Makna Merdeka Bagi Warga, Ketika Bendera Berkibar Hati Ikut Bergetar

  • Whatsapp
Happy birthday, Ibu Umar!

PELAKITA.ID – Pagi itu, Ahad, 2 Agustus 2026, saya memulai hari seperti biasa. Salat Subuh tepat waktu, lalu membuka pintu pagar rumah. Udara masih segar, embun belum sepenuhnya menghilang.

Di samping rumah, tetangga saya, Om Haris, sudah berdiri di depan rumahnya sambil memasang bendera Merah Putih.

Saya tersenyum, lalu menggoda. “Wah, selama ini saya selalu last minute baru pasang bendera.” Om Haris tersenyum balik sambil merapikan tali pengikat tiang.

“Baji tong punna nisuarri,” katanya ringan.

Artinya sederhana, “bagus juga kalau kita sama-sama meramaikan suasana.”

“Maaaa, mana benderata,” sigapku setelah berbincang Om Haris.

Jawaban Om Haris sebelumnya itu singkat tapi justru membuat saya berpikir lebih panjang. Memasang bendera ternyata bukan sekadar menjalankan imbauan pemerintah setiap Agustus. Ada rasa memiliki yang sedang dirawat. Ada kebanggaan yang sedang dipasang di depan rumah agar dapat dilihat siapa saja.

Ketika satu rumah memasang bendera, rumah lain terdorong melakukan hal yang sama. Lama-kelamaan satu kompleks berubah wajah. Jalan yang biasanya biasa saja mendadak terasa lebih hangat karena dihiasi warna merah dan putih.

Mungkin inilah yang sering terlupakan. Nasionalisme tidak selalu lahir dari pidato besar atau upacara megah.

Kadang ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil: memasang bendera, mengecat pagar, membersihkan lingkungan, atau mengajak anak-anak mengenal sejarah bangsa. Simbol memang bukan segalanya, tetapi tanpa simbol, rasa memiliki perlahan ikut memudar.

***

Sehari sebelumnya, suasana kemerdekaan juga sudah terasa di rumah.

Istri saya, Ning, tampak sibuk membuka lemari, mencocokkan jilbab, baju, dan celana panjang berwarna putih susu.

“Edede mama, sibukna…” celetuk Sofia, si bungsu, melihat ibunya bolak-balik bercermin.

Ternyata Ning diundang menghadiri syukuran ulang tahun Ibu Umar – nama ini sering dia sebut sebagai istri polisi, nama lengkapnya Iiin Puspita, salah seorang teman senamnya.

 

Yang menarik, tema acaranya diwarnai gaun atau busana *Merah Putih*. Semua tamu diminta mengenakan busana bernuansa merah dan putih.

“Bagaimana, Pak? Cantik, ji?” katanya sambil berputar kecil memperlihatkan baju merah dengan celana putih yang baru dikenakannya.

Saya hanya mengangguk. “Kalau begini, bukan cuma ulang tahun yang dirayakan. Semangat kemerdekaan juga ikut hadir.”

Fenomena seperti ini rupanya semakin sering dijumpai. Komunitas senam, kelompok arisan, ibu-ibu kompleks, hingga komunitas perempuan memiliki cara masing-masing menyambut bulan kemerdekaan.

Ada yang mengadakan senam dengan dress code merah putih, lomba memasak, jalan santai, bakti sosial, menghias lingkungan, hingga pesta ulang tahun yang seluruh dekorasinya bernuansa nasional.

Bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana. Bahkan ada yang menganggapnya hanya ikut-ikutan tren media sosial. Namun, di balik itu semua tersimpan sesuatu yang jauh lebih penting: ruang kebersamaan.

Perayaan-perayaan kecil seperti itu mempertemukan tetangga yang jarang berbincang, menghidupkan kembali semangat gotong royong, dan menghadirkan kegembiraan yang tidak harus mahal.

Merah putih menjadi bahasa yang menyatukan semua orang tanpa memandang usia, profesi, maupun latar belakang.

***

Kemerdekaan memang tidak selalu dirayakan dengan gegap gempita. Bagi warga biasa, maknanya sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.

Seorang ayah yang memasang bendera sejak pagi. Seorang ibu yang bangga mengenakan busana merah putih. Anak-anak yang berlarian membawa umbul-umbul. Remaja yang mengecat gapura kampung.

Warga yang berkumpul menyiapkan lomba 17 Agustus.

Semua itu mungkin tampak kecil. Namun, jika dilakukan bersama-sama, ia menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya milik pemerintah, bukan hanya milik para pejabat, melainkan milik seluruh warganya.

Maka, ketika Om Haris berkata, “Baji tong punna nisuarri,” saya akhirnya memahami maksudnya.

Memasang bendera bukan sekadar menaikkan selembar kain merah dan putih.

Yang sedang kita kibarkan sesungguhnya adalah rasa cinta kepada negeri ini.

Selama masih ada warga yang dengan sukarela memasang bendera, mengenakan merah putih dengan bangga, serta merayakan kemerdekaan bersama tetangganya, harapan bahwa semangat kebangsaan tetap hidup akan selalu ada.

_
Penulis Denun
Tamarunang, 2 Agustus 2026