Kolaborasi BRIDA Kalimantan Timur, YEKHALI, dan FPIK Universitas Mulawarman Merawat Ekosistem Pesisir dan Memperkuat Riset Karbon Biru
PELAKITA.ID – Samarinda, Kalimantan Timur — Lamun mungkin terlihat sederhana. Tumbuhan yang hidup di dasar perairan dangkal ini sering kali kalah populer dibandingkan mangrove dan terumbu karang. Namun, di balik hamparannya yang hijau, lamun memiliki peran penting bagi kehidupan laut sekaligus dalam menyimpan karbon.
Menyadari pentingnya ekosistem tersebut, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalimantan Timur bersama Yayasan Ekonomi Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia (YEKHALI) dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman melaksanakan penelitian “Restorasi Lamun sebagai Upaya Peningkatan Carbon Storage di Provinsi Kalimantan Timur.”
Penelitian ini merupakan bagian dari Blue Carbon Research Series, rangkaian riset yang telah dikembangkan sejak tahun 2024 untuk memperkuat pengetahuan dan data mengenai ekosistem pesisir, khususnya potensi ekosistem laut dalam menyimpan karbon.
Dari biji menjadi bibit lamun
Penelitian diawali dengan pemaparan desain dan rencana penelitian di Kantor BRIDA Kalimantan Timur. Dari hasil pembahasan bersama, tim menyepakati penggunaan metode nursery-based seagrass restoration, yaitu pendekatan restorasi dengan terlebih dahulu membudidayakan atau membesarkan lamun di fasilitas persemaian sebelum ditanam kembali di habitat alaminya.
Tahap awal dilakukan pada 28–29 Juni melalui pengambilan buah lamun jenis Enhalus acoroides. Buah yang diperoleh kemudian dibawa ke fasilitas UPTD Balai Benih Sentral Air Payau dan Air Laut Manggar, Balikpapan, milik Dinas Kelautan dan Perikanan.
Di fasilitas tersebut, tim melakukan proses persiapan benih. Biji dikeluarkan dari dalam buah dan kemudian disemai pada kolam berisi air laut yang dilengkapi dengan aerator untuk menjaga kondisi perairan.
Setiap buah Enhalus acoroides dapat menghasilkan sekitar 4–6 biji, dan dalam penelitian ini sebanyak 637 biji berhasil disemai.
Selama proses persemaian, ketinggian air disesuaikan dengan perkembangan tanaman. Persemaian dilakukan selama kurang lebih sembilan minggu.
Dalam periode tersebut, tim juga melakukan pengamatan dan pengukuran pertumbuhan terhadap 269 sampel lamun. Hasil pengamatan pertumbuhan akan menjadi salah satu dasar untuk menentukan kondisi dan perlakuan yang paling sesuai dalam proses pembibitan lamun.
Dari persemaian kembali ke alam
Setelah melalui tahap persemaian, pada 15 September tim melakukan uji coba penanaman lamun hasil budidaya ke habitat yang telah ditentukan.
Tahap ini menjadi bagian penting dalam penelitian karena keberhasilan restorasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan lamun tumbuh di fasilitas persemaian, tetapi juga oleh kemampuannya untuk bertahan dan berkembang ketika dikembalikan ke lingkungan alaminya.
Pertumbuhan lamun yang telah ditanam akan kembali dipantau dalam dua minggu berikutnya. Pemantauan tersebut dilakukan untuk melihat tingkat keberhasilan adaptasi dan perkembangan tanaman setelah dipindahkan ke habitat alaminya.

Dr. M. Ir. H. Fitriansyah, S.T., M.M., dalam kegiatan uji coba penanaman, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengembangkan metode budidaya lamun sekaligus mendukung konservasi ekosistem laut.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari riset sekaligus ikhtiar kita untuk mengembangkan metode budidaya lamun. Kami ingin mengetahui bagaimana lamun dapat tumbuh secara optimal melalui berbagai perlakuan dan metode yang diterapkan.”
Menurutnya, kolaborasi antara BRIDA, YEKHALI, dan FPIK Universitas Mulawarman tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan metode budidaya yang efektif, tetapi juga untuk mendukung kegiatan restorasi lamun di alam.
“Lamun hasil budidaya nantinya akan ditanam kembali ke habitat alaminya. Jadi, kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang teknologi budidaya, tetapi juga bagaimana hasil riset dapat memberikan manfaat nyata bagi pemulihan dan keberlanjutan ekosistem laut.”
Ia berharap kegiatan tersebut dapat berkontribusi terhadap konservasi laut, menjaga keanekaragaman hayati, dan mempertahankan fungsi ekologis padang lamun sebagai habitat serta tempat mencari makan dan berlindung bagi berbagai organisme laut.
Lamun dan potensi ekonomi karbon biru
Direktur YEKHALI, Auliansyah, S.Kel., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan penelitian dan uji coba restorasi tersebut.
Menurutnya, pendekatan restorasi lamun berbasis persemaian ini merupakan salah satu langkah penting untuk mengembangkan solusi berbasis alam atau Nature-based Solutions (NbS) dalam menghadapi perubahan iklim.
“Ini merupakan langkah nyata untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui solusi berbasis alam. Ekosistem lamun tidak hanya penting bagi keanekaragaman hayati dan kehidupan masyarakat pesisir, tetapi juga memiliki peran dalam menyimpan karbon.”
Ia menjelaskan bahwa pengembangan riset karbon biru di Kalimantan Timur masih membutuhkan perjalanan panjang. Data mengenai karbon yang tersimpan (carbon stock) merupakan salah satu komponen penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan dinamika karbon suatu ekosistem.
“Kita sudah mulai memiliki data stok karbon. Ke depan, kita juga membutuhkan data mengenai emisi, perubahan stok, dan laju penyerapan karbon. Jika data tersebut semakin lengkap dan memenuhi standar yang diperlukan, maka akan terbuka peluang untuk dilakukan verifikasi melalui lembaga yang berwenang atau pihak ketiga,” terangnya.
Menurut Auliansyah, pengembangan data dan sistem pengukuran karbon yang kuat akan menjadi fondasi penting apabila di kemudian hari potensi karbon biru dari ekosistem pesisir dapat masuk ke dalam mekanisme pembiayaan atau perdagangan karbon yang sesuai dengan regulasi.
“Jika seluruh proses tersebut dapat dibangun dengan baik, manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan. Dalam jangka panjang, potensi ekonomi karbon biru juga dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah, khususnya masyarakat yang ikut menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir.”
Riset untuk laut, iklim, dan masyarakat
Restorasi lamun bukan sekadar menanam kembali tumbuhan di laut. Di balik proses tersebut terdapat rangkaian penelitian untuk memahami bagaimana lamun tumbuh, bagaimana tanaman dapat bertahan setelah dikembalikan ke habitat alaminya, serta seberapa besar kontribusinya terhadap fungsi ekologis dan penyimpanan karbon.
Karena itu, penelitian ini menjadi bagian dari upaya membangun basis data karbon biru Kalimantan Timur yang lebih lengkap dan terukur.
Kolaborasi BRIDA, YEKHALI, dan FPIK Universitas Mulawarman diharapkan dapat terus berkembang, tidak hanya dalam penelitian lamun, tetapi juga pada ekosistem pesisir lainnya seperti mangrove dan terumbu karang.
Riset ini diharapkan dapat menjembatani tiga kepentingan sekaligus: menjaga ekosistem laut, merespons perubahan iklim, dan menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menjaga lamun bukan hanya tentang menyelamatkan tumbuhan di dasar laut. Menjaga lamun berarti menjaga rumah bagi biota laut, menyimpan karbon, melindungi pesisir, dan menjaga masa depan ekonomi masyarakat pesisir Kalimantan Timur.
Redaksi









