PELAKITA.ID – Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran, kolomnis Pelakita.ID membagikan narasi yang dia sebut sebagai doa kesabaran. Mari simak.
Ya Allah…
Kini Makassar sedang bersabar menunggu.
Di jalan-jalan yang panjang, kendaraan berderet ibarat untaian doa;
lampu-lampu menyala, mesin sesekali menggeram,
manusia berjejer di antara kebutuhan dan kesabaran.
Ya Allah,
jadikan panjangnya antrean tidak memanjangkan amarah.
Jadikan panasnya mesin tidak memanaskan hati.
Biarlah kendaraan kami menunggu giliran,
tetapi jangan biarkan persaudaraan kami kehilangan tempat.
Jadikan masyarakat tetap sabar,
agar Makassar tak kasar.
Jadikan pemerintah tetap tenang,
agar aoarat tak gusar.
Jadikan harga BBM tidak membesar,
agar keresahan tidak menjalar.
Jadikan amarah tidak membesar,
biar kesabaran yang terus mekar.
Ya Allah,
bila malam ini ada yang menunggu berjam-jam,
temanilah ia dengan ketenangan.
Bila ada yang kelelahan, lapangkan dadanya.
Bila ada yang hampir kehilangan sabar,
bisikkan ke dalam hatinya:
“Bukankah engkau masih memiliki Allah?”
Sebab kami tahu,
yang membuat sebuah kota tetap damai
bukan hanya lancarnya jalan dan adanya BBM,
tetapi hati-hati yang memilih menahan diri
ketika keadaan menguji.
Maka ya Allah,
jangan biarkan kelangkaan menjadi alas untuk saling menyalahkan.
Jangan biarkan antrean menjadi arena pertengkaran.
Jangan biarkan kesulitan kecil menumbuhkan luka yang panjang.
Biarkan Makassar tetap menjadi kota
yang keras bekerja, tetapi lembut hatinya.
Kota yang berani bersuara, tetapi tahu kapan menahan kata.
Kota boleh panas mentarinya,
tetapi tetap sejuk hatinya.
Dan ketika kami melihat antrean yang seolah tak berujung,
ingatkan kami bahwa hidup pun demikian:
kita semua sedang menunggu giliran,
menunggu rezeki, menunggu pertolongan,
hingga akhirnya menunggu waktu kembali kepada-Mu.
BBM jangan membesar harganya, jangan langka liternya.
Amarah jangan membesar, agar
Kesabaran yang membesar.
Kepedulian yang mengalir dan
persaudaraan yang mekar.
Dan di atas segala yang besar,
hanya Engkau yang benar-benar MAHA BESAR.
ALLAHU AKBAR.
Allah Maha Besar—
lebih besar dari antrean,
lebih besar dari kelangkaan,
lebih besar dari kegelisahan,
lebih besar dari kekasaran dan dari segala persoalan mendasar.
Semoga Makassar tetap damai,
meski harus lama mengantre.
Sebab kota yang besar bukan kota tanpa masalah,
melainkan kota yang mampu menjaga hati
ketika masalah datang menguji.
____
Muliadi Saleh : ” Menulis Makna, Membangun Peradaban.”









