Kita bisa memiliki uang untuk membeli banyak hal, tetapi tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. Ketika kunci rumah berpindah dari tangan kita ke tangan tetangga, yang sebenarnya sedang kita serahkan bukan sekadar benda kecil dari logam. Kita menyerahkan rasa aman. Kita mempertaruhkan keyakinan bahwa orang lain tidak akan menggunakan kepercayaan itu untuk merugikan kita.
Tentang Kepercayaan, Jaringan, dan Kebudayaan Manusia
Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Pada sebuah sesi pelatihan, saya pernah mengajukan pertanyaan sederhana kepada para peserta. “Jika suatu hari Anda hendak keluar rumah dan harus menitipkan kunci rumah kepada salah seorang tetangga, kepada siapa kunci itu akan Anda titipkan?”
Hampir tanpa berpikir panjang, mereka menyebut satu nama. Saya kemudian bertanya, “Mengapa bukan kepada tetangga yang lain?” Jawabannya singkat. “Karena saya lebih mempercayai si A.”
Saya terdiam sejenak.
Pertanyaan tentang kunci rumah ternyata membawa kita kepada sesuatu yang jauh lebih besar daripada urusan membuka dan menutup pintu. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki ukuran kekayaan yang tidak pernah tercatat dalam rekening bank.
Ia tidak terlihat, tidak dapat ditimbang, bahkan sulit dijelaskan dengan angka. Namun ketika seseorang membutuhkan pertolongan, nilainya tiba-tiba terasa.
Kepercayaan adalah salah satunya.
Kita bisa memiliki uang untuk membeli banyak hal, tetapi tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. Ketika kunci rumah berpindah dari tangan kita ke tangan tetangga, yang sebenarnya sedang kita serahkan bukan sekadar benda kecil dari logam. Kita menyerahkan rasa aman. Kita mempertaruhkan keyakinan bahwa orang lain tidak akan menggunakan kepercayaan itu untuk merugikan kita.
Di situlah saya teringat pada Pierre Bourdieu, sosiolog dan pemikir Prancis yang banyak membicarakan hubungan antara kekuasaan, kebudayaan, pendidikan, kelas sosial, dan ketimpangan.
Bourdieu mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya bergerak di sekitar uang dan kepemilikan material. Ada bentuk-bentuk modal lain yang bekerja dalam kehidupan sosial, sering kali tanpa kita sadari.
Ada modal ekonomi, modal budaya, dan modal sosial. Ketiganya dapat menentukan posisi seseorang, membuka peluang, memperluas akses, bahkan memengaruhi bagaimana seseorang diterima dalam lingkungan sosialnya.
Modal ekonomi relatif mudah dikenali. Uang, tanah, rumah, kendaraan, tabungan, dan berbagai aset material dapat dihitung. Kita tahu berapa nilainya dan dapat membandingkannya.
Modal budaya lebih halus. Ia hadir dalam pendidikan, pengetahuan, keterampilan, bahasa, selera, cara berbicara, cara berpikir, bahkan kemampuan membaca situasi sosial. Ada pengetahuan yang kita bawa dalam kepala dan ada pula kebiasaan yang begitu melekat sehingga menjadi bagian dari cara kita menjalani kehidupan.
Lalu ada modal sosial.
Modal ini hidup di antara manusia. Ia tumbuh dalam keluarga, pertemanan, organisasi, komunitas, hubungan profesional, jaringan keagamaan, dan berbagai bentuk pergaulan. Ia bekerja ketika seseorang mendapatkan informasi dari seorang teman, memperoleh bantuan dari tetangga, dipercaya memegang amanah, atau diberi kesempatan karena seseorang mengenal rekam jejaknya.
Sering kali modal sosial bekerja tanpa suara.
Seorang nelayan mungkin tidak memiliki banyak uang, tetapi ia tahu kepada siapa harus bertanya ketika perahunya rusak. Seorang warga mungkin tidak memiliki jabatan, tetapi ketika ia berbicara, orang-orang mendengarkan karena mereka mengenalnya sebagai orang yang dapat dipercaya. Seorang ibu mungkin tidak mempunyai aset besar, tetapi jaringan keluarga dan tetangganya membuat ia tidak pernah benar-benar sendirian ketika menghadapi kesulitan.
Semua itu adalah kekayaan. Kekayaan semacam ini tidak pernah masuk dalam laporan neraca bank.
Indonesia memiliki persediaan modal sosial yang panjang. Gotong royong, kekerabatan, komunitas keagamaan, organisasi masyarakat, kelompok profesi, perkumpulan warga, hingga kebiasaan saling membantu adalah bagian dari pengalaman sosial yang tumbuh dalam perjalanan bangsa, namun kehidupan berubah.
Kita sekarang dapat berkomunikasi dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya hanya dalam hitungan detik. Kita dapat memiliki ratusan, bahkan ribuan, teman di media sosial. Kita dapat mengikuti percakapan banyak kelompok sekaligus. Secara teknis, jaringan manusia menjadi semakin luas.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih penting: apakah kepercayaan ikut meluas? Di sinilah paradoks zaman kita terasa.
Manusia semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat. Kita memiliki banyak koneksi, tetapi belum tentu memiliki banyak hubungan yang dapat diandalkan. Kita mengetahui lebih banyak tentang kehidupan orang lain, tetapi belum tentu semakin memahami mereka.
Media sosial memperluas pergaulan sekaligus memungkinkan manusia membangun ruang yang hanya berisi orang-orang dengan pandangan yang sama. Kita membaca pendapat yang kita sukai, mengikuti orang yang kita setujui, lalu tanpa sadar menganggap suara dari luar lingkaran sebagai sesuatu yang mengganggu.
Perbedaan yang semestinya menjadi kesempatan untuk mengenal orang lain sering berubah menjadi alasan untuk menjauh. Di sinilah modal sosial menghadapi persoalan baru.
Ikatan di dalam kelompok bisa menjadi sangat kuat. Keluarga semakin kompak, komunitas semakin solid, kelompok profesi semakin terorganisasi. Namun kemampuan membangun jembatan dengan kelompok lain dapat melemah. Kita mudah percaya kepada “orang kita”, tetapi membutuhkan waktu yang panjang untuk percaya kepada “orang mereka”.
Padahal masyarakat tidak pernah hanya terdiri dari “orang kita”. Ada tetangga yang berbeda agama. Ada rekan kerja yang berbeda pilihan politik. Ada warga yang berbeda kelas sosial. Ada komunitas yang berbeda kepentingan. Ada generasi yang berbeda cara memandang dunia.
Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang berhasil menghapus perbedaan. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki cukup kepercayaan untuk hidup bersama di tengah perbedaan.
Karena itu, persoalan modal sosial Indonesia hari ini mungkin bukan sekadar bagaimana mempertahankan gotong royong. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: sejauh mana gotong royong mampu keluar dari lingkaran sendiri?
Solidaritas keluarga perlu menemukan jalan menuju solidaritas sosial. Jaringan profesi perlu sesekali menoleh kepada kepentingan publik. Komunitas yang kuat perlu memiliki pintu yang cukup lebar bagi mereka yang berada di luar lingkarannya.
Kalau tidak, modal sosial justru dapat bekerja secara eksklusif. Kita dapat sangat peduli kepada kelompok sendiri dan pada saat yang sama tidak peduli kepada kelompok lain. Kita dapat membangun solidaritas yang kuat, tetapi solidaritas itu berhenti ketika berhadapan dengan orang yang berbeda.
Dalam keadaan seperti itu, jaringan yang semestinya menjadi jembatan justru dapat berubah menjadi pagar. Persoalan yang sama dapat kita lihat ketika modal ekonomi dan modal budaya berinteraksi dengan modal sosial.
Pendidikan, misalnya, sering dianggap sebagai jalan menuju mobilitas sosial. Tetapi akses terhadap pendidikan tidak pernah berdiri sendiri. Orang yang tumbuh dalam keluarga dengan jaringan luas, lingkungan yang mendukung, dan akses terhadap informasi biasanya memiliki keuntungan yang tidak selalu terlihat dalam ijazahnya.
Begitu pula dengan jaringan.
Ada orang yang mendapatkan kesempatan karena kemampuannya. Ada pula yang mendapatkan kesempatan karena seseorang mengenal dan mempercayainya. Keduanya bisa terjadi bersamaan. Karena itu, persoalannya bukan apakah jaringan sosial boleh bekerja, melainkan apakah jaringan itu membuka kesempatan atau justru menutup pintu bagi mereka yang berada di luar lingkaran.
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Modal sosial dapat menjadi kekuatan yang menyembuhkan masyarakat, tetapi juga dapat menjadi alat reproduksi ketimpangan ketika hanya berputar di antara orang-orang yang sama.
Khazanah Islam memberi lapisan makna yang menarik untuk persoalan ini. Al-Qur’an, dalam QS Al-Hujurat ayat 13, mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku lita’arafuu—agar saling mengenal.
Mengenal tentu bukan sekadar mengetahui nama, asal-usul, atau identitas seseorang. Ada proses yang lebih dalam: memberi ruang bagi manusia lain untuk hadir sebagai manusia. Kita tidak mungkin membangun kehidupan bersama jika setiap perbedaan selalu dibaca sebagai ancaman.
Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah, berbicara tentang ‘asabiyyah, solidaritas kelompok yang dapat menjadi energi penting dalam membangun masyarakat dan peradaban. Tetapi solidaritas memiliki sisi lain ketika ia berubah menjadi fanatisme. Ikatan yang pada awalnya membuat orang saling menjaga dapat berubah menjadi alasan untuk menolak orang lain.
Ketika rasa “kami” menjadi terlalu besar, “mereka” bisa kehilangan tempat. Di situlah modal sosial mulai kehilangan fungsi sosialnya. Kita perlu mengubah cara memandang kekayaan. Pertanyaannya tidak berhenti pada berapa banyak yang kita miliki, tetapi apa yang terjadi setelah kita memilikinya.
Uang dapat menghidupi orang lain. Pengetahuan dapat dibagikan. Pendidikan dapat membuka pintu bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan. Jaringan dapat digunakan untuk mempertemukan orang yang membutuhkan dengan mereka yang memiliki sumber daya. Kepercayaan dapat menjadi ruang aman bagi seseorang yang sedang berada dalam kesulitan.
Modal tidak lagi berbicara tentang kepemilikan. Ia berbicara tentang arah. Ke mana uang kita bergerak? Kepada siapa pengetahuan kita diberikan? Siapa yang kita perkenalkan kepada jaringan kita? Kepada siapa kita memberikan kesempatan? Dan siapa yang selama ini tidak pernah masuk dalam lingkaran kepercayaan kita?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dari sanalah kita bisa mengetahui apakah modal yang kita miliki benar-benar memperbesar kehidupan atau hanya memperbesar diri sendiri.
Saya kembali teringat pada kunci rumah yang dititipkan kepada tetangga. Tidak ada transaksi ekonomi di sana. Tidak ada kontrak panjang. Tidak ada jaminan dalam bentuk sertifikat. Hanya ada satu hal: kepercayaan. Justru di situlah salah satu kekayaan manusia yang paling tua sekaligus paling rapuh.
Kepercayaan membutuhkan waktu untuk tumbuh, tetapi dapat runtuh dalam satu peristiwa. Ia tidak dapat dipaksakan, apalagi dibeli. Ia dibangun dari pengalaman, konsistensi, kepedulian, dan keberanian untuk memperlakukan orang lain dengan hormat.
Sebuah bangsa dengan banyak uang tetapi sedikit kepercayaan akan selalu membutuhkan pagar yang lebih tinggi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki kepercayaan memungkinkan manusia membuka pintu lebih lebar.
Maka, barangkali modal terbesar sebuah bangsa memang bukan uang, gelar, jabatan, atau luasnya jaringan. Modal terbesar itu adalah kemampuan manusia untuk mempercayai, dipercaya, dan menggunakan apa yang dimilikinya untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain.
Selama seseorang masih bersedia menitipkan kunci rumah kepada tetangganya, selama tangan masih terulur kepada orang yang jatuh, dan selama kita masih mau duduk bersama mereka yang berbeda, barangkali kita belum kehilangan sesuatu yang paling penting.
Kita masih memiliki modal untuk membangun peradaban.
___
Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban.”










