Tiga Tokoh Seni Panggung dari Sulawesi Selatan, antara Tradisi dan Tanda-tanda Zaman

  • Whatsapp
Ilustrasi

PELAKITA.ID – Sulawesi Selatan memiliki tradisi kesenian yang panjang, mulai dari sastra lisan, teater rakyat, hingga seni pertunjukan modern. Di antara banyak nama yang memberi warna bagi perkembangan seni panggung Indonesia, tiga tokoh menonjol karena kontribusi dan lintasan generasinya, yakni Rachman Arge, Aspar Paturusi, dan Fahmi Syariff.

Ketiganya berasal dari ruang budaya yang sama, tetapi memilih jalan kreatif yang berbeda. Perjalanan mereka memperlihatkan bagaimana teater, sastra, dan film berkembang mengikuti perubahan sosial dan politik Indonesia.

Ketiga nama itu diperoleh dalam forum Wacana Sejarah Bugis bertajuk “Drama-Drama Sejarah Mewakili Budaya Bugis-Makassar” yang diselenggarakan secara daring oleh Perbadanan Perpustakaan Awam Selangor (PPAS) bekerja sama dengan Persatuan Pendidikan Falsafah dan Pemikiran Malaysia (PPFPM), Sabtu (25/7/2026).

Rachman Arge mewakili generasi pelopor yang membawa seni panggung Sulawesi Selatan ke tingkat nasional melalui perfilman. Aspar Paturusi menjadi jembatan antara sastra, teater, dan film dengan kekuatan literasi yang sangat menonjol.

Sementara Fahmi Syariff merupakan representasi generasi kontemporer yang memanfaatkan teater sebagai ruang dialog sejarah dan identitas budaya.

Rachman Arge: Seni sebagai Pengabdian kepada Bangsa

Lahir di Makassar pada 1935 dengan nama Abdul Rahman Gega, Rachman Arge memulai kariernya di dunia film melalui Pradjurit Teladan (1959).

Ia kemudian membintangi sejumlah film penting, seperti Di Udjung Badik, Sanrego, Mutiara dalam Lumpur, hingga Jangan Renggut Cintaku yang mengantarkannya meraih Piala Citra Pemeran Pembantu Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia 1990.

Namun, perjalanan hidup Rachman Arge tidak berhenti di dunia seni. Ia juga aktif sebagai wartawan, menjadi anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), menjabat Wakil Ketua Umum PARFI, hingga dipercaya sebagai anggota DPR/MPR RI.

Karena itu, seni bagi Rachman Arge tidak berdiri sendiri. Baginya, panggung merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat dan negara. Pengalaman di dunia jurnalistik dan politik memperkaya perspektif kemanusiaan yang kemudian tercermin dalam karakter-karakter yang diperankannya.

Aspar Paturusi: Ketika Sastra Menjadi Panggung Kehidupan

Jika Rachman Arge dikenal sebagai aktor karakter, maka Aspar Paturusi adalah sosok seniman yang menjadikan sastra sebagai rumah utamanya.

Lahir di Bulukumba pada 1943, Aspar merupakan penyair, novelis, dramawan, sekaligus aktor yang produktif selama lebih dari lima dekade.

Buku puisinya Sajak-Sajak dari Makassar (1974) menjadi salah satu tonggak penting perkembangan sastra dari kawasan timur Indonesia. Setelah itu lahir berbagai novel dan kumpulan puisi seperti Arus, Pulau, Sukma Laut, Ombak Losari, hingga Perahu Badik: Membaca Laut.

Di dunia perfilman, Aspar juga dikenal melalui film Sanrego, Tutur Tinular, Fatahillah, hingga Ketika Cinta Bertasbih. Namun berbeda dengan Rachman Arge, kekuatan utama Aspar justru berada pada kemampuannya mengolah kata.

Laut, pesisir, perahu, ombak, dan kebudayaan Bugis-Makassar menjadi metafora yang terus hadir dalam karya-karyanya. Melalui sastra, ia tidak hanya menceritakan kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan, tetapi juga menghadirkan refleksi universal tentang cinta, kemanusiaan, perjuangan, dan identitas.

Aspar menunjukkan bahwa panggung tidak selalu berupa gedung pertunjukan. Buku, puisi, dan novel pun dapat menjadi panggung tempat gagasan dipentaskan kepada pembacanya.

Fahmi Syariff: Membaca Ulang Sejarah Lewat Teater

Berbeda dari dua pendahulunya, Fahmi Syariff tumbuh dalam konteks Indonesia pasca-Reformasi ketika kebebasan berekspresi jauh lebih terbuka. Namun justru pada era inilah ia memilih kembali menggali sejarah lokal sebagai sumber inspirasi utama.

Fahmi dikenal sebagai aktor, sutradara, penulis naskah, sekaligus penggerak komunitas teater di Makassar. Karya-karyanya banyak mengangkat tokoh-tokoh sejarah Bugis-Makassar, salah satunya melalui pementasan Karaeng Pattingalloang.

Baginya, sejarah bukan sekadar nostalgia. Tokoh-tokoh masa lalu dipentaskan kembali untuk membicarakan persoalan masa kini, mulai dari kepemimpinan, diplomasi, ilmu pengetahuan, hingga relasi kekuasaan.

Pendekatan artistiknya menggabungkan riset sejarah dengan bahasa simbolik yang kuat. Dialog, musik, tata panggung, gerak tubuh, dan visual dipadukan untuk membangun pengalaman teater yang reflektif sekaligus komunikatif.

Dalam berbagai kesempatan, Fahmi juga aktif membina generasi muda melalui pelatihan dan produksi teater. Ia percaya bahwa tradisi harus terus ditafsirkan ulang agar tetap hidup dan relevan.

Tiga Generasi, Tiga Jalan Kreatif

Meski berasal dari generasi yang berbeda, ketiga tokoh tersebut memiliki satu benang merah: menjadikan seni sebagai medium untuk merawat kebudayaan.

Rachman Arge membawa budaya Sulawesi Selatan ke layar nasional melalui akting dan pengabdian publik.

Aspar Paturusi merawat identitas itu melalui sastra, puisi, dan teater yang kaya dengan lanskap maritim dan nilai-nilai lokal.

Fahmi Syariff melanjutkan estafet tersebut dengan membaca kembali sejarah sebagai bahan penciptaan teater yang berbicara kepada masyarakat masa kini.

Perbedaannya terletak pada medium dan tantangan zaman yang mereka hadapi.

Rachman Arge berkarya ketika perfilman nasional sedang tumbuh dan negara memainkan peran besar dalam ruang kebudayaan. Aspar Paturusi hidup dalam masa ketika sastra menjadi salah satu ruang penting untuk menyuarakan kemanusiaan di tengah keterbatasan politik.

Sementara Fahmi Syarif berkarya di era digital, ketika tantangan terbesar bukan lagi sensor negara, melainkan bagaimana menarik perhatian publik yang dibanjiri berbagai bentuk hiburan.

Warisan yang Tidak Terputus

Dalam diskusi tersebut, mengenai sejarah teater Bugis-Makassar, akademisi Universitas Negeri Makassar, Aslan Abidin, mengingatkan bahwa pada masa Orde Baru para pekerja teater harus menyembunyikan kritik sosial melalui simbol-simbol panggung karena naskah pertunjukan harus melalui proses pemeriksaan.

Keterbatasan tersebut justru melahirkan kreativitas artistik yang khas.

Jejak sejarah itu dapat dibaca pada perjalanan ketiga tokoh ini. Rachman Arge menghadirkan seni sebagai pengabdian kepada masyarakat, Aspar Paturusi membangun peradaban melalui kekuatan sastra, sedangkan Fahmi Syarif menunjukkan bahwa sejarah dapat terus dihidupkan melalui bahasa teater.

Mereka membuktikan bahwa seni panggung bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang untuk menyimpan ingatan kolektif, merawat identitas budaya, dan mengajak masyarakat berdialog dengan zamannya.

Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, ketiga tokoh tersebut menjadi penanda bahwa Sulawesi Selatan tidak hanya melahirkan seniman-seniman besar, tetapi juga tradisi intelektual yang menjadikan seni sebagai cara memahami manusia, sejarah, dan kehidupan.

Warisan itulah yang terus menginspirasi lahirnya generasi baru pekerja teater dan sastra dari kawasan timur Indonesia.

Redaksi