PELAKITA.ID – DEPOK — Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meninjau langsung pelaksanaan Program Budi Daya Tematik berbasis sistem Mini Recirculating Aquaculture System (Mini RAS) di Depok, Jawa Barat, Selasa, 15 September 2026.
Peninjauan tersebut memperlihatkan arah baru pengembangan perikanan budidaya yang tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga menempatkan efisiensi penggunaan air dan keberlanjutan lingkungan sebagai bagian penting dari teknologi budidaya.
Mini RAS merupakan sistem budidaya yang memungkinkan air dalam sistem produksi diolah dan digunakan kembali melalui proses filtrasi. Dengan pendekatan tersebut, kondisi lingkungan pemeliharaan ikan dapat dikendalikan secara lebih optimal sekaligus menekan kebutuhan penggunaan air.
Trenggono mengatakan penerapan teknologi tersebut dirancang untuk menghadirkan model budidaya air tawar yang efisien dan ramah lingkungan. Sistem filtrasi bertahap memungkinkan kualitas air tetap terjaga dan mengalami resirkulasi secara optimal, yang pada akhirnya berkaitan dengan kondisi ikan yang dibudidayakan.
“Tentunya, kami tidak hanya mengejar produktivitas dan nilai ekonomi perikanan, tetapi juga memastikan penggunaan air yang hemat serta menjaga ekosistem sekitar tetap lestari,” kata Trenggono.
Menurutnya, pengembangan teknologi budidaya perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun sistem produksi perikanan yang mampu beradaptasi dengan keterbatasan sumber daya.
Karena itu, dukungan lintas kementerian menjadi penting dalam memperluas penerapan teknologi budidaya tersebut. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan siap mengembangkan 40.000 unit Mini RAS untuk diterapkan di ratusan desa perikanan potensial di Indonesia.
Dalam perkembangan terbaru, pemerintah juga menargetkan pengembangan budi daya ikan darat tematik di 40.000 lokasi sebagai bagian dari prioritas sektor kelautan dan perikanan periode 2026–2029. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat penyediaan protein ikan sekaligus membuka aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat desa.
Untuk tahap awal, KKP menyiapkan Mini RAS bagi komoditas nila dan lele. Ke depan, pengembangan teknologi tersebut juga direncanakan mencakup komoditas lain sesuai kebutuhan dan kesesuaian wilayah, termasuk pangasius, barramundi, kerapu, hingga jade perch.
Bagi Trenggono, teknologi budidaya tidak berhenti pada persoalan produksi. Sistem tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun perikanan yang lebih efisien sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Dengan dukungan penuh dari Kemenko Bidang Pangan, kami terus mendorong perikanan budidaya menjadi tulang punggung ketahanan serta kedaulatan pangan nasional,” ujarnya.
Pengembangan Mini RAS juga memperlihatkan bagaimana teknologi dapat ditempatkan dalam agenda pembangunan perikanan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Sistem budidaya yang menggunakan kembali air memungkinkan kegiatan produksi dilakukan dengan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien dan lingkungan pemeliharaan yang lebih terkontrol.
Pemerintah sebelumnya menyebut kesiapan lokasi menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan program budidaya ikan darat tematik. Kesiapan tersebut antara lain berkaitan dengan lahan, sumber air, kesesuaian tata ruang, akses jalan, serta ketersediaan listrik.
Pada akhirnya, pengembangan budidaya berbasis Mini RAS membawa pesan bahwa peningkatan produksi ikan tidak harus berjalan berlawanan dengan efisiensi sumber daya. Teknologi justru dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan kebutuhan pangan, produktivitas ekonomi, penguatan masyarakat desa, dan keberlanjutan lingkungan.
Dengan skala pengembangan yang direncanakan mencapai puluhan ribu unit, tantangan berikutnya bukan hanya memastikan teknologi tersedia, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kapasitas untuk mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan sistem tersebut sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Mini RAS tidak semata menjadi perangkat teknologi budidaya, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem perikanan darat yang lebih produktif, hemat sumber daya, dan berkelanjutan.









