Rumah Terang di Mallusetasi, Hemat Listrik Menjadi Bagian dari Ikhtiar Mencegah Stunting

  • Whatsapp
Gagasan tersebut dikemas dalam program “Rumah Terang”, sebuah program kerja individu yang digagas Ahmad Naufal Tsaqib, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, dan dilaksanakan pada Kamis, 6 Agustus 2026, di Aula Kantor Kelurahan Mallusetasi.

PELAKITA.ID – PAREPARE — Bagaimana jika mematikan lampu yang tidak digunakan, mencabut charger, atau mengganti lampu biasa dengan LED ternyata bukan sekadar urusan menghemat listrik?

Di Kelurahan Mallusetasi, Kecamatan Ujung, Kota Parepare, mahasiswa KKN Tematik (KKN-T) 116 Universitas Hasanuddin mencoba membawa gagasan sederhana itu ke ruang yang lebih luas: hemat energi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan mendukung pencegahan stunting.

Gagasan tersebut dikemas dalam program “Rumah Terang”, sebuah program kerja individu yang digagas Ahmad Naufal Tsaqib, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, dan dilaksanakan pada Kamis, 6 Agustus 2026, di Aula Kantor Kelurahan Mallusetasi.

Warga, kader Posyandu, pengurus RT/RW, dan perangkat kelurahan hadir dalam kegiatan yang tidak sekadar berisi ceramah tentang listrik. Mereka diajak melihat kembali kebiasaan sehari-hari di rumah: berapa banyak listrik yang digunakan, perangkat apa saja yang sebenarnya tidak perlu menyala, dan bagaimana penghematan kecil dapat berpengaruh terhadap pengeluaran keluarga.

Dari Sakelar ke Meja Makan Keluarga

Di sinilah menariknya Rumah Terang. Hemat energi biasanya dibicarakan dalam konteks lingkungan atau pengurangan konsumsi listrik. Namun, mahasiswa KKN-T 116 Unhas membawa perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan keluarga: uang yang berhasil dihemat dari pengeluaran listrik dapat memberi ruang bagi kebutuhan rumah tangga lainnya.

Dalam konteks pencegahan stunting, ruang ekonomi tersebut menjadi relevan karena keluarga membutuhkan kemampuan mengelola sumber daya untuk memenuhi kebutuhan prioritas, termasuk pangan bergizi dan kebutuhan kesehatan.

Program ini tentu bukan intervensi gizi secara langsung. Tetapi, ia mencoba menyentuh salah satu fondasi penting keluarga: kemampuan mengelola pengeluaran secara bijak.

Dengan kata lain, stunting tidak selalu harus dibicarakan hanya dari meja Posyandu. Ia juga dapat dibicarakan dari ruang keluarga, termasuk ketika keluarga belajar mengelola konsumsi listrik.

Belajar Menghemat dengan Cara yang Praktis

Dalam kegiatan tersebut, warga diperkenalkan pada sejumlah langkah sederhana. Mulai dari penggunaan lampu LED, pengaturan beban listrik, mencabut charger setelah digunakan, hingga memastikan perangkat elektronik benar-benar mati ketika tidak lagi diperlukan.

Ada pula edukasi mengenai keselamatan kelistrikan atau K3, sehingga hemat energi tidak dipisahkan dari aspek keamanan penggunaan listrik di rumah. Yang menarik, warga tidak hanya mendengar teori. Mereka diajak melakukan simulasi perhitungan potensi penghematan energi menggunakan Tabel Referensi Hemat Energi.

Pendekatan semacam ini membuat angka konsumsi listrik menjadi lebih mudah dipahami. Warga dapat melihat bahwa kebiasaan kecil, jika dilakukan terus-menerus, dapat menghasilkan penghematan yang lebih berarti.

Seorang warga yang mengikuti kegiatan mengaku mendapatkan perspektif baru dari sosialisasi tersebut.

“Selama ini kami kurang menyadari bahwa penghematan pengeluaran listrik sehari-hari sebenarnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lain. Tips dan pemaparannya sangat praktis untuk langsung diterapkan di rumah.”

KKN dan Gagasan yang Tinggal Setelah Mahasiswa Pergi

Bagi Ahmad Naufal Tsaqib, tantangan sebuah program KKN bukan hanya bagaimana kegiatan terlaksana, tetapi apakah gagasannya tetap hidup setelah mahasiswa kembali ke kampus. Karena itu, ia berharap kebiasaan hemat energi yang diperkenalkan melalui Rumah Terang dapat diterapkan warga dalam kehidupan sehari-hari.

Harapannya sederhana: lampu yang tidak diperlukan dimatikan, perangkat elektronik digunakan seperlunya, charger tidak dibiarkan terpasang tanpa fungsi, dan masyarakat semakin memahami keamanan dalam menggunakan listrik. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah budaya hemat energi diharapkan tumbuh.

Pihak kelurahan, kader Posyandu, dan warga memberikan apresiasi terhadap program tersebut karena menghadirkan pengetahuan praktis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Rumah Terang, Gagasan Kecil dengan Efek Berantai

Ada pelajaran menarik dari program ini.

Pembangunan masyarakat sering kali dibayangkan melalui program besar, anggaran besar, atau infrastruktur besar. Padahal, perubahan perilaku kadang dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana—sebuah sakelar yang dimatikan tepat waktu.

Rumah Terang mencoba menghubungkan beberapa hal yang selama ini sering dibicarakan secara terpisah: energi, ekonomi keluarga, keselamatan, kesehatan, dan ketahanan rumah tangga.

Ketika konsumsi listrik lebih terkendali, pengeluaran dapat ditekan. Ketika pengeluaran lebih terkelola, keluarga memiliki ruang untuk menentukan prioritas. Dan ketika keluarga semakin sadar terhadap kebutuhan dasar anak, ikhtiar pencegahan masalah gizi dapat dilakukan lebih baik.

Tentu, tidak ada satu program yang mampu menyelesaikan persoalan stunting sendirian. Tetapi program seperti Rumah Terang menunjukkan bahwa kontribusi terhadap kesehatan keluarga dapat datang dari berbagai pintu.

Kali ini, pintunya datang dari energi listrik. Dari Mallusetasi, mahasiswa KKN-T 116 Unhas mengingatkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang rumit. Kadang, ia dimulai dari rumah yang lebih terang, penggunaan listrik yang lebih bijak, dan keluarga yang semakin cerdas mengelola sumber dayanya.