Inovasi Teknologi Perkuat Pengelolaan Taman Nasional Perairan Laut Sawu

  • Whatsapp
Teknologi pemantauan suara bawah air berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi mamalia laut dan aktivitas laut secara lebih efektif buatan blueOASIS yang akan diuji di Pulau Batek, Pulau Ndao, Pulau Salura, dan Pulau Sabu sebagai bagian dari inisiatif Global Ocean Innovation Challenge. (Foto: blueOASIS)

PELAKITA.ID — Inovasi teknologi menjadi salah satu kunci penting untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan di Indonesia. Melalui Global Ocean Innovation Challenge (GOIC), dua solusi teknologi mutakhir akan diuji coba di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penerapan inovasi ini ditujukan untuk mengoptimalkan pemantauan, serta menyajikan data yang lebih akurat demi mendukung pengambilan kebijakan tata kelola kawasan. Peluncuran uji coba tersebut dilaksanakan di Kupang pada Rabu (12/8/2026) dalam forum “Sinergi Biru untuk Taman Nasional Perairan Laut Sawu”.

GOIC merupakan inisiatif yang dikembangkan oleh The Nature Conservancy (TNC), YKAN dan Newlab untuk mendorong pengembangan serta penerapan solusi inovatif dalam menjawab berbagai tantangan kelautan.

Di Laut Sawu, Havoc dari Amerika Serikat akan menguji Autonomous Surface Vessel (ASV), kapal nirawak yang dapat memperluas jangkauan pemantauan kawasan.

Sementara itu, blueOASIS dari Portugal akan menguji stasiun pemantauan suara bawah air berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi mamalia laut dan aktivitas pemanfaatan kawasan konservasi secara lebih efektif.

Teknologi dari blueOASIS akan diuji coba di Pulau Batek, Pulau Ndao, Pulau Salura, dan Pulau Sabu, sedangkan teknologi dari Havoc akan diuji coba di Pulau Sabu.

TNP Laut Sawu merupakan kawasan konservasi perairan nasional terbesar di Indonesia dengan luas 3,35 juta hektare. Berada di jantung Segitiga Terumbu Karang, kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati laut yang tinggi dan menjadi jalur migrasi berbagai mamalia laut.

Luas kawasan dan karakter wilayah kepulauan menjadikan pemantauan dan pengelolaannya membutuhkan kolaborasi lintas pihak serta dukungan teknologi yang mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan.

“Pengelolaan kawasan konservasi perlu terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Inovasi dapat membantu meningkatkan efektivitas pemantauan, memperkuat ketersediaan data, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan dan menjadi bagian dari sistem yang telah dibangun,” terang Direktur Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan, Firdaus Agung.

Menurut Firdaus, uji coba di Laut Sawu juga penting bukan semata untuk menguji kemampuan teknologinya, tetapi untuk melihat manfaatnya dalam konteks pengelolaan kawasan secara nyata.

“Uji coba di Laut Sawu menjadi kesempatan penting untuk melihat bagaimana solusi inovatif dapat memberikan pembelajaran dan manfaat nyata bagi pengelolaan kawasan konservasi,” lanjutnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan pengelolaan di lapangan. Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Kupang, Imam Fauzi mengatakan bahwa teknologi akan lebih bermakna apabila dapat memperkuat sistem yang sudah dimiliki, bukan berdiri sebagai sistem yang terpisah.

“Teknologi bukan mengganti sistem pengelolaan yang sudah berjalan, tetapi menjadi alat untuk memperkuatnya. Dengan wilayah laut yang luas seperti Laut Sawu, kita perlu terus mengembangkan cara-cara baru untuk meningkatkan efektivitas pemantauan dan pengawasan,” kata

Uji coba GOIC, lanjut Imam, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan dalam kondisi nyata di Laut Sawu. Pembelajaran tersebut nantinya dapat menjadi bahan untuk menentukan bentuk pemanfaatan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan pengelolaan kawasan.

Dengan demikian, inovasi teknologi ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem kolaborasi yang lebih besar. Data yang dihasilkan tidak berhenti pada pemantauan, tetapi diharapkan dapat memperkuat perencanaan, membantu pengambilan keputusan, dan memperkaya pengetahuan mengenai kondisi kawasan.

Selain mendukung penerapan inovasi teknologi, YKAN juga terus memperkuat pengelolaan TNP Laut Sawu melalui empat strategi yang saling melengkapi, yaitu perlindungan laut, perikanan berkelanjutan, ketahanan pesisir, dan ekonomi biru.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui berbagai program bersama pemerintah, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya.

Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Stefania T. Boro dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, lembaga riset, akademisi, LSM, kelompok nelayan, pelaku usaha, serta mitra pembangunan lainnya agar pengelolaan kelautan dan perikanan berjalan secara harmonis dan inklusif.

Lebih lanjut Stefania mencontohkan pengembangan budi daya rumput laut berkelanjutan sebagai peluang kolaborasi untuk mempertemukan kepentingan ekonomi dan konservasi.

Selain itu, pengelolaan Laut Sawu tidak hanya dipandang sebagai pengelolaan kawasan konservasi, tetapi juga harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat NTT.

Berbagai upaya kolaboratif, termasuk penerapan teknologi dan penguatan pengelolaan kawasan, diharapkan mendukung keberlanjutan perikanan, meningkatkan kapasitas pengelolaan di daerah, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir.

“Pengelolaan Laut Sawu harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem. Salah satunya melalui pengembangan budi daya rumput laut berkelanjutan sebagai salah satu komoditas unggulan di Provinsi NTT yang juga didukung oleh YKAN. Pendekatan budi daya tidak hanya perlu memperhatikan produktivitas, tetapi juga daya dukung lingkungan dan kapasitas masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menyampaikan bahwa pengelolaan TNP Laut Sawu harus dibangun melalui keterhubungan berbagai pendekatan.

“TNP Laut Sawu memiliki nilai ekologis dan sosial yang sangat penting. Tantangan pengelolaannya kompleks dan lintas wilayah. Karena itu, berbagai pihak perlu bekerja bersama, berbagi pengetahuan dan data, serta menyelaraskan dukungan. Teknologi menjadi salah satu alat yang dapat membantu menjawab tantangan tersebut,” ujarnya.

Dengan kolaborasi yang semakin kuat dan didukung oleh teknologi, pengelolaan TNP Laut Sawu diharapkan tidak hanya mampu menjaga ekosistem laut, tetapi juga memastikan Laut Sawu tetap menjadi ruang hidup yang sehat dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.