Sudah pernah cicipi coklat premium celebes? “Belum,” jawab peserta asal Eropa menggelangkan kepala penasaran.
“Silahkan Anda nanti mampir dan rasakan sensasi coklat premium kami dijamin ketagihan, apalagi sambil seruput kopi Toraja,” kata Prof Muhammad Ruslin berpromosi. Wakil Rektor 1 bidang akademik dan kemahasiswaan Universitas Hasanuddin (Unhas) ini tampil sebagai pembicara dalam Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) dan Business Forum, pada 23–24 Juni 2026 di kota Makassar, Sulawesi Selatan.
PELAKITA.ID – Kegiatan skala internasional ini dihadiri 41 delegasi dari 28 negara yang berasal dari kawasan Asia, Eropa, Afrika, Amerika, hingga Pasifik.
Selain forum bisnis dan diplomasi, terdapat ajang exhibition expo local brand sebagai ruang promosi bagi UMKM dan industri kreatif lokal untuk menembus pasar internasional.
Sebagai institusi pendidikan tinggi Unhas memanfaatkan forum ini untuk memperkenalkan peluang kolaborasi di berbagai bidang, termasuk riset dan pendidikan, sistem pangan berkelanjutan, pertanian, pariwisata, budaya, dan inovasi.
Kerja sama ini, menurut Ruslin, dapat diwujudkan melalui riset bersama, pertukaran akademik, program pendidikan internasional serta kemitraan dengan sektor usaha dan industri.
Sekaligus menunjukkan kontribusi akademik yang nyata dalam memperluas jejaring global dan mendukung pengembangan gastronomi Indonesia yang berkelanjutan.
Beberapa waktu lalu saya bertamu di ruangan kerja WR 1 di lantai 7 kampus Tamalanrea yang asri, Ruslin pun menanyakan hal serupa. Di atas meja, terhidangkan pasta coklat premium dan juga ia menawarkan minuman kopi dengan racikannya sendiri.
Tapi jangan datang pada hari senin atau kamis, mejanya dijamin bersih dari makanan dan minuman. Karena ia rutin menjalankan ibadah puasa sunah. Tapi ia tetap menghormati tamunya yang tidak berpuasa dengan menawarkan minuman atau memesankan makanan.
Coklat premium celebes produksi Unhas tersebut, hadir dalam dua varian utama: dark chocolate dan milk chocolate. Untuk dark chocolate, tersedia kadar 60 hingga 65 persen. Namun bagi para penggemar rasa intens, varian 90 persen juga dapat dibuat sesuai permintaan, dengan tetap mengedepankan kualitas rasa dan aroma.
Selain coklat premium, ungkap Ruslin, dalam berbagai event Unhas kerap menampilkan produk unggulan hasil inovasi dan hilirisasi hasil riset.
Seperti “Jagung Jago”, varietas unggul yang siap mendongkrak produktivitas lahan. Lalu “Ayam Alope”, inovasi peternakan lokal yang tangguh dan bernilai eknomi tinggi. Ada juga produk drone pertanian, yang merupakan teknologi mutakhir untuk efisiensi pemupukan dan pemantauan lahan secara presisi.
“Dan masih banyak produk inovasi dan hasil riset lainnya di bidang kesehatan, farmasi, teknologi, dan sebagainya yang sudah dilirik kalangan industri untuk diproduksi massal agar bisa segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelasnya.
Dalam momen forum internasional itu, Ruslin menyampaikan gastrodiplomasi bukan sekadar promosi kuliner semata. Tapi sebuah ekosistem yang menghubungkan pendidikan, riset, inovasi pangan, penguatan sumber daya lokal, pariwisata, serta kemitraan antara pemerintah, industri, komunitas, dan mitra internasional.
Pernyataan guru besar FKG Unhas ini membuka cakrawala baru dalam memahami potensi gastronomi sebagai pilar pengembangan budaya dan ekonomi yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, Prof. Ruslin menjelaskan bahwa pengembangan gastronomi berbasis budaya dan inovasi memberikan peluang besar bagi Sulawesi Selatan untuk berperan aktif di kancah global.
“Jejak sejarah dan potensi lokal menjadi pijakan penting untuk memperkuat posisi Makassar dan Sulawesi Selatan dalam pengembangan gastronomi yang berdaya saing dan berkelanjutan,” jelasnya.
Apa yang dikatakan Ruslin adalah bahasa diplomasi versi lain dari Unhas. Seakan mengirim pesan kepada dunia: kami punya kemampuan dan jangan remehkan kami.
Di mana-mana setiap pamer inovasi dan riset selalu punya dua sisi. Di satu sisi meningkatkan rasa percaya diri. Di sisi lain bisa memicu perlombaan dengan praktek anomali yang diam-diam saling mencedarai.
Unhas ingin menunjukkan bahwa era inovasi dan riset tidak lagi hanya milik perguruan tinggi di Jawa. Dunia kini memasuki babak baru. Kompetisi bukan hanya soal jumlah lulusan, tetapi soal siapa yang paling cepat menguasai teknologi.
Inovasi dan riset boleh melaju dan melesat dengan kecepatan hipersonik. Tetapi keunggulan hakiki dengan kearifan lokal tetap membutuhkan kecepatan diplomasi. Seperti dilakukan Prof Muhammad Ruslin. * (Rusman Madjulekka).









