu parlemen, parlemen bertemu media, dan semuanya kemudian bertemu dalam jaringan yang terus bergerak.

Dari ruang mahasiswa

Fondasi awal perjalanan Suaib cukup jelas: aktivisme mahasiswa dan organisasi.

Ketika sebagian mahasiswa mungkin melihat kampus terutama sebagai ruang kuliah dan mengejar indeks prestasi, ia menjadikan kampus sekaligus sebagai sekolah organisasi, kepemimpinan, pergaulan dan pengenalan terhadap persoalan sosial yang lebih luas.

Ia aktif di HMI Komisariat Ekonomi Unhas dan pada periode 1995–1996 dipercaya menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unhas. Pada 1995 ia juga mendirikan Yayasan Malabo Makassar, kemudian pada 1997 menjadi Direktur Komunitas Pekerja Demokrasi dan HAM. Jejak tersebut memperlihatkan bahwa sejak muda ia sudah bergerak di luar batas disiplin ekonomi yang dipelajarinya di ruang kelas.

Dari sana terlihat kesinambungan yang kemudian menjadi penting dalam membaca kariernya. Ekonomi tidak berdiri sendiri, tetapi bertemu dengan demokrasi, hak asasi manusia, organisasi masyarakat, komunikasi, kebijakan publik dan hubungan antarmanusia.

Pengalaman awal tersebut memberi bekal untuk memahami bahwa perubahan sosial membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan teknis.

Ia kemudian aktif dalam sejumlah ruang organisasi lain, termasuk ICMI Muda Sulsel, organisasi alumni, Gerakan Pramuka Kwarcab Makassar dan berbagai kegiatan sosial. Pada 2019 ia tercatat sebagai pengurus IKA Unhas Jabodetabek, sedangkan sejak 2022 ia dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas.

Jika ada satu kata yang dapat menjembatani berbagai episode itu, mungkin kata tersebut adalah organisasi. Bukan organisasi dalam pengertian struktur dan kepengurusan semata, tetapi organisasi sebagai kemampuan mempertemukan orang, membagi peran, mengumpulkan sumber daya, dan membuat sesuatu yang semula tersebar menjadi bergerak ke arah tertentu.

Jalan panjang menuju Jakarta

Sebelum karier profesionalnya menguat di Jakarta, Suaib melewati sejumlah pengalaman kerja yang cukup beragam.

Ia pernah bergerak dalam public relations, perencanaan dan desain, kemudian masuk ke dunia korporasi melalui AIG Lippo pada bagian Bank Assurance dan Bank Danamon sebagai unit manager pada 2005–2008.

Ia juga pernah mengelola FOCUS yang bergerak pada pelatihan, konsultansi dan pelaksanaan kegiatan. Rentang pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana ia mengumpulkan kemampuan dari berbagai bidang yang kelak menjadi modal ketika bekerja di Jakarta: komunikasi, manajemen, konsultansi, organisasi dan hubungan antarlembaga.

Karier Jakarta kemudian bertumpu pada beberapa simpul.

Profil profesionalnya mencatat pengalaman sebagai Staf Ahli Komisi III DPR RI, Direktur Penta Strategic Networking, Direktur Eksekutif Pro OTDA Institute, serta aktivitas konsultansi dan pendampingan melalui MZ Partnership. Di antara semua posisi tersebut, dunia parlemen memberi ruang yang berbeda karena mempertemukannya dengan proses kebijakan dan institusi negara.

Dokumen kelembagaan DPR menjadi salah satu pijakan penting dalam membaca perjalanan itu. Nama Moh. Suaib Mappasila, S.E., M.M. tercantum sebagai Tenaga Ahli Komisi III DPR RI, sementara dokumen kegiatan kunjungan kerja Komisi III juga mencantumkan namanya dalam tim tenaga ahli. Dengan demikian, posisi tersebut memiliki jejak dokumenter di luar sekadar profil profesional pribadi.

Komisi III membawa Suaib ke lingkungan yang berhubungan dengan hukum, hak asasi manusia, keamanan, kepolisian, kejaksaan, peradilan dan berbagai institusi penegakan hukum.

Posisi tenaga ahli memang bukan posisi pengambil keputusan politik, tetapi berada dekat dengan proses pengumpulan informasi, kajian, pengawasan dan dukungan substantif bagi kerja komisi.

Pada 2023, misalnya, dikutip dari Pelakita.ID, nama Suaib tercatat dalam rombongan kunjungan kerja Komisi III ke Sumatera Utara.

Agenda tersebut antara lain menyentuh evaluasi penegakan hukum, kejaksaan, pengadilan, pemulihan kerugian negara, keadilan restoratif dan reformasi kelembagaan.

Pada tahun yang sama, Polda DIY juga mencatatnya sebagai anggota tim kunjungan kerja spesifik Komisi III DPR RI untuk memperoleh data dan informasi tentang penegakan hukum di wilayah tersebut.

Ia bekerja di ruang yang tidak selalu terlihat publik. Tidak semua orang yang ikut menyusun bahan, mengumpulkan data, berdiskusi dengan institusi atau mendampingi proses kerja parlemen akan muncul dalam pemberitaan. Namun pekerjaan semacam itu membuat seseorang mengenal lebih banyak pintu, lebih banyak orang dan lebih banyak institusi.

Jakarta dan seni menghubungkan orang

Penulis menyebut sosok MSM sebagai network builder, hal yang sangat relevan dan ‘proven’.

Bukan karena ia mengaku sebagai pembangun jaringan dalam sebuah slogan, melainkan karena perjalanan organisasional dan profesionalnya memperlihatkan pola yang relatif konsisten: mempertemukan orang, menghubungkan institusi dan mengubah hubungan sosial menjadi kegiatan yang dapat dikerjakan bersama.

Dalam konteks alumni Unhas, peran itu menjadi semakin terlihat ketika ia dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal IKAFE Unhas. B

ersama Ketua Umum Hendra Noor Saleh, ia berada dalam organisasi yang mengembangkan berbagai aktivitas alumni, mulai dari kegiatan sosial, olahraga, silaturahmi hingga agenda yang membawa jejaring alumni keluar dari batas nasional.

Pada Juli 2023, misalnya, pimpinan IKAFE Unhas terlibat dalam Global Visit ke Kazakhstan dan Uzbekistan. Universitas Hasanuddin mendokumentasikan keterlibatan Hendra Noor Saleh dan Moh. Suaib Mappasila dalam perjalanan tersebut. Agenda yang dibawa tidak berhenti pada perjalanan alumni, tetapi menyentuh jejaring pendidikan, misi dagang, kebudayaan, agama dan kunjungan ke Nazarbayev University.

Ada perubahan cara pandang yang menarik di sana. Alumni tidak hanya diposisikan sebagai orang-orang yang pernah kuliah di tempat yang sama, lalu bertemu sesekali untuk bernostalgia. Mereka dapat menjadi jaringan sosial-profesional yang saling membuka akses, mempertemukan kompetensi dan menciptakan kerja sama.

Dalam wawancaranya, Suaib berbicara mengenai volunteerism dan networking.

Gagasannya sederhana tetapi memiliki implikasi besar: sumber daya alumni tidak harus selalu dicari dari luar, karena di dalam komunitas sendiri terdapat pengetahuan, kemampuan, profesi, waktu dan jaringan yang dapat dikumpulkan untuk mengerjakan sesuatu secara bersama.

Mungkin karena itu kegiatan alumni bagi Suaib bukan sekadar agenda seremonial. Ia tampaknya melihat setiap kegiatan sebagai ruang perjumpaan. Pertandingan olahraga dapat menjadi ruang silaturahmi, forum diskusi dapat menjadi pintu kolaborasi, perjalanan bersama dapat membuka hubungan baru, sementara organisasi menjadi rumah yang menjaga hubungan tersebut tetap hidup.

Pola itu masih terlihat pada kegiatan IKAFE di Jakarta pada 2026. Dalam pemberitaan Merdeka Cup, Suaib menekankan kolaborasi alumni, panitia, atlet dan pendukung sekaligus melihat kegiatan olahraga sebagai ruang silaturahmi dan networking. Bagi orang yang memahami jaringan sebagai modal sosial, pertandingan bukan semata tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Ada sisi lain dari Suaib yang mungkin lebih sunyi, tetapi justru meninggalkan jejak yang lebih mudah diwariskan: menulis.

Sejak 2022, ia menulis di sejumlah media nasional mengenai persoalan ekonomi dan kebijakan publik. Detik pernah memuat tulisannya tentang dinamika kenaikan harga BBM subsidi, sementara di Kompas ia tampil dengan identitas sebagai Staf Ahli Komisi III DPR RI, konsultan, Sekjen IKAFE dan pemerhati masalah ekonomi, sosial dan hukum.

Tulisan-tulisan berikutnya bergerak semakin dekat dengan wilayah hukum dan ketatanegaraan. Ia menulis mengenai polemik seleksi calon hakim agung, perlindungan jaksa, isu kebangsaan, serta perubahan Undang-Undang Polri dan reformasi kepolisian. Tema-tema tersebut memperlihatkan kesinambungan tertentu: ekonomi, kebijakan publik, hukum, demokrasi, kelembagaan negara dan penegakan hukum.

Tulisan, dalam konteks ini, menjadi semacam ruang kedua bagi seorang pekerja jaringan. Jika organisasi mempertemukan manusia dengan manusia, tulisan mempertemukan gagasan dengan pembaca yang mungkin tidak pernah ditemui secara langsung. Sebuah tulisan dapat bergerak lebih jauh daripada penulisnya, memasuki percakapan yang tidak diketahui kapan dan di mana akan terjadi.

Pada Agustus 2024, berbagai tulisan tersebut dikumpulkan menjadi buku Mencatat Indonesia, Kompilasi Renungan Kebangsaan. Buku itu memuat tulisan mengenai persoalan sosial, ekonomi, politik, hukum, ketatanegaraan, geopolitik, pertahanan dan keamanan yang sebelumnya tersebar di berbagai media nasional.

Tiga modal di kota besar

Jika perjalanan tersebut dibaca dengan kacamata sosiologis, setidaknya terdapat tiga modal yang saling bertemu dalam diri Suaib: modal intelektual, modal sosial dan modal institusional.

Modal intelektualnya dibangun dari pendidikan ekonomi, pengalaman organisasi mahasiswa, pengalaman konsultansi dan kebiasaan membaca serta menulis isu publik. Ia tidak tumbuh dari satu disiplin saja, tetapi justru memperoleh pengalaman dari berbagai bidang yang saling bersinggungan.

Modal sosialnya terlihat dalam jejaring alumni, pengalaman organisasi, hubungan dengan kalangan profesional, parlemen, akademisi, media dan berbagai kelompok masyarakat. Yang lebih penting, ia tidak hanya memiliki jaringan, tetapi aktif mengorganisasi dan menghubungkan jaringan tersebut melalui kegiatan konkret.

Sementara modal institusionalnya terutama terbentuk melalui pengalaman sebagai tenaga ahli Komisi III DPR RI serta keterlibatan dalam berbagai organisasi dan lembaga konsultansi. Ketiga modal itu kemudian bertemu di Jakarta, kota yang membutuhkan kemampuan membaca peluang sekaligus kemampuan menjaga hubungan.

Karena itu, membaca Suaib semata-mata dari jabatan akan membuat sebagian besar ceritanya hilang. Jabatan hanya menunjukkan posisi formal, sedangkan perjalanan organisasi dan jejaring memperlihatkan cara seseorang bekerja ketika tidak semua pekerjaannya dapat diukur melalui struktur birokrasi.

Legacy-nya pun lebih tepat dibaca secara hati-hati. Dalam organisasi, ia ikut membangun kultur IKAFE yang menekankan keswadayaan, networking, lintas generasi dan aktivitas alumni. Dalam pengetahuan, ia mengubah pengamatan terhadap persoalan publik menjadi tulisan, kolom dan buku. Dalam jejaring, ia bergerak di antara alumni, konsultan, parlemen, penegakan hukum, media, organisasi masyarakat dan anak muda kreatif.

Ia membangun karier bukan melalui satu garis jabatan yang lurus, melainkan melalui kemampuan berpindah dan menghubungkan banyak ruang. Dari Senat Mahasiswa Ekonomi Unhas ke dunia organisasi, dari masyarakat sipil ke konsultansi, dari dunia profesional menuju parlemen, dari parlemen ke penulisan, dari alumni menuju jejaring internasional, lalu dari buku menuju sebuah rumah bagi gagasan.

Jakarta telah memberinya ruang yang luas untuk menguji kemampuan tersebut. Di kota ini, orang datang dan pergi, jabatan berganti, organisasi mengalami regenerasi, dan pertemuan berlangsung dalam waktu yang sering kali terbatas. Tetapi hubungan yang dirawat dengan baik dapat bertahan lebih lama daripada sebuah agenda.

Siang itu, saya akhirnya bertemu dengannya di Plaza Senayan.

Waktu kami terbatas. Ia harus bergeser setelah pukul tiga. Saya datang dari Tugu Tani dengan mengejar jarak dan waktu, sementara ia menunggu di antara makan siang dan agenda berikutnya.

Dari Jeneponto 150 kilometer di selatan Makassar yang keras, ia membawa pengalaman. Dari Unhas ia memperoleh pendidikan dan tradisi organisasi. Dari aktivisme ia belajar mengumpulkan orang. Dari dunia profesional ia belajar mengelola pekerjaan dan hubungan. Dari parlemen ia bersentuhan dengan kebijakan dan institusi negara. Dari IKAFE ia mengembangkan jejaring alumni. Dari tulisan ia mencoba menyimpan gagasan.

Melalui Mencatat Indonesia, alumni Kampus Merah Unhas Tamalanrea ini meninggalkan sebuah arsip kecil tentang cara seorang warga membaca negeri yang terus berubah.

Di Jakarta, kota tempat jutaan orang datang membawa ambisi masing-masing, Suaib Mappasila memilih membangun sesuatu yang tidak selalu tampak dari kejauhan, dia network builder, tentang hubungan antarmanusia, jejaring antarkelompok, dan ruang bagi gagasan untuk terus hidup.

___
Penulis Denun
Tugu Tani, 3 September 2026