Info Kegiatan Bincang Ekonomi Daerah Sulsel: Kopi sebagai Penggerak Pembangunan, Arena Hilirisasi, dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan

  • Whatsapp
Ilustrasi kegiatan

PELAKITA.ID – Di tengah meningkatnya perhatian terhadap hilirisasi sumber daya alam dan penguatan ekonomi daerah, kopi semakin dipandang bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan instrumen pembangunan yang mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi.

Dari hulu hingga hilir, rantai nilai kopi menciptakan lapangan kerja, menghidupkan usaha mikro, mendorong investasi, memperkuat pariwisata, hingga membangun identitas suatu daerah.

Atas dasar itulah Unhas Development Study Club (UDSC) Class 2025 menyelenggarakan forum diskusi bertajuk “Bincang Ekonomi Daerah: Kebijakan UMKM Berbasis Komoditas,  Peluang Investasi Kopi serta Kolaborasi untuk Penguatan Ekonomi Daerah”, yang akan dilaksanakan pada Jumat, 3 Juli 2026, pukul 14.00–17.00 WITA di Dey Corner Café, Makassar.

Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara akademisi, pelaku usaha, dan praktisi untuk membahas bagaimana kopi dapat menjadi penggerak pembangunan daerah melalui perspektif ekonomi regional, hilirisasi, dan kebijakan publik.

Mengapa Tema Ini Penting?

Indonesia merupakan salah satu produsen kopi terbesar dunia. Namun demikian, sebagian besar nilai tambah masih berada pada aktivitas pascapanen, pengolahan, branding, pemasaran, hingga industri kreatif yang belum berkembang secara optimal di berbagai daerah.

Di Sulawesi Selatan sendiri, kopi telah lama menjadi komoditas unggulan.

Data menunjukkan luas perkebunan kopi rakyat mencapai 78.754 hektare, atau sekitar 14,4 persen dari total luas perkebunan rakyat di provinsi tersebut. Produksi kopi Sulawesi Selatan pada tahun 2024 mencapai sekitar 21.388 ton, terdiri atas kopi Arabika dan Robusta.

Sentra produksi utama tersebar di Kabupaten Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, Sinjai, dan Bantaeng. Dari sisi ekonomi daerah, kopi menjadi salah satu komoditas perkebunan terbesar ketiga setelah kakao dan kelapa.

Potensi tersebut menjadikan kopi memiliki multiplier effect yang besar. Setiap peningkatan nilai tambah kopi tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri pengolahan, kedai kopi, logistik, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga sektor jasa lainnya.

Karena itu, diskusi mengenai kebijakan pengembangan kopi menjadi relevan untuk menjawab tantangan pembangunan ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Menghadirkan Tiga Perspektif yang Saling Melengkapi

Forum ini menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang yang berbeda sehingga mampu memberikan gambaran yang komprehensif mengenai pengembangan ekonomi berbasis kopi.

Wiwik E. Wijaya

Adalah Plt Kadis Perindag Sulsel. Diharapkan berbagi perspektif kebijakan pembangunan daerah Sulawesi Selatan terutama dalam pengembangan UMKM berbasis komoditas seperti kopi. Termasuk pengalaman mengenai peluang investasi, pengembangan rantai pasok, serta strategi membangun daya saing produk kopi agar mampu menembus pasar yang lebih luas.

Perspektif dunia usaha menjadi penting karena investasi merupakan salah satu faktor utama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas.

Prof. Dr. Mursalim Nohong

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin. Sebagai akademisi dan ekonom, Prof. Mursalim akan mengulas bagaimana kebijakan ekonomi regional dapat mendorong hilirisasi kopi, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan berbasis potensi lokal.

Pendekatan ilmiah diperlukan agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan aspek kelembagaan, tata kelola, dan keberlanjutan.

M. Faizal “Ical” R.

Praktisi Bisnis Kopi. Sebagai pelaku industri kopi, Faizal atau biasa disapa Ical akan membagikan pengalaman praktis mengenai perkembangan bisnis kopi, perubahan perilaku konsumen, pengembangan merek, hingga peluang kolaborasi antara petani, pelaku UMKM, dan sektor swasta.

Saat ini sedang aktif mendorong kolaborasi Unhas dengan Pemerintah Situbondo dalam mendorong adopsi inovasi teknologi pengeringan kopi.

Kehadiran praktisi memberikan gambaran nyata mengenai dinamika industri kopi yang berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Metodologi Diskusi: Kolaboratif dan Berbasis Solusi

Forum ini tidak dirancang sebagai seminar satu arah. Metodologi kegiatan menggunakan pendekatan interactive panel discussion, yaitu dialog yang menggabungkan presentasi singkat dari masing-masing narasumber, diskusi panel, serta sesi tanya jawab bersama peserta.

Pendekatan ini memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan secara langsung antara akademisi, praktisi, mahasiswa, pemerintah, komunitas kopi, dan pelaku UMKM.

Kegiatan ini diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan peluang kolaborasi yang dapat ditindaklanjuti dalam pengembangan ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan.

Diskusi akan dipandu oleh Kamaruddin Azis, mahasiswa founder Pelakita.ID, penggiat isu pembangunan daerah.

Dengan pengalaman dalam bidang komunikasi pembangunan dan kebijakan publik, moderator diharapkan mampu menjembatani perspektif akademik, dunia usaha, serta praktik di lapangan sehingga diskusi berlangsung dinamis dan aplikatif.

Siapa Penyelenggaranya?

Unhas Development Study Club Class 2025

Kegiatan ini diinisiasi oleh Unhas Development Study Club (UDSC) Class 2025, sekelompok mahasiswa atau komunitas akademik yang terdiri atas mahasiswa Program Doktor Kajian Studi Pembangunan Universitas Hasanuddin dan berminat pada agenda pembangunan daerah. Mereka tersebar dari pelaku usaha maritim, akademisi Politeknik Pangkep, ASN di Papua, ASN di lingkup Pemprov Sulsel, pekerja media, LSM hingga akademisi di Universitas Fajar, Unibos Makassar hingga UIN Alauddin Makassar.

Komunitas ini dibentuk sebagai ruang belajar, berdiskusi, dan bertukar gagasan mengenai berbagai isu pembangunan, mulai dari ekonomi regional, kebijakan publik, kemaritiman, ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga transformasi sosial.

Melalui forum-forum ilmiah yang terbuka, UDSC berupaya mempertemukan dunia akademik dengan pemerintah, dunia usaha, media, dan masyarakat sehingga hasil kajian dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah.

Didukung oleh Berbagai Mitra Strategis

Pelakita.id

Kegiatan ini didukung oleh Pelakita.id, portal berita yang memiliki fokus pada isu kemaritiman, lingkungan, ekonomi biru, pembangunan daerah, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Sebagai media yang mengedepankan jurnalisme berbasis data dan solusi, Pelakita.id berperan memperluas diseminasi gagasan serta mendorong literasi publik mengenai pembangunan yang inklusif.

DPP Garuda Astacita Nusantara

Turut mendukung kegiatan ini adalah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Garuda Astacita Nusantara, organisasi yang berkomitmen mengawal implementasi visi pembangunan nasional Astacita yang diusung Presiden Prabowo Subianto.

Muhammad Burhanuddin, ketua umum DPP Garuda Astacita Nusantara menilai irganisasinya sangat aktif mendorong sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berorientasi pada ketahanan ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan potensi daerah.

“Kegiatan ini tentu kami dukung, wujud nyata bahwa kami juga berminat untuk menghidupkan diskusi dan diskursus mengenai pembangunan daerah yang bertumpu pada komoditas penggerak pembangunan. Hanya saja perlu dirancang strategi yang paling relevan ke depan,” kata Burhanuddin.

IKAFE Unhas

Dukungan juga datang dari IKAFE Unhas (Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin).

Sebagai organisasi alumni, IKAFE memiliki peran strategis dalam membangun jejaring profesional, mendukung pengembangan pendidikan, serta memperkuat kontribusi alumni terhadap pembangunan ekonomi nasional dan daerah.

Menurut Sekjen Ikafe, Mohammad Suaib Mappasila, melalui keterlibatan IKAFE, kegiatan ini diharapkan mampu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari kalangan akademisi, birokrat, pengusaha, dan alumni untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan sektor kopi.

Dari Komoditas Menjadi Mesin Pertumbuhan

Di balik secangkir kopi tersimpan rantai ekonomi yang panjang. Ada petani yang menanam, pelaku UMKM yang mengolah, barista yang menyajikan, pelaku logistik yang mendistribusikan, hingga wisatawan yang datang menikmati pengalaman budaya kopi.

Karena itu, kopi bukan sekadar produk pertanian. Ia adalah ekosistem ekonomi yang mampu menjadi mesin pertumbuhan daerah apabila dikelola melalui kebijakan yang tepat, investasi yang berkelanjutan, inovasi yang berkesinambungan, dan kolaborasi lintas sektor.

Melalui forum “Bincang Ekonomi Daerah”, Unhas Development Study Club Class 2025 berharap lahir gagasan-gagasan baru yang dapat memperkuat posisi kopi sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi Sulawesi Selatan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.