Perkuat Pariwisata Berkelanjutan, Departemen HI Unhas Gandeng Pemkab Sinjai dan Peneliti Australia dalam Program Pengabdian Masyarakat

  • Whatsapp
Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) sukses menyelenggarakan Program Pengabdian kepada Masyarakat di Kabupaten Sinjai pada tanggal 5 hingga 7 Agustus 2026

PELAKITA.ID – Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) sukses menyelenggarakan Program Pengabdian kepada Masyarakat di Kabupaten Sinjai pada tanggal 5 hingga 7 Agustus 2026.

Mengangkat tema “Penguatan Kolaborasi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Melalui Pendekatan Diplomasi, Tata Kelola, dan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Sinjai”, kegiatan ini dipusatkan di Command Centre Rumah Jabatan Bupati Sinjai yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sinjai, H. Andi Mandasini, S.IP., M.SE, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, wartawan, serta para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.

Program kolaboratif ini dibuka secara resmi oleh Bupati Sinjai, Ibu Hj. Ratnawati Arif, M.Si., dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya riset dan keilmuan dari perguruan tinggi untuk mendorong berbagai sektor pembangunan daerah, khususnya sektor kepariwisataan.

Upaya ini dipandang sangat strategis mengingat keterbatasan kemampuan fiskal daerah yang hanya memiliki porsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sekitar 10 persen.

Oleh karena itu, kolaborasi yang erat dengan akademisi dan keterlibatan sektor swasta menjadi kunci utama dalam memajukan pariwisata daerah.

Lebih lanjut, Bupati Sinjai juga menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran Tim PKM Unhas, melalui agenda Laboratorium HI Unhas yang diketuai oleh Dr. H. Adi Suryadi Culla, M.A., serta yang turut membersamai dosen tamu asal Australia, Dr. Peter Lilly.

Bupati menekankan keunikan Kabupaten Sinjai yang memiliki bentang alam “Tiga Dimensi”, yaitu wilayah pegunungan, dataran rendah, hingga wilayah laut luas seperti di Kecamatan Pulau Sembilan yang memiliki pulau terkecil di Indonesia, Pulau Lapoipoi.

Bupati juga mengimbau agar pengembangan pariwisata tetap mempertahankan kearifan lokal (local wisdom), seperti penggunaan kasur kapuk alami yang sehat di penginapan daripada memaksakan penggunaan spring bed. Namun, di sisi lain, standar sanitasi internasional seperti toilet yang higienis tetap harus disiapkan demi kenyamanan wisatawan asing.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sinjai, Haji Andi Mandasini, S.IP., M.SE dalam sambutan pengantarnya, memaparkan kekayaan pariwisata serta rangkaian event budaya tahunan yang konsisten dijaga oleh pemerintah daerah.

Beberapa di antaranya adalah festival budaya Ma’rimpa Salo yang direncanakan berlangsung pada 10 Oktober, serta Sinjai Culture Fest pada 12 Agustus 2026 di Benteng Balangnipa untuk mendekatkan kembali masyarakat pada cagar budaya daerah. Selain itu, terdapat pula tradisi Megosi Hanua di Kecamatan Bulupoddo dan Mapo Hanua di Kecamatan Sinjai Tengah.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sinjai ini juga menyoroti pentingnya menjaga estetika objek wisata unggulan seperti Kampung Galung di Desa Barania, yang pernah meraih juara kedua dalam ajang Desa Wisata Nasional.

Beliau mengungkapkan bahwa setelah tanggal 17 Agustus, Dinas Pariwisata berencana mengedukasi para pemilik lahan di Kampung Galung terkait larangan mendirikan bangunan permanen di pinggir sawah agar keindahan pemandangan alamnya tidak tertutup semen.

Selain itu, edukasi mengenai pengelolaan sampah akan digalakkan seiring dengan penambahan fasilitas baru, seperti mini waterboom dan fly box , di kawasan tersebut. Potensi kopi lokal di Kawasan Wisata Madaya, Desa Arabika, juga terus didorong melalui penyediaan sarana wisata yang memadai bagi masyarakat.

Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unhas, Prof. Seniwati, S.Sos., M.Hum., Ph.D, menjelaskan bahwa pengabdian ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik kampus dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang relevan, aplikatif, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia memaparkan konsep diplomasi modern yang kini meluas menjadi kolaborasi aktif antara pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, hingga komunitas lokal untuk mempromosikan potensi daerah ke tingkat nasional maupun internasional.

Prof. Seniwati juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2026, tim dosen Unhas berhasil meraih pendanaan kompetitif dari Kementerian Riset dan Teknologi di Jakarta untuk memberikan bantuan langsung kepada pelaku usaha wisata lokal di Pulau Barrang Caddi Kota Makassar, berupa bantuan makanan beku (frozen food) senilai lebih dari Rp3 juta serta peralatan penunjang usaha tahan lama senilai lebih dari Rp10 juta. Sehingga berharap juga dapat dilakukan di Kabupaten Sinjai ke depannya.

Rangkaian acara ini diisi dengan pemaparan materi aplikatif, antara lain materi mengenai “Standar ASEAN Mengenai Pariwisata” yang dibawakan oleh Munif Arif Ranti, S.IP., M.A., serta “Sosialisasi Kelas Internasional” yang dibawakan oleh Muhammad Fajhriyadi Hastira, S.IP., M.H.I.

Hadir pula memberikan pandangan ilmiah, Ketua Laboratorium HI Unhas Dr. H. Adi Suryadi Culla, M.A., Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional yakni Imam Fadhil Nughraha, S.IP., M.A, bersama dosen tamu dari Australia, Dr. Peter Lilly. Serta Syafiqa Azzahra Djibran yang merupakan Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional angkatan 2025.

Dalam sesi diskusi, tantangan pariwisata Sinjai dibahas secara mendalam. Zainal Abidin, perwakilan redaksi media Sinjai Info, mengapresiasi kegiatan ini dan menyoroti pentingnya konsistensi lintas sektor serta perlunya pembaruan kebijakan pariwisata dalam Rippankab (Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten) agar selaras dengan tren pariwisata terkini.

Menanggapi masukan kritis tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sinjai, H. Andi Mandasini, S.IP., M.SE, menyatakan kesepakatannya terhadap poin-poin yang disampaikan oleh Zainal Abidin. Beliau menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyelaraskan konektivitas pariwisata secara terintegrasi dari wilayah pantai hingga ke wilayah pegunungan, seperti kawasan wisata “Negeri Berselimut Kabut” di dataran tinggi.

Andi Mandasini tidak menampik bahwa kendala utama yang dihadapi saat ini adalah kebijakan efisiensi anggaran daerah. Namun demikian, beliau menegaskan bahwa keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak akan menyurutkan langkah pemerintah daerah.

Dinas Pariwisata secara aktif mencari alternatif pendanaan dari luar, termasuk berkolaborasi dengan dunia usaha untuk mendapatkan sponsor dan dana Corporate Social Responsibility (CSR) demi menjaga keberlangsungan pengembangan destinasi wisata dan penyelenggaraan festival budaya di Sinjai.

Sementara itu, Nurlina, salah satu pelaku UMKM dengan usaha “Kerupuk Mama Ina”, menyampaikan rasa syukurnya karena dapat mengikuti pelatihan ini dengan harapan agar produk-produk UMKM lokal Sinjai dapat semakin dikenal luas.

Sinergi antara akademisi Unhas, peneliti internasional, pemerintah daerah, media massa, dan pelaku usaha lokal ini diharapkan menjadi pemantik bagi Kabupaten Sinjai untuk terus berkembang menuju destinasi wisata berdaya saing global.