PELAKITA.ID – MAKASSAR – Akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM), Aslan Abidin, menilai kreativitas kelompok teater di Sulawesi Selatan berkembang pesat pada masa Orde Baru karena para seniman dipaksa menemukan berbagai cara untuk menyampaikan kritik sosial tanpa berhadapan langsung dengan sensor pemerintah.
Pandangan tersebut disampaikan Aslan saat memberikan tanggapan dalam forum Wacana Sejarah Bugis bertajuk “Drama-Drama Sejarah Mewakili Budaya Bugis-Makassar” yang diselenggarakan secara daring oleh Perbadanan Perpustakaan Awam Selangor (PPAS) bekerja sama dengan Persatuan Pendidikan Falsafah dan Pemikiran Malaysia (PPFPM), Sabtu (25/7/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan jurnalis dan editor Harian Fajar, Ilham Wasi, sebagai pembicara utama.

Menurut Aslan, situasi politik pada masa Orde Baru memberikan pengaruh besar terhadap proses penciptaan karya seni.
Naskah pertunjukan teater harus melewati pemeriksaan sehingga ruang untuk menyampaikan kritik secara terbuka menjadi sangat terbatas.
“Situasi politik saat itu sangat memengaruhi karya. Akan lebih mudah jika kita menulis hal-hal yang membesarkan tradisi sendiri atau tema-tema yang bersifat nasionalistis daripada kritik sosial, karena pengawasan dari aparat tetap ada,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Aslan, justru melahirkan kreativitas artistik yang khas. Para pekerja teater mengembangkan bahasa simbolik sebagai strategi untuk menyampaikan kritik sosial tanpa menuliskannya secara eksplisit dalam naskah.

“Naskahnya diperiksa, sehingga kritik tidak ditulis secara langsung. Simbol-simbolnya justru dimunculkan dalam pementasan. Banyak makna yang tidak tertulis di dalam naskah, tetapi hadir kuat di atas panggung,” jelasnya.
Sebagai contoh, Aslan menyinggung pementasan Karim Pattingalloang garapan sutradara Fahmi Syarif. Menurutnya, sejumlah simbol dramatik yang muncul dalam adegan sengaja tidak dicantumkan dalam naskah yang diajukan kepada pihak berwenang.
“Di adegan terakhir ada simbol-simbol tertentu yang dimunculkan dalam pertunjukan, tetapi memang tidak ada dalam naskah karena naskah harus diperiksa terlebih dahulu. Itulah siasat para pekerja teater pada masa itu,” katanya.
Ia menilai, keterbatasan justru mendorong lahirnya inovasi artistik. Bahasa tubuh, tata panggung, komposisi adegan, hingga metafora visual menjadi medium untuk menyampaikan pesan-pesan yang tidak mungkin diungkapkan secara verbal.
Dalam kesempatan yang sama, Aslan juga menyoroti fenomena kelompok teater mahasiswa saat ini yang kembali banyak mengangkat tema-tema tradisi dalam festival-festival teater.
Namun, menurutnya, motif generasi sekarang berbeda dengan para pekerja teater pada masa Orde Baru.
“Saya pernah bertanya kepada mereka mengapa memilih tema tradisi. Jawabannya sederhana, supaya mudah menang lomba,” ungkapnya.
Fenomena tersebut, menurut Aslan, menjadi refleksi menarik tentang perubahan orientasi berkesenian. Jika dahulu tradisi digunakan sebagai strategi untuk menghindari sensor politik sekaligus menyampaikan kritik sosial secara simbolik, kini tradisi lebih sering dipilih karena dinilai memiliki nilai kompetitif dalam perlombaan.
Meski demikian, ia menilai tradisi tetap memiliki posisi penting dalam perkembangan teater Sulawesi Selatan.
Tantangan ke depan adalah bagaimana warisan budaya tidak sekadar dijadikan ornamen artistik, tetapi mampu menjadi medium untuk membaca persoalan-persoalan sosial yang dihadapi masyarakat kontemporer.
Bagi Aslan, sejarah teater Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa tekanan politik pada masa Orde Baru tidak mematikan kreativitas.
Sebaliknya, situasi tersebut melahirkan berbagai strategi estetik yang memperkaya bahasa pertunjukan dan menjadi bagian penting dari perjalanan teater Indonesia hingga hari ini.
Redaksi









