9 Catatan Penting dari Moncobalang, Membaca Tantangan dan Peluang Komunitas Literasi Desa

  • Whatsapp
Bersama anggota Komunitas Literasi Desa Moncobalang (dok: Istimewa)
  • Salah satu isu yang mereka pelajari adalah grooming, sebuah persoalan yang penting dikenali, terutama karena dapat berkaitan dengan relasi sosial dan kehidupan anak muda di ruang digital.
  • Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Literasi juga berarti kemampuan membaca fenomena, memahami sebab, mencari pengetahuan, dan menerjemahkannya menjadi informasi yang dapat dipahami masyarakat.

PELAKITA.ID — Sebuah workshop tidak selalu selesai ketika materi berakhir dan peserta meninggalkan ruangan. Pada situasi tertentu, justru percakapan, pertanyaan, pengalaman, dan kegelisahan peserta menjadi bagian paling penting dari proses belajar.

Hal itu terasa dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Komunitas Literasi Desa Moncobalang, Kabupaten Gowa, Ahad, 20 September 2026, yang berlangsung di Aula Kantor Desa Moncobalang dan menghadirkan Kamaruddin Azis, Founder Pelakita.ID dan maritimeposts.com, sebagai pemantik sekaligus fasilitator.

Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi meresponsnya melalui pengalaman masing-masing dalam menggunakan media sosial, membangun personal branding, memproduksi pengetahuan, membaca persoalan psikologis, hingga berhadapan dengan algoritma digital.

Dari percakapan tersebut, setidaknya terdapat sembilan catatan penting yang dapat dibaca sebagai gambaran tantangan sekaligus peluang bagi komunitas literasi desa.

Terima kasih Komunitas Literasi Desa Moncobalang (dok: Istimewa)

1. Media Sosial Sudah Menjadi Ruang Kehidupan

Bagi peserta, media sosial bukan lagi sesuatu yang berada di luar kehidupan sehari-hari. Facebook, Instagram, dan TikTok telah menjadi bagian dari rutinitas, tempat memperoleh informasi, mengikuti cerita orang lain, sekaligus menemukan berbagai pengalaman baru.

Ada peserta yang masih aktif menggunakan Facebook untuk mengikuti berbagai cerita, termasuk perkembangan sepak bola dan aktivitas orang-orang dalam jejaring pertemanannya. Ada pula yang lebih banyak menggunakan Instagram dan TikTok karena melihat kedua platform tersebut lebih dekat dengan karakter generasi muda.

Catatan pentingnya adalah bahwa komunitas literasi perlu memahami kebiasaan digital anggotanya tanpa buru-buru menghakimi pilihan platform yang digunakan. Platform boleh berbeda, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakannya secara sadar, produktif, dan bertanggung jawab.

2. Personal Branding Bukan Sekadar Pamer Diri

Media sosial juga dipandang sebagai ruang membangun personal branding.

Salah seorang peserta menjelaskan bahwa personal branding penting untuk menunjukkan aktivitas dan produktivitas yang sedang dilakukan. Apa yang dikerjakan dapat didokumentasikan dan dibagikan sehingga orang lain mengetahui proses, kegiatan, maupun capaian yang telah dilakukan.

Personal branding tidak harus berarti memamerkan diri. Ia dapat menjadi cara untuk menginspirasi orang lain bahwa seseorang mampu melakukan sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Bagi komunitas literasi desa, pemahaman ini membuka peluang besar. Kegiatan membaca, diskusi, pengelolaan perpustakaan, pendidikan anak, aktivitas komunitas, maupun praktik baik di desa dapat dikomunikasikan melalui media sosial sehingga tidak berhenti sebagai pengetahuan lokal yang hanya diketahui oleh lingkaran terbatas.

3. Literasi Harus Bergerak dari Membaca ke Memahami

Salah satu pengalaman peserta memperlihatkan bahwa kegiatan literasi dapat berangkat dari persoalan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan observasi dan aktivitas lapangan, peserta berhadapan dengan berbagai persoalan sosial dan psikologis. Mereka kemudian mencoba mencari penjelasan melalui pengetahuan yang relevan.

Salah satu isu yang mereka pelajari adalah grooming, sebuah persoalan yang penting dikenali, terutama karena dapat berkaitan dengan relasi sosial dan kehidupan anak muda di ruang digital.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca teks. Literasi juga berarti kemampuan membaca fenomena, memahami sebab, mencari pengetahuan, dan menerjemahkannya menjadi informasi yang dapat dipahami masyarakat.

4. Media Sosial Bisa Menjadi Ruang Edukasi

Ketika sebuah komunitas menemukan persoalan di lapangan, media sosial dapat menjadi ruang untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi pengetahuan publik.

Materi tentang psikologi, misalnya, dapat dikemas secara sederhana agar masyarakat lebih mudah memahami perilaku tertentu yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, komunitas literasi memiliki peluang menjadi produsen pengetahuan, bukan hanya konsumen informasi.

Desa tidak harus selalu menjadi penerima informasi dari kota. Dengan pengalaman lokal, pengetahuan komunitas, dan kemampuan mengolah informasi, desa juga dapat memproduksi pengetahuan yang relevan dan membagikannya kepada masyarakat yang lebih luas.

5. Algoritma Perlu Dipahami, Bukan Sekadar Diikuti

Percakapan peserta kemudian menyentuh persoalan algoritma media sosial yang semakin menentukan jenis informasi yang muncul di layar pengguna. Apa yang ditonton, dicari, disukai, atau dibagikan dapat memengaruhi konten yang kemudian ditawarkan kepada pengguna.

Karena itu, muncul pertanyaan penting: apakah kita sepenuhnya memilih apa yang kita lihat, atau pilihan kita secara perlahan ikut dibentuk oleh sistem rekomendasi digital?

Pertanyaan ini menjadi penting bagi komunitas literasi karena kemampuan menggunakan media sosial perlu disertai kemampuan memahami cara kerja ruang digital.

Literasi digital dengan demikian bukan sekadar bisa membuka aplikasi, membuat unggahan, atau menggunakan fitur tertentu, tetapi juga memahami bagaimana informasi bergerak dan bagaimana perhatian manusia diperebutkan.

6. Kesadaran Diri Menjadi Modal Utama

Di tengah pembicaraan tentang algoritma, muncul satu hal yang lebih mendasar, yakni kesadaran diri. Sebelum seseorang menulis, mengunggah foto, membuat video, atau membagikan informasi, terdapat niat dan motivasi yang mendahuluinya.

Apa yang hendak disampaikan? Mengapa informasi itu penting? Kepada siapa pesan tersebut ditujukan? Apa manfaatnya bagi orang lain?Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi semacam penyaring sebelum seseorang masuk lebih jauh ke dalam arus informasi digital.

Dengan kesadaran seperti itu, pengguna tidak sekadar mengikuti apa yang sedang ramai, tetapi memiliki alasan dan tujuan ketika memproduksi maupun mengonsumsi konten.

7. Konten Positif Tidak Selalu Mendapat Respons Positif

Aktif di media sosial juga berarti siap berhadapan dengan beragam respons.

Peserta menyadari bahwa sebuah konten yang dibuat dengan niat baik tetap mungkin mendapatkan komentar negatif atau dipahami berbeda oleh orang lain. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari ruang digital yang mempertemukan banyak latar belakang, pengalaman, dan cara pandang.

Karena itu, komunitas literasi perlu membangun kemampuan komunikasi digital yang tidak hanya berorientasi pada produksi konten, tetapi juga pada kemampuan menerima perbedaan respons, memeriksa kembali informasi, dan merespons kritik secara proporsional.

8. Komunitas Literasi Memiliki Peluang Membangun Jejaring

Jika digunakan secara tepat, media sosial dapat memperluas jangkauan komunitas literasi Desa Moncobalang. Aktivitas yang sebelumnya hanya diketahui warga desa dapat diperkenalkan kepada komunitas lain, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, pemerintah, maupun jejaring literasi di daerah lain. Di sinilah dokumentasi menjadi penting.

Sebuah kegiatan membaca bersama, diskusi anak muda, pengelolaan perpustakaan, kelas kreatif, atau aktivitas sosial mungkin tampak sederhana bagi pelakunya, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain ketika didokumentasikan dan dikomunikasikan dengan baik.

Media sosial dengan demikian dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman lokal dengan jejaring yang lebih luas.

9. Desa Tidak Hanya Menjadi Konsumen Informasi

Catatan terakhir mungkin menjadi tantangan sekaligus peluang terbesar. Komunitas literasi desa memiliki kesempatan untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi yang diproduksi oleh pihak lain, tetapi menjadi produsen pengetahuan dari wilayahnya sendiri.

Narasumber, Kamaruddin Azis menyatakan, Moncobalang memiliki pengalaman, cerita, persoalan, praktik baik, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat yang dapat menjadi sumber pengetahuan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca realitas tersebut, mendokumentasikannya, mengolahnya menjadi cerita atau informasi, kemudian menyebarkannya melalui kanal yang tepat.

Dengan cara demikian, literasi desa dapat berkembang dari aktivitas membaca menjadi gerakan pengetahuan berbasis komunitas.

Dari Moncobalang, Literasi Menemukan Ruang Baru

Sembilan catatan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan komunitas literasi di desa tidak hanya berada pada ketersediaan buku atau ruang baca.

Tantangan baru hadir dalam bentuk arus informasi yang sangat cepat, algoritma yang bekerja di balik layar, perubahan perilaku generasi muda, kebutuhan membangun komunikasi publik, serta kemampuan membedakan informasi yang bermanfaat dari informasi yang menyesatkan. Setiap tantangan sekaligus membawa peluang.

Media sosial dapat digunakan untuk memperkuat personal branding komunitas, mendokumentasikan aktivitas, menyebarkan pengetahuan, memperluas jejaring, dan memperkenalkan praktik baik yang lahir dari desa. Karena itu, workshop di Moncobalang tidak semata-mata berbicara tentang bagaimana menggunakan media sosial.

Ia berbicara tentang bagaimana komunitas memahami perubahan, membaca lingkungan digital, dan menjaga kesadaran diri ketika berhadapan dengan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Literasi bukan hanya kemampuan membaca apa yang tertulis di halaman buku atau layar telepon.

Literasi adalah kemampuan membaca realitas, memahami perubahan, mempertanyakan informasi, mengolah pengalaman menjadi pengetahuan, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk membangun kehidupan bersama.

Dari Moncobalang, percakapan itu menemukan ruangnya sendiri: desa bukan sekadar tempat informasi diterima, tetapi dapat menjadi tempat pengetahuan diproduksi, dibagikan, dan diperluas melalui jejaring.

So, are you ready to write and publish it?

___
Sorowako, 22 September 2026