Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Di sebuah stasiun televisi, terlihat running text : “MBG libur, harga daging ayam dan bumbu dapur turun.” Saya belum mendapatkan lebih detail tentang berita itu, namun sepintas, teks berjalan itu hanya menggambarkan perubahan harga di pasar.
Bila dibaca dengan kacamata ekonomi, kalimat tersebut sesungguhnya sedang mengirimkan sinyal bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi kekuatan baru yang mampu menggerakkan permintaan nasional.
Pasar tidak pernah berbohong. Ia selalu menjadi cermin paling jujur dari hubungan antara permintaan dan penawaran. Ketika jutaan porsi makanan diproduksi setiap hari, kebutuhan terhadap daging ayam, telur, cabai, bawang, minyak goreng, dan berbagai bahan pangan lainnya meningkat secara drastis.
Saat program itu berhenti sementara karena libur sekolah, permintaan mendadak berkurang. Akibatnya, harga sejumlah komoditas ikut melemah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program sosial. Ia telah berubah menjadi instrumen ekonomi yang memengaruhi struktur pasar pangan nasional.
Dalam bahasa ekonomi, meningkatnya permintaan agregat tanpa diimbangi kenaikan produksi berpotensi menciptakan demand-pull inflation, yaitu inflasi yang didorong oleh lonjakan permintaan.
Di sinilah tantangan sesungguhnya. Keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari banyaknya anak yang menerima makanan bergizi.
Keberhasilannya juga harus dilihat dari kemampuan negara menjaga stabilitas harga. Sebab, bila kenaikan permintaan tidak diantisipasi dengan peningkatan produksi, masyarakat yang tidak menikmati program secara langsung justru dapat menanggung beban melalui naiknya harga kebutuhan pokok.
Ironisnya, sebuah program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan bisa tanpa sengaja menekan daya beli kelompok lain jika rantai pasok tidak diperkuat.
Karena itu, MBG harus dipandang sebagai kebijakan lintas sektor. Pertanian, peternakan, perikanan, logistik, industri pangan, hingga distribusi harus tumbuh bersama. Program makan bergizi hanya akan berkelanjutan apabila produksi pangan nasional meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan permintaannya.
Di sisi lain, fenomena turunnya harga saat MBG libur juga membawa kabar baik. Artinya, pasar merespons program ini secara nyata.
Para peternak ayam, petani sayur, petani cabai, dan pelaku UMKM penyedia bahan pangan memperoleh pasar yang lebih pasti. Jika dikelola dengan baik, MBG dapat menjadi lokomotif kebangkitan ekonomi desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Namun, negara tidak boleh lengah. Pemerintah perlu membangun sistem peringatan dini terhadap gejolak harga, memperkuat cadangan pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, memperluas kemitraan dengan petani dan peternak lokal, serta memastikan distribusi berjalan efisien.
Inflasi yang terkendali akan membuat manfaat MBG dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya penerima program.
Berita “MBG libur, harga ayam dan bumbu dapur turun” akhirnya mengajarkan satu pelajaran penting bahwa kebijakan publik selalu memiliki efek berantai. Di balik sepiring makanan bergizi, ada denyut pasar, ada harapan petani, ada kerja keras peternak, dan ada tanggung jawab negara menjaga keseimbangan ekonomi.
Peradaban yang maju bukan hanya mampu memberi makan rakyatnya, tetapi juga mampu memastikan bahwa setiap kebijakan sosial berjalan seiring dengan stabilitas ekonomi.
Sebab, kesejahteraan yang sejati bukan hanya tentang tersedianya makanan di meja, melainkan juga tentang terjaganya daya beli seluruh warga negara.
____
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.









