Menjawab Paradoks Perikanan Indonesia, Paradigma Akuakultur Lobster Berbasis Bioekofisiologi dan Sistem Sirkular-Regeneratif

  • Whatsapp
  • Salah satu terobosan yang ditawarkan Yusnaini adalah penerapan akuakultur parsial, terutama untuk mengatasi fase-fase kritis dalam siklus hidup lobster. Tantangan terbesar selama ini antara lain terletak pada pemeliharaan larva atau phyllosoma hingga berhasil menjadi benih atau puerulus.
  • Dalam pendekatan tersebut, proses produksi dibagi menjadi empat unit segmentasi yang saling terhubung. Segmentasi ini memungkinkan setiap tahapan produksi ditangani berdasarkan karakteristik biologis dan kebutuhan fisiologis lobster.

PELAKITA.ID – KENDARI — Indonesia menghadapi paradoks dalam pengelolaan sumber daya perikanan, khususnya komoditas lobster laut.

Di satu sisi, negeri kepulauan ini memiliki potensi sumber daya dan ruang marikultur yang sangat besar, tetapi di sisi lain pemanfaatan potensi tersebut masih menghadapi persoalan teknologi, tata kelola, ketergantungan terhadap benih alam, hingga praktik eksploitasi yang mengancam keberlanjutan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian utama Dr. Ir. Yusnaini, D.E.A., Guru Besar Ekofisiologi Reproduksi Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo, dalam Orasi Ilmiah Guru Besar yang disampaikan di Universitas Halu Oleo, Kendari, 11 September 2026.

Dalam orasinya, Yusnaini menawarkan gagasan “Paradigma Akuakultur Parsial Lobster Laut Tropis Berbasis Bioekofisiologi dan Sistem Sirkular-Regeneratif” sebagai pendekatan untuk menjawab persoalan mendasar pengembangan akuakultur lobster Indonesia.

Gagasan tersebut bertolak dari kenyataan bahwa Indonesia memiliki sumber daya laut yang sangat luas. Ruang marikultur nasional mencapai sekitar 12,12 juta hektare, tetapi pemanfaatannya baru berkisar 6 persen. Pada saat yang sama, estimasi potensi benih lobster atau puerulus di alam mencapai sekitar 103,48 juta ekor per tahun.

Besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan produksi budidaya. Produksi lobster nasional masih berada pada kisaran 433–481 ton per tahun, sebuah angka yang menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sumber daya dengan kapasitas produksi berbasis akuakultur.

Paradoks tersebut semakin kompleks ketika eksploitasi benih lobster dari alam masih menjadi bagian penting dalam rantai produksi. Pada 2024, misalnya, penyelundupan benih lobster yang berhasil digagalkan mencapai 6,44 juta ekor, dengan estimasi kerugian negara sekitar Rp849 miliar.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan lobster bukan semata-mata persoalan produksi, melainkan juga menyangkut bagaimana sumber daya biologis dikelola agar memiliki nilai ekonomi tanpa mengorbankan kemampuan ekosistem untuk melakukan regenerasi.

Ketergantungan terhadap benih alam yang tidak disertai sistem regenerasi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap stok alami. Karena itu, pengembangan akuakultur lobster membutuhkan perubahan paradigma dari sistem yang bersifat ekstraktif menuju sistem produksi yang sekaligus menjaga keberlanjutan biologis sumber daya.

Empat Segmentasi Produksi

Salah satu terobosan yang ditawarkan Yusnaini adalah penerapan akuakultur parsial, terutama untuk mengatasi fase-fase kritis dalam siklus hidup lobster. Tantangan terbesar selama ini antara lain terletak pada pemeliharaan larva atau phyllosoma hingga berhasil menjadi benih atau puerulus.

Dalam pendekatan tersebut, proses produksi dibagi menjadi empat unit segmentasi yang saling terhubung. Segmentasi ini memungkinkan setiap tahapan produksi ditangani berdasarkan karakteristik biologis dan kebutuhan fisiologis lobster.

Pertama adalah Unit Pendederan Benih atau Nursery, yakni tahap transisi benih dari alam ke lingkungan pemeliharaan yang lebih terkontrol. Pada fase ini, perhatian diarahkan pada pembentukan eksoskeleton yang kuat sekaligus adaptasi terhadap pakan untuk menekan tingkat kanibalisme.

Kedua adalah Unit Pembesaran Juvenil, yang diarahkan untuk mengakselerasi pertumbuhan somatik lobster di laut. Tahap ini menjadi bagian penting dalam menghasilkan individu dengan ukuran dan kondisi biologis yang sesuai untuk masuk ke fase produksi berikutnya.

Ketiga adalah Unit Produksi Konsumsi dan Calon Induk. Dalam skema tersebut, sekitar 90 persen lobster diarahkan untuk pasar konsumsi, sementara 10 persen dialokasikan sebagai calon induk unggul.

Keempat adalah Unit Induk Memijah dan Penetasan, yang berfungsi sebagai pusat pengelolaan induk secara terkontrol untuk menghasilkan larva phyllosoma. Dengan demikian, induk tidak semata-mata ditempatkan sebagai komponen produksi, tetapi sebagai aset biologis yang menopang keberlanjutan sistem.

Phyllosoma Restocking sebagai Modal Biologis

Salah satu gagasan penting dalam paradigma tersebut adalah restocking larva atau phyllosoma restocking. Melalui pendekatan ini, induk lobster ditempatkan sebagai biological capital atau modal biologis yang memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan populasi.

Larva yang dihasilkan melalui pemijahan terkontrol dapat dilepasliarkan kembali ke laut sebagai bagian dari strategi pemulihan stok. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengurangi tekanan akibat recruitment overfishing sekaligus membantu mengembalikan proses regenerasi benih lobster secara alami.

Dengan demikian, akuakultur tidak hanya dipahami sebagai aktivitas menghasilkan komoditas untuk pasar. Akuakultur juga ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat populasi alami, membangun cadangan biologis, dan menjaga kesinambungan sumber daya.

Dari Akuakultur Ekstraktif Menuju Sistem Sirkular

Selain persoalan benih, keberlanjutan budidaya lobster juga sangat ditentukan oleh kemampuan sistem produksi mengelola limbah. Sisa pakan dan feses yang tidak tertangani dapat menjadi sumber pencemaran dan menurunkan kualitas lingkungan perairan.

Karena itu, Yusnaini mengusulkan penerapan pendekatan Multi-Input Multi-Output Integrated Aquaculture (MIMTA) yang mengintegrasikan lobster dengan organisme lain sehingga limbah dari satu komponen dapat menjadi sumber daya bagi komponen lainnya.

Dalam sistem tersebut, lobster (Panulirus spp.) ditempatkan sebagai komoditas utama yang membutuhkan input pakan. Sementara itu, organisme lain berperan dalam menyerap atau memanfaatkan keluaran dari proses budidaya lobster.

Kerang mutiara (Pteria penguin) berfungsi menyaring limbah organik partikulat atau particulate organic matter (POM), termasuk sisa pakan dan feses. Pada saat yang sama, organisme tersebut dapat menghasilkan mutiara mabe, daging, dan cangkang yang memiliki nilai ekonomi.

Spons atau Porifera diarahkan untuk menyaring bahan organik terlarut atau dissolved organic matter (DOM) serta bakteri. Biomassa spons selanjutnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi.

Sementara itu, rumput laut (Kappaphycus alvarezii) berperan menyerap nutrien anorganik seperti nitrogen dan fosfor, sekaligus menyerap CO₂ serta menghasilkan oksigen. Dengan konfigurasi tersebut, proses budidaya tidak lagi melihat limbah sebagai beban semata, tetapi sebagai input yang dapat dimanfaatkan oleh komponen lain.

Pendekatan sirkular-regeneratif tersebut pada akhirnya diarahkan untuk menekan limbah, meningkatkan produktivitas, memperluas diversifikasi hasil produksi, sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari berbagai komponen ekosistem budidaya.

Teknologi, Etika, dan Kedaulatan Akuakultur

Paradigma baru akuakultur lobster, menurut gagasan tersebut, membutuhkan dukungan teknologi dan infrastruktur riset yang memadai. Indonesia perlu memperkuat pusat riset dan pembenihan atau hatchery nasional yang ditopang penelitian mengenai fisiologi reproduksi, pemenuhan kebutuhan nutrisi secara presisi, serta pemantauan kondisi lingkungan secara real time berbasis Internet of Things (IoT).

Penguasaan teknologi menjadi semakin penting karena keterbatasan kemampuan dalam memelihara larva hingga menjadi benih tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mempertahankan tata kelola yang bergantung pada eksploitasi alam.

Sebaliknya, keterbatasan teknologi harus menjadi dorongan untuk mempercepat riset, inovasi, pengembangan pembenihan, dan penguasaan ilmu bioekofisiologi sehingga Indonesia secara bertahap mampu membangun kedaulatan akuakultur berbasis teknologi.

Paradigma tersebut juga membawa dimensi etika ekologis. Keberlanjutan tidak hanya dipahami sebagai persoalan teknis, ekonomi, atau produksi, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab manusia terhadap ekosistem dan makhluk hidup di dalamnya.

Prinsipnya adalah menyediakan lingkungan budidaya yang nyaman dan sesuai agar biota laut dapat tumbuh serta berkembang berdasarkan karakteristik dan kodrat biologisnya.

Dengan cara pandang tersebut, manusia tidak semata-mata menjadi pemanen sumber daya, tetapi menjadi pengelola yang bertanggung jawab terhadap keberlanjutan kehidupan laut.

Paradigma akuakultur lobster berbasis bioekofisiologi dan sistem sirkular-regeneratif pada akhirnya menawarkan cara pandang yang lebih luas terhadap masa depan perikanan Indonesia. Produksi, teknologi, konservasi, regenerasi stok, ekonomi, dan etika ekologis ditempatkan dalam satu sistem yang saling terhubung.

Bagi Indonesia yang memiliki potensi marikultur sangat besar, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana meningkatkan produksi lobster, melainkan bagaimana membangun sistem produksi yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus memastikan sumber daya tersebut tetap tersedia bagi generasi mendatang.

___
Editor K. Azis