- Yahya menekankan bahwa dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri merupakan instrumen utama. Karena itu, kualitas data sangat bergantung pada pengetahuan, kepekaan, dan kemampuan peneliti dalam membaca situasi wawancara.
- Seseorang yang tampak “pro” belum tentu sepenuhnya pro, sebagaimana seseorang yang terlihat “kontra” belum tentu benar-benar menolak. Apa yang tampak di depan panggung perlu dibandingkan dengan pengalaman dan relasi yang berlangsung di belakangnya.
PELAKITA.ID – Riset komunitas tidak selalu dimulai dari pertanyaan yang telah tersusun rapi. Ia sering bermula dari percakapan, pengamatan, kedekatan, bahkan dari hal-hal kecil yang tampaknya tidak berkaitan langsung dengan masalah penelitian.
Dalam percakapan penulis dengan antropolog Universitas Hasanuddin, Dr. Yahya Kadir, pembahasan tentang metode penelitian kemudian berkembang menjadi percakapan yang lebih luas tentang bagaimana seorang peneliti memasuki kehidupan komunitas dan membaca realitas sosial secara lebih mendalam.
Bagi Yahya, salah satu perangkat penting dalam penelitian kualitatif adalah pedoman wawancara.
Pedoman tersebut disusun berdasarkan masalah penelitian dan berfungsi sebagai semacam peta agar percakapan tetap berada dalam ruang isu yang hendak dikaji. Namun, pedoman wawancara bukanlah daftar pertanyaan yang harus dibacakan secara kaku.
Dalam penelitian mendalam, Indepth Interview, peneliti justru dituntut untuk mampu mengembangkan percakapan berdasarkan jawaban informan.
Di sinilah konsep probing menjadi penting. Ketika seorang informan menyampaikan satu informasi, peneliti tidak berhenti pada jawaban pertama.
Ia menggali, memperdalam, meminta contoh, mencari pengalaman lain, menguji konsistensi jawaban, hingga memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Yahya menekankan bahwa dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri merupakan instrumen utama. Karena itu, kualitas data sangat bergantung pada pengetahuan, kepekaan, dan kemampuan peneliti dalam membaca situasi wawancara.
Kamaruddin kemudian menghubungkan gagasan tersebut dengan pengalaman riset komunitas yang selama ini dilakukannya.
Ia setuju bahwa sejumlah tema yang dapat menjadi pintu masuk untuk membaca kehidupan warga, mulai dari industrialisasi dan modernisasi hingga sumber daya, norma, organisasi, kepemilikan tanah, hutan dan air, modal, pengetahuan, keterampilan, teknologi, hingga jejaring sosial.
Semua itu tidak harus ditanyakan sekaligus, tetapi dapat dikembangkan mengikuti arah percakapan dengan informan.
Yahya lalu memperkenalkan satu teknik lain yang menarik, yakni pertanyaan kontras.
Ia memberi contoh sederhana tentang seorang penjual buah. Jika peneliti bertanya, “Apakah buah ini manis?”, hampir pasti penjual akan menjawab bahwa buah tersebut manis.
Pertanyaan itu terlalu dekat dengan kepentingan informan untuk menjual produknya. Namun ketika pertanyaannya dibalik menjadi, “Yang mana yang kecut?”, ruang jawaban menjadi lebih terbuka. Dari perbedaan pertanyaan semacam itu, peneliti dapat memperoleh informasi yang sebelumnya mungkin tersembunyi.
Percakapan kemudian bergerak pada satu konsep yang sangat penting dalam penelitian etnografi, yaitu rapport. Sebelum melakukan wawancara mendalam, kata Yahya, peneliti perlu membangun hubungan dengan orang yang diteliti.
Hubungan itu tidak sekadar membuat informan bersedia berbicara, tetapi menciptakan tingkat kenyamanan tertentu sehingga percakapan dapat bergerak melampaui jawaban-jawaban formal.
Masalahnya, manusia memiliki kecenderungan melakukan impression management.
Ketika pertama kali bertemu peneliti, seseorang dapat menampilkan dirinya sebagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain. Yahya menghubungkan hal ini dengan konsep dramaturgi: terdapat semacam “panggung depan” tempat seseorang memainkan peran tertentu, sementara realitas di balik panggung belum tentu sama dengan apa yang ditampilkan.
Dalam konteks penelitian komunitas, persoalan tersebut menjadi sangat penting. Seorang warga dapat mengatakan dirinya sangat mendukung suatu perusahaan, organisasi, atau kebijakan ketika berada di hadapan peneliti. Tetapi sikap yang sama belum tentu muncul dalam percakapan informal, relasi keluarga, forum warga, atau pengalaman sehari-hari.
Karena itu, satu jawaban tidak cukup untuk menyimpulkan posisi seseorang. Peneliti perlu memahami konteks, mengamati perilaku, membangun relasi, dan melakukan pendalaman secara bertahap.
Penulis mengingat kembali pengalaman di proyek JICA CD Project nun lampau, yang disebut Wada Nobuaki sebagai entry point dalam wawancara.
Percakapan tidak selalu harus dimulai dengan pertanyaan penelitian yang formal. Ketika seorang warga menyuguhkan pisang, misalnya, peneliti dapat memulai dari rasa pisang itu, bertanya di mana ditanam, berapa lama masa tanamnya, bagaimana cara merawatnya, dan seterusnya.
Dari percakapan yang sederhana itu, peneliti perlahan memasuki informasi faktual yang lebih luas.
Cara tersebut sekaligus dapat membantu membangun rasa percaya diri informan dan menempatkannya sebagai orang yang memiliki pengetahuan penting.
Dalam percakapan itu, penulis menyebut bahwa entry point dapat membantu membangun self-esteem, impression, dan rapport sebelum wawancara berkembang ke isu yang lebih substantif.
Bagi Yahya, kedekatan dengan komunitas tidak dapat dibangun dalam satu atau dua kali pertemuan.
Yahya mengingatkan bahwa penelitian antropologi memang tidak selalu singkat.
Ketika peneliti pertama kali datang, belum semua informasi terbuka. Seiring waktu, ketika masyarakat mulai mengenal peneliti dan hubungan emosional mulai terbentuk, informasi yang sebelumnya tidak muncul perlahan dapat terbuka. Bahkan, orang-orang mulai mendekat dan menganggap peneliti sebagai bagian dari lingkungan sosial mereka.
Di situ, waktu menjadi bagian dari metodologi. Peneliti tidak hanya mengumpulkan jawaban, tetapi juga mengumpulkan pengalaman bersama komunitas.
Kehadiran yang berulang memungkinkan peneliti melihat perubahan sikap, relasi antaraktor, pola komunikasi, serta perbedaan antara apa yang dikatakan seseorang dengan apa yang kemudian dilakukan.
Percakapan kemudian memasuki wilayah yang lebih sensitif: bagaimana membaca aktor-aktor dalam sebuah komunitas.
Dalam suatu proses pengorganisasian, misalnya, seseorang dapat tampak sebagai tokoh yang paling vokal, paling berpengaruh, atau paling mudah diajak berkomunikasi. Tetapi posisi yang terlihat di permukaan belum tentu menggambarkan pengaruh sebenarnya.
Dikatakan Yahya, bagaimana proses komunikasi yang berulang memungkinkan peneliti mulai membaca siapa yang cenderung mendukung, siapa yang menolak, siapa yang berada di tengah, dan siapa yang adaptif terhadap perubahan posisi. Namun, semua itu masih membutuhkan pendalaman.
Seseorang yang tampak “pro” belum tentu sepenuhnya pro, sebagaimana seseorang yang terlihat “kontra” belum tentu benar-benar menolak. Apa yang tampak di depan panggung perlu dibandingkan dengan pengalaman dan relasi yang berlangsung di belakangnya.
Karena itu, penelitian komunitas bukan sekadar kegiatan bertanya kepada warga. Ia merupakan proses membaca relasi, kepentingan, posisi, pengalaman, dan perubahan. Peneliti perlu memahami bahwa komunitas bukan ruang sosial yang homogen.
Di dalamnya terdapat perbedaan kepentingan, jaringan, pengetahuan, akses terhadap sumber daya, serta hubungan dengan institusi di luar komunitas.
Hal yang sama berlaku bagi perusahaan atau institusi yang berinteraksi dengan masyarakat.
Yahya menyoroti persoalan pergantian orang dalam suatu institusi. Ketika seseorang yang sudah lama berinteraksi dengan masyarakat dipindahkan, penggantinya harus kembali mempelajari medan sosial dari awal. Ia belum tentu memahami siapa yang sebenarnya berpengaruh, siapa yang sekadar tampak vokal, siapa yang memiliki kepentingan tertentu, dan bagaimana sejarah relasi antara komunitas dengan institusi tersebut.
Di sinilah penelitian komunitas menemukan relevansinya bagi pengambilan keputusan.
Informasi tentang masyarakat tidak cukup hanya berupa daftar tokoh, jumlah kelompok, atau hasil survei persepsi. Dibutuhkan pemahaman tentang sejarah hubungan, pola komunikasi, aktor yang dipercaya, sumber konflik, mekanisme negosiasi, serta perubahan posisi sosial yang terjadi dari waktu ke waktu.
Bagi peneliti, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan untuk tidak terlalu cepat percaya pada kesan pertama.
Informan memiliki ceritanya sendiri. Institusi memiliki narasinya sendiri. Peneliti pun membawa pengetahuan dan asumsi sendiri. Ketiganya bertemu dalam ruang penelitian yang tidak pernah sepenuhnya netral.
Karena itu, probing, pertanyaan kontras, rapport, observasi, dan kehadiran berulang bukan sekadar teknik yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari proses untuk bergerak dari apa yang tampak menuju apa yang berlangsung di baliknya.
Percakapan kemudian disadari sebagai temuan pada satu hal sederhana tetapi mendasar: komunitas tidak dapat dipahami hanya dengan sekali datang dan bertanya. Ia harus didekati, didengarkan, diamati, dan dipahami melalui waktu.
Dalam penelitian semacam itu, jawaban pertama bukan selalu jawaban terakhir. Kesan pertama bukan selalu kenyataan. Dan seorang peneliti yang baik bukan hanya mereka yang memiliki daftar pertanyaan, melainkan mereka yang tahu kapan harus bertanya lebih jauh, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus menunggu hingga masyarakat sendiri mulai membuka cerita.
___
Sorowako, 23 September 2026









