PELAKITA.ID – MAGETAN — Ikan merupakan sumber protein yang mudah diperoleh dengan harga relatif terjangkau. Karena itu, peningkatan konsumsi ikan perlu terus didorong sebagai bagian dari upaya memperbaiki gizi masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi bagi rumah tangga.
Beragam jenis ikan yang telah akrab di masyarakat, seperti nila, lele, tongkol, bandeng, hingga tuna, dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah.
“Ikan dengan berbagai bentuk hasil pengolahan sangat penting bagi peningkatan gizi masyarakat. Ikan segar, ikan marinasi siap saji, keripik ikan, dan berbagai produk olahan lainnya disukai oleh semua kalangan,” tutur Riyono Caping, Anggota Komisi IV DPR RI.
Bersama Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Magetan, Riyono Caping menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemasaran dan Peningkatan Nilai Tambah Produk Perikanan di Rumah Aspirasi Sedulur Mas Riyono, Jambangan, Magetan.
Kegiatan tersebut diikuti 24 kelompok pengolah hasil perikanan, yang sekitar 90 persen anggotanya merupakan ibu-ibu.
Menurut Riyono, keterlibatan perempuan dalam usaha pengolahan hasil perikanan memiliki arti penting, bukan hanya untuk meningkatkan keterampilan, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga.
“Kehadiran 24 kelompok pengolah perikanan yang 90 persen anggotanya adalah ibu-ibu sangat penting untuk menambah ilmu sekaligus meningkatkan pendapatan rumah tangga mereka,” ujar legislator dari daerah pemilihan Magetan tersebut.
Dari Ikan Segar Menjadi Produk Bernilai Tambah
Pelatihan diversifikasi dan peningkatan nilai tambah produk perikanan menjadi sarana untuk memperkuat kapasitas Kelompok Usaha Bersama (KUB) di Kabupaten Magetan.
Peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga belajar mengembangkan produk agar lebih menarik, memiliki daya simpan lebih baik, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Berbagai produk telah dikembangkan oleh kelompok peserta, mulai dari bandeng presto, keripik ikan nila, produk frozen, nugget ikan, abon ikan, pepes ikan, hingga sambal ikan tuna.
Riyono melihat perkembangan tersebut sebagai modal penting bagi tumbuhnya ekonomi berbasis perikanan di tingkat rumah tangga.
“Ada yang omzetnya sudah mencapai Rp10 juta per bulan, ada yang sekitar Rp5 juta, dan ada juga yang baru merintis dengan hasil sekitar Rp2 juta. Melalui pendampingan penyuluh perikanan, usaha mereka bisa terus berkembang. Nilai tambah akan meningkatkan harga jual produk mereka,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan pengolahan hasil perikanan bukan hanya terletak pada produksi, tetapi juga pada kualitas produk, inovasi, pengemasan, pemasaran, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.
Karena itu, peningkatan kapasitas kelompok pengolah harus dilakukan secara berkelanjutan agar produk perikanan lokal tidak berhenti sebagai konsumsi rumah tangga, tetapi mampu menjadi sumber pendapatan.
Potensi Perikanan Air Tawar Magetan
Magetan sendiri memiliki potensi perikanan yang cukup besar, khususnya pada sektor budidaya ikan air tawar. Produksi budidaya tercatat sekitar 1.350 ton per tahun, sementara produksi dari perairan umum mencapai sekitar 37,4 ton per tahun, dengan sumber daya yang antara lain berasal dari sungai dan waduk.
Potensi tersebut menjadi peluang bagi pengembangan ekonomi lokal apabila diikuti dengan penguatan rantai nilai, mulai dari produksi, pengolahan, pengemasan hingga pemasaran.
“Pelatihan ini diikuti dengan antusias sejak awal. Materi tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga dipraktikkan bersama pelatih yang berpengalaman. Ini membuat peserta semakin bersemangat untuk meningkatkan mutu dan mengembangkan usaha perikanan mereka,” kata Riyono.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan melalui sinergi antara pemerintah, penyuluh perikanan, kelompok usaha, dan pelaku pasar.
Bagi Riyono, budaya gemar makan ikan tidak cukup hanya dibangun dari sisi konsumsi. Ia harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat yang mengolah dan menghasilkan produk perikanan.
Dengan demikian, ikan bukan hanya hadir di meja makan sebagai sumber protein, tetapi juga menjadi sumber pendapatan, pemberdayaan perempuan, dan penggerak ekonomi keluarga di Magetan.
Riyono Caping merupakan Anggota Komisi IV DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII, yang meliputi antara lain Kabupaten Magetan.
Redaksi









