Catatan Denun | Seberapa Dalam Laut yang Kita Bicarakan?

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Gemini

Menulis, komunitas, pengetahuan, dan perubahan cara manusia berhadapan dengan kebudayaan dan kekuasaan

  • Penulis memiliki pengalaman tetapi pembaca memiliki tafsir, masyarakat yang ditulis memiliki ingatan sendiri, sementara orang luar memiliki cara membaca yang berbeda sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya. Internet membuat batas-batas tersebut semakin kabur.
  • Banyaknya informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman pengetahuan, karena kedalaman membutuhkan waktu, pengalaman, pengamatan, percakapan, keraguan, dan kesediaan untuk terus kembali kepada pertanyaan yang sama.
  • Pengalaman membuat kita semakin percaya bahwa pengetahuan membutuhkan jembatan agar dapat bergerak dari satu ruang ke ruang lain, terutama antara dunia akademik, pemerintah, masyarakat, media, dan komunitas.

PELAKITA.ID – Belakangan ini saya sering membuka kembali isi telepon genggam hingga external hard disk, bukan karena sedang mencari sesuatu yang sangat penting, melainkan karena tiba-tiba menyadari bahwa benda kecil itu menyimpan begitu banyak fragmen perjalanan hidup saya.

Di dalamnya ada tulisan, komentar, rekaman percakapan, foto, tautan, potongan gagasan, dan kalimat-kalimat pendek yang dahulu terasa biasa saja, tetapi ternyata menyimpan jejak perjumpaan dengan banyak orang dan berbagai peristiwa.

Ada tulisan yang bermula dari komentar seseorang tentang bencana, kesehatan ibu dan anak, pendidikan, kebudayaan, atau persoalan masyarakat, lalu saya olah menjadi artikel karena merasa ada sesuatu yang layak disimpan dan dibicarakan lebih jauh.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, sejak kapan kebiasaan mengumpulkan percakapan, menulis pengalaman, dan menyimpan berbagai fragmen kehidupan itu menjadi bagian penting dari cara saya memahami dunia?

Mungkin sejak saya mulai memahami bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan teks, tetapi merupakan salah satu cara manusia menyimpan pengalaman agar tidak segera hilang bersama waktu dan pergantian generasi.

Ketika sebuah percakapan dituliskan, ia memperoleh kehidupan kedua, karena sesuatu yang semula hanya diketahui oleh beberapa orang dapat dibaca kembali oleh orang lain yang bahkan tidak hadir ketika percakapan itu berlangsung.

Yang lebih menarik, tulisan dapat hidup lebih lama daripada percakapan, bahkan mungkin lebih panjang daripada ingatan penulisnya sendiri, sebab seseorang dapat menemukan kembali tulisan itu bertahun-tahun setelah dibuat.

Menulis, Menemukan Dunia

Dalam sebuah percakapan dengan Dr. Yahya Kadir, antropolog Universitas Hasanuddin, saya kembali mengingat perjalanan panjang yang membawa saya dari dunia aktivisme kampus, komunitas, media, hingga pekerjaan yang semakin dekat dengan riset dan dokumentasi.

Sebelum mengenal Yahya secara dekat, saya terlebih dahulu mengenal banyak orang dari lingkar pergaulannya, terutama melalui berbagai ruang perjumpaan di sekitar Ininawa dan komunitas intelektual, kebudayaan, media, serta aktivitas sosial di Makassar.

Pada 2006–2007, saya berada di Aceh sebagai konsultan proyek Asian Development Bank, sebuah pengalaman yang memberi saya kesempatan mengenal lingkungan kerja baru sekaligus memperkenalkan saya pada perkembangan internet yang ketika itu sebenarnya sudah tersedia, tetapi belum sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari saya.

Saya masih lebih banyak hidup melalui perjumpaan langsung, melalui perjalanan, percakapan, rapat, lapangan, dan pertemanan, sementara dunia digital perlahan tumbuh sebagai ruang baru yang belum sepenuhnya saya pahami.

Kemudian saya bertemu Agung Prasetio yang suatu ketika mengajak saya ngopi di Warung Kopi Solong, Ulee Kareng, dan dari perjumpaan sederhana itu saya diperkenalkan kepada seorang aktivis Hivos yang bercerita tentang blog dan mengajak saya mulai menulis.

Saat itu masih zaman Multiply, sebuah platform yang kini mungkin terdengar asing bagi generasi pengguna media sosial hari ini, tetapi bagi saya menjadi salah satu pintu awal untuk memasuki dunia tulisan digital.

Saya mulai menulis, kemudian mengenal Blogger Makassar, dan dari komunitas itu saya berkenalan dengan Panyingkul, sebuah ruang yang kemudian memberikan pengaruh cukup besar terhadap perjalanan saya dalam menulis, berjejaring, dan melihat pengalaman sosial sebagai bahan pengetahuan.

Di situlah saya merasa menemukan dunia baru, sebab melalui komunitas tersebut saya bertemu dengan Lily Yulianti Farid, Nirwan Ahmad Arsuka, Sudirman Nasir, Nana Saleh, Ami Ibrahim, serta banyak nama lain yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan intelektual dan profesional saya.

Sebagian orang sebenarnya sudah pernah hadir dalam perjalanan hidup saya, tetapi melalui komunitas itu potongan-potongan hubungan tersebut seperti tersambung kembali, memperlihatkan bahwa sebuah pertemanan sering kali memiliki cabang yang jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan.

Saya pernah mendampingi Lily Yulianti Farid saat mendalami isu lingkungan Taka Bonerate, kemudian bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah saya jumpai dalam konteks berbeda, sementara jaringan lain membawa saya mengenal komunitas Bugis di Melbourne dan berbagai ruang kebudayaan yang sebelumnya terasa jauh.

Satu perjumpaan mengantarkan saya kepada perjumpaan berikutnya, dan dari satu percakapan lahir percakapan lain, sehingga jejaring perlahan berubah dari sekadar hubungan antarmanusia menjadi jalan menuju pengetahuan.

Begitulah komunitas bekerja, karena ia tidak selalu menawarkan pengetahuan secara langsung, tetapi mempertemukan kita dengan manusia yang kemudian membuka pintu menuju pengalaman, gagasan, tempat, dan manusia lainnya.

Sekolah yang Tidak Pernah Dibangun

Saya kemudian berpikir bahwa Panyingkul dan komunitas-komunitas yang saya masuki pada masa itu sebenarnya adalah semacam sekolah yang tidak pernah saya daftar secara resmi, tetapi pelajarannya justru berlangsung sangat nyata.

Tidak ada kurikulum yang tertulis, tidak ada semester, tidak ada ujian, dan tidak ada ijazah yang dapat dipajang, tetapi saya belajar banyak hal yang kemudian memengaruhi perjalanan saya sampai sekarang.

Saya belajar menulis dari orang-orang yang menulis lebih baik, belajar bahwa pengalaman kecil dapat menjadi cerita, belajar bahwa tulisan membutuhkan data, dan belajar bahwa data pada akhirnya membutuhkan keberanian untuk turun ke lapangan dan mendengarkan manusia.

Saya juga belajar bahwa lapangan tidak selalu berarti tempat penelitian formal, karena warung kopi, ruang komunitas, rumah seseorang, perjalanan ke desa, percakapan selepas rapat, bahkan perdebatan kecil dapat menjadi ruang untuk memahami kehidupan sosial.

Nirwan Ahmad Arsuka adalah salah satu nama yang memberi warna kuat dalam perjalanan itu, dan dalam percakapan dengan Yahya kami kembali mengingat gagasannya mengenai homo ludens, manusia sebagai makhluk yang bermain.

Saya menyukai gagasan tersebut karena pengalaman saya dalam komunitas memang banyak dibangun melalui kegembiraan, percakapan, humor, perdebatan, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba sesuatu yang belum tentu langsung menghasilkan manfaat.

Orang-orang berkumpul, berbincang, bercanda, membaca, menulis, bertukar gagasan, berdebat, lalu pulang membawa sesuatu yang baru, meskipun mereka mungkin tidak menyadari bahwa proses tersebut sebenarnya sedang membentuk pengetahuan.

Tidak semua percakapan harus serius sejak awal, karena kadang-kadang justru dari percakapan yang ringan muncul pertanyaan yang kemudian berkembang menjadi gagasan serius, tulisan, riset, bahkan pekerjaan.

Manusia belajar bukan hanya ketika duduk di ruang kelas dan mendengarkan kuliah, tetapi juga ketika bercakap-cakap di warung kopi, berjalan bersama ke sebuah kampung, mendengarkan cerita nelayan, membaca tulisan teman, atau menyunting sebuah naskah.

Karena itu, komunitas dalam pengalaman saya bukan sekadar kumpulan orang yang memiliki minat sama, melainkan ruang belajar yang bergerak dan terus mempertemukan pengalaman dengan pengalaman lainnya.

Ketika Honor Berubah Menjadi Buku

Salah satu episode yang paling saya ingat adalah ketika Lily Yulianti memberi tahu bahwa ada honor tulisan saya yang terkumpul sekitar Rp4 juta karena selama dua tahun saya telah menulis dalam berbagai kesempatan dan ruang yang tersedia.

Saya sempat heran karena sebenarnya saya tidak terlalu memikirkan honor tersebut, sebab pada masa itu menulis terasa lebih seperti kegembiraan daripada pekerjaan yang secara sadar saya hitung secara ekonomi.

Saya kemudian berpikir, daripada mengambil uang itu, bagaimana kalau kami membuat buku, karena mungkin pengalaman dan tulisan yang selama ini tercecer akan lebih berguna jika dikumpulkan menjadi sebuah arsip yang dapat dibaca orang lain.

Dari sanalah kemudian lahir Semesta Galesong, sebuah pengalaman yang membuat saya semakin memahami bahwa buku tidak hanya lahir dari kemampuan menulis, tetapi juga dari kerja mencari data, memeriksa informasi, menghubungi orang, dan kembali kepada kenyataan di lapangan.

Saya melakukan riset dan menghubungi teman-teman yang bekerja sebagai pejabat maupun aparat kepolisian untuk melengkapi data mengenai jumlah korban meninggal di jalur Barombong–Galesong setelah Jembatan Barombong dibuka.

Di situ saya mulai memahami bahwa menulis dan riset sebenarnya bukan dua dunia yang terpisah, karena tulisan dapat menjadi pintu masuk menuju pertanyaan riset, sementara riset memberikan tubuh dan kedalaman kepada tulisan.

Pengalaman tersebut kemudian berlanjut ketika saya semakin sering menulis, menyunting, mendokumentasikan, dan mengolah pengalaman proyek menjadi buku atau arsip yang dapat digunakan kembali oleh masyarakat maupun lembaga.

Ada sejumlah buku komunitas yang kemudian memiliki ISBN, ada pula buku proyek yang saya bantu susun, termasuk beberapa buku Kementerian Kelautan dan Perikanan yang saya edit agar lebih komunikatif dan mudah dibaca oleh publik.

Saya masih mengingat pengalaman ketika sebuah draft buku pemerintah diberikan kepada saya untuk dibaca, lalu saya melihat substansinya cukup kuat tetapi bahasanya terasa terlalu birokratis sehingga membutuhkan jembatan menuju pembaca umum.

Saya kemudian mengeditnya, termasuk mengusulkan perubahan judul agar lebih komunikatif, seperti Masa Depan Laut Indonesia dan Transformasi Kelautan dan Perikanan, karena menurut saya gagasan yang baik membutuhkan bahasa yang dapat membawa pembaca masuk ke dalam persoalannya.

Pengalaman itu membuat saya semakin percaya bahwa pengetahuan membutuhkan jembatan agar dapat bergerak dari satu ruang ke ruang lain, terutama antara dunia akademik, pemerintah, masyarakat, media, dan komunitas.

Pengetahuan akademik membutuhkan bahasa publik, pengetahuan pemerintah membutuhkan bahasa masyarakat, sementara pengetahuan masyarakat membutuhkan dokumentasi agar pengalaman lokal tidak hilang begitu saja dari ingatan kolektif.

Dalam proses itu selalu diperlukan manusia yang bersedia menjadi penghubung, menerjemahkan gagasan, mendengarkan pengalaman, menyusun informasi, dan membuat pengetahuan dapat bergerak melampaui batas ruang asalnya.

Tulisan yang Pergi Lebih Jauh daripada Penulisnya

Menulis juga membawa saya ke tempat-tempat yang tidak pernah saya rencanakan, dan salah satu pengalaman yang saya ingat adalah beberapa kali pergi ke Oman setelah tulisan tentang rumput laut di Tanimbar membuka percakapan mengenai kemungkinan pengembangan budidaya dalam konteks yang berbeda.

Sebuah tulisan ternyata dapat membuka pintu menuju perjalanan, pertemuan, pertanyaan baru, dan pengalaman yang sama sekali tidak pernah dibayangkan ketika kalimat pertama ditulis.

Saya kemudian semakin menyadari bahwa kita sering tidak tahu ke mana sebuah tulisan akan pergi, siapa yang akan membacanya, dan dalam konteks apa tulisan tersebut kelak akan digunakan atau ditafsirkan. Kita menulis hari ini, tetapi seseorang mungkin membacanya tahun depan, dua tahun kemudian, atau bahkan ketika kita sendiri sudah lupa pernah menulisnya.

Saya menyimpan dokumen di internet tanpa pernah membayangkan bahwa suatu ketika orang lain dapat menemukan kembali tulisan tersebut dan menghubungkannya dengan kebutuhan, pengalaman, atau pertanyaan yang sama sekali berbeda.

Tulisan ternyata memiliki umur yang berbeda dengan percakapan, sebab percakapan selesai ketika orang-orang meninggalkan meja, sedangkan tulisan dapat terus berjalan melalui arsip, tautan, mesin pencari, media sosial, dan ingatan pembaca.

Hal tersebut kembali muncul dalam cerita Yahya mengenai tulisannya Popiale: Karakteristik Orang Bugis, yang pada awalnya dibuat untuk kebutuhan seminar dan bersumber dari pengalaman hidupnya sendiri di desa.

Yahya menyebut tulisan tersebut sebagai autoetnografi, sebuah pengalaman personal yang digunakan untuk membaca kebudayaan sendiri dari kedekatan yang tidak mungkin diperoleh apabila seseorang sepenuhnya berdiri di luar masyarakat yang sedang diamatinya.

Ia bahkan sempat berpikir bahwa tulisan tersebut mungkin membuat orang lokal marah, karena menulis tentang karakter suatu kelompok selalu membawa konsekuensi ketika pengalaman pribadi mulai dibaca sebagai gambaran tentang masyarakat yang lebih luas.

Tulisan itu kemudian bergerak ke ruang yang lebih luas, diarsipkan, dibaca oleh orang lain, bahkan menurut ingatannya muncul dalam bentuk bahasa Inggris, meskipun siapa yang pertama mengunggah atau menerjemahkannya tidak sepenuhnya jelas dalam percakapan kami.

Sebuah tulisan yang semula hanya dimaksudkan sebagai makalah seminar akhirnya menjadi representasi tentang orang Bugis bagi pembaca yang berada jauh dari ruang sosial tempat tulisan itu pertama kali lahir.

Di sinilah saya melihat persoalan antropologis yang sangat menarik, karena ketika sebuah pengalaman telah ditulis, ia tidak lagi sepenuhnya berada di tangan orang yang mengalaminya.

Penulis mungkin memiliki pengalaman, tetapi pembaca memiliki tafsir, masyarakat yang ditulis memiliki ingatan sendiri, sementara orang luar memiliki cara membaca yang berbeda sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya.

Internet membuat batas-batas tersebut semakin kabur karena sebuah pengalaman lokal dapat bergerak sangat cepat menuju ruang global tanpa selalu membawa seluruh konteks sosial yang melahirkan pengalaman tersebut.

Siapa yang Berhak Menceritakan Kebudayaan?

Dari cerita Yahya itu saya kemudian kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa sebenarnya yang berhak menceritakan sebuah kebudayaan, dan sejauh mana seseorang dapat mengatakan bahwa pengalaman pribadinya mewakili masyarakat yang lebih luas?

Pertanyaan tersebut penting karena kebudayaan bukan benda mati yang dapat dipotret dari satu sudut lalu dianggap selesai, melainkan sesuatu yang terus hidup melalui pengalaman, pertentangan, ingatan, bahasa, praktik, dan perubahan hubungan sosial.

Autoetnografi menarik karena ia tidak berpura-pura bahwa peneliti selalu berada di luar objek yang ditelitinya, tetapi mengakui bahwa pengalaman personal juga dapat menjadi pintu untuk memahami struktur sosial yang lebih luas.

Namun pengalaman pribadi tentu tidak otomatis menjadi kebenaran kolektif, sehingga refleksi, perbandingan, dialog, dan kesediaan mendengarkan pengalaman orang lain tetap diperlukan agar kita tidak mengubah pengalaman menjadi klaim yang terlalu luas.

Kita harus bertanya kepada diri sendiri: apakah pengalaman saya hanya pengalaman saya, atau memang memperlihatkan sesuatu yang lebih luas tentang masyarakat, dan jika memang lebih luas, bagaimana saya mengetahuinya?

Jika pengalaman orang lain ternyata berbeda, mungkin perbedaan tersebut bukan gangguan terhadap pengetahuan, melainkan justru bagian penting dari kebudayaan yang sedang kita coba pahami.

Karena itu, bagi saya, menulis bukan lagi hanya soal kemampuan merangkai kalimat, tetapi juga soal posisi, tanggung jawab, pengalaman, sumber pengetahuan, dan relasi kekuasaan yang berada di balik sebuah cerita.

Kita berbicara dari mana, tentang siapa, untuk siapa, dengan pengetahuan seperti apa, dan dengan kekuasaan apa merupakan pertanyaan yang semestinya selalu mengikuti seseorang ketika ia menulis tentang manusia lain.

Seberapa Dalam Laut yang Kita Bicarakan?

Dalam percakapan dengan Yahya, saya teringat pengalaman berinteraksi beberapa sosok, nama-nama yang belakangan ini menjadi bagian cerita besar Indonesia, keadilan, pangan dan transisi energi yang selama kurang lebih enam bulan ketika hampir setiap hari saya berdiskusi dengan seorang sosok mengenai berbagai persoalan yang sedang dihadapi dan hendak dikomunikasikan kepada publik.

Saya mendengar, bertanya, menyusun, memperbaiki, kembali mendengar, lalu mencoba memahami bukan hanya apa yang hendak dikatakan, tetapi juga mengapa sesuatu perlu dikatakan dan dalam konteks seperti apa pernyataan tersebut memiliki makna.

Setelah berbulan-bulan, saya merasa mulai memahami kedalaman persoalan yang sedang dibicarakan, lalu saya menggunakan metafora sederhana bahwa saya mulai tahu seberapa dalam lautnya.

Semakin saya pikirkan, metafora itu sebenarnya cukup penting karena kita hidup dalam zaman ketika hampir semua orang dapat berbicara tentang hampir semua hal dengan bantuan informasi yang tersedia begitu cepat.

Kita dapat mengetahui nama sebuah persoalan tanpa memahami sejarahnya, mengutip teori tanpa mengalami realitas yang dijelaskan teori tersebut, atau berbicara tentang masyarakat pesisir tanpa pernah duduk cukup lama bersama orang-orang yang kehidupannya bergantung pada laut.

Kita dapat berbicara tentang nelayan tanpa memahami bagaimana mereka membaca cuaca, tentang kebudayaan tanpa memahami bagaimana masyarakat memberi makna pada kebiasaan mereka, dan tentang pembangunan tanpa cukup mendengarkan orang yang hidup di dalam dampaknya.

Banyaknya informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman pengetahuan, karena kedalaman membutuhkan waktu, pengalaman, pengamatan, percakapan, keraguan, dan kesediaan untuk terus kembali kepada pertanyaan yang sama.

Mungkin karena itu saya semakin percaya bahwa pengetahuan membutuhkan waktu, sebab kedalaman tidak datang dari banyaknya kata yang kita ucapkan, melainkan dari lamanya kita bersedia tinggal bersama sebuah persoalan.

Laut mengajarkan hal sederhana itu: permukaan dapat terlihat dalam sekejap, tetapi kedalaman membutuhkan perjalanan, keberanian, pengalaman, dan kemampuan membaca tanda-tanda yang tidak selalu tampak dari atas.

Laut yang Egaliter, Darat yang Hierarkis?

Percakapan kami kemudian membawa saya kepada pengalaman yang lebih lama, terutama tentang Selayar, sebuah ruang yang telah saya kenal sejak 1995 dan yang memberi saya kesempatan melihat perubahan masyarakat dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Dalam perjalanan tersebut saya melihat berbagai perubahan, termasuk perubahan cara masyarakat berhubungan dengan pemerintahan, pejabat, pendatang, dan struktur kekuasaan yang semakin kuat memasuki ruang sosial mereka.

Ada sesuatu yang menggelitik saya ketika melihat masyarakat yang memiliki tradisi maritim kuat justru dalam beberapa situasi terlihat semakin tunduk kepada struktur kekuasaan yang datang dari luar.

Saya terbiasa dengan ruang sosial yang lebih cair, sehingga saya merasa sulit untuk terlalu banyak melakukan tabik-tabik, terlalu berhati-hati terhadap jabatan seseorang, atau menempatkan manusia terutama berdasarkan posisi administratifnya.

Mungkin pengalaman hidup dalam lingkungan maritim ikut membentuk sikap tersebut, karena saya terbiasa bertanya, berbeda pendapat, berdiskusi secara terbuka, bahkan berbicara keras ketika merasa ada sesuatu yang memang perlu dibicarakan.

Karena itu, ketika melihat masyarakat lokal justru semakin tunduk kepada pusat-pusat kekuasaan, saya bertanya kepada Yahya: sejak kapan perubahan semacam itu terjadi?

Mengapa masyarakat yang menguasai bahasa, sejarah, pengalaman, dan kebudayaannya sendiri harus selalu menjadi pihak yang menyesuaikan diri ketika struktur baru datang memasuki ruang kehidupan mereka?

Mengapa bukan pendatang, pejabat, atau struktur baru yang datang ke sebuah ruang kebudayaan kemudian belajar memahami dan beradaptasi dengan masyarakat setempat?

Pertanyaan tersebut tentu tidak sederhana, sebab kebudayaan tidak pernah beku dan selalu berubah melalui migrasi, pendidikan, agama, ekonomi, negara, birokrasi, teknologi, media, serta berbagai bentuk interaksi sosial.

Namun perubahan kebudayaan selalu menarik untuk dibaca melalui pertanyaan mengenai siapa yang memiliki kemampuan lebih besar untuk menentukan arah perubahan, siapa yang dapat mendefinisikan norma, dan siapa yang akhirnya harus menyesuaikan diri.

Dalam percakapan itu Yahya kemudian mengatakan sesuatu yang membuat saya kembali berpikir: “Tradisi maritim itu kan egaliter.”

Kalimat tersebut seperti membuka pintu menuju pembicaraan yang lebih panjang tentang perbedaan pengalaman antara masyarakat maritim dan tradisi pusat-pusat peradaban daratan, meskipun percakapan kami berhenti sebelum gagasan itu selesai dijelaskan.

Justru karena belum selesai, kalimat itu tinggal di kepala saya dan menjadi semacam pertanyaan terbuka yang terus saya bawa ketika melihat perubahan hubungan sosial di wilayah pesisir.

Saya tidak ingin menyederhanakan bahwa semua masyarakat maritim pasti egaliter atau semua masyarakat daratan pasti hierarkis, karena sejarah manusia jauh lebih rumit daripada pembagian semacam itu.

Yang menarik bagi saya adalah kemungkinan bahwa ruang hidup dapat membentuk pengalaman sosial tertentu, dan pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara manusia memandang mobilitas, perjumpaan, kekuasaan, serta hubungan antarmanusia.

Ketika Modernitas Tidak Selalu Berarti Kebebasan

Kita sering menghubungkan modernitas dengan kebebasan, keterbukaan, mobilitas, pendidikan, teknologi, demokrasi, dan kemampuan manusia menentukan hidupnya sendiri, tetapi pengalaman sosial menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu bergerak dalam garis lurus menuju kebebasan.

Kita mungkin semakin modern dalam teknologi, tetapi belum tentu semakin egaliter dalam hubungan sosial, karena struktur hierarki dapat tumbuh bersamaan dengan kemajuan komunikasi dan keterbukaan informasi.

Kita mungkin semakin mudah berbicara melalui media sosial, tetapi belum tentu semakin berani berbicara di hadapan kekuasaan, terutama ketika jabatan dan kedekatan dengan pusat otoritas masih menentukan siapa yang didengar.

Kita mungkin semakin bebas memperoleh informasi, tetapi belum tentu semakin bebas menentukan makna atas pengalaman kita sendiri, karena makna sering kali diproduksi oleh mereka yang memiliki akses lebih besar terhadap bahasa, media, institusi, dan kekuasaan.

Di sinilah saya melihat paradoks modernitas yang menarik untuk terus dibicarakan, terutama ketika masyarakat pesisir berhadapan dengan struktur pemerintahan, investasi, birokrasi, dan berbagai bentuk kekuasaan baru.

Pertanyaan tentang tradisi maritim karena itu bukan sekadar pertanyaan mengenai masa lalu, melainkan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat pesisir mempertahankan kemampuan untuk bernegosiasi dalam menghadapi perubahan.

Jika tradisi maritim mengandung pengalaman tentang mobilitas, perjumpaan, perdagangan, negosiasi, dan egalitarianisme, apa yang terjadi ketika masyarakat maritim semakin dikelola melalui struktur yang sangat hierarkis?

Apa yang hilang, apa yang bertahan, dan apa yang justru berubah menjadi bentuk kebudayaan baru merupakan pertanyaan yang menurut saya layak terus diteliti dan dibicarakan.

Komunitas, Pengetahuan, dan Ingatan

Ketika percakapan dengan Yahya selesai, saya kembali teringat kepada tulisan-tulisan yang tersimpan di telepon genggam dan tiba-tiba melihat semuanya seperti simpul yang baru terlihat setelah perjalanan berlangsung cukup jauh.

Komentar kecil, tulisan, blog, Panyingkul, buku, riset, JICA, perjalanan, wawancara, komunitas, dan pertemanan ternyata bukan fragmen yang berdiri sendiri, melainkan bagian-bagian dari perjalanan yang saling berhubungan.

Dulu saya mungkin menganggap semua itu sebagai perjalanan profesional, tetapi sekarang saya melihatnya sebagai perjalanan pengetahuan yang dibentuk oleh begitu banyak orang dan begitu banyak ruang perjumpaan.

Saya tidak tumbuh sendirian dalam proses tersebut, karena ada orang-orang yang mengajari saya menulis, memperkenalkan saya kepada komunitas, mengajak saya melakukan perjalanan, mengoreksi tulisan, mengajak berdiskusi, membuka peluang pekerjaan, dan mempertemukan saya dengan pengalaman baru.

Ada pula orang yang mungkin hanya mengajak ngopi, tetapi dari percakapan sederhana itu lahir sesuatu yang tidak pernah kami rencanakan sebelumnya, dan pengalaman semacam itu bagi saya justru menjadi salah satu bentuk pendidikan yang paling berkesan.

Maka komunitas bagi saya bukan sekadar kumpulan orang yang bertemu karena memiliki kepentingan yang sama, tetapi ruang tempat pengalaman dipertukarkan, pengetahuan diuji, dan identitas terus dinegosiasikan.

Dari pertemuan lahir pengetahuan, dari pengetahuan lahir tulisan, dari tulisan lahir arsip, dan dari arsip seseorang yang belum kita kenal dapat menemukan pengalaman kita bertahun-tahun kemudian.

Jadi, tulisan bukan lagi milik penulis sepenuhnya, karena ia telah masuk ke dalam ruang sosial dan menjadi bagian dari perjalanan makna yang terus berubah.

Manusia yang Terus Belajar

Mungkin pada akhirnya saya tidak sedang bercerita tentang menulis, komunitas, atau bahkan tentang percakapan dengan seorang antropolog, melainkan sedang mencoba memahami bagaimana manusia belajar menjadi manusia melalui perjumpaan dengan manusia lainnya.

Kita belajar dari orang lain, dari tempat yang kita datangi, dari kesalahan yang kita lakukan, dari perjalanan yang kita tempuh, dan dari tulisan yang kita buat sendiri lalu kita baca kembali beberapa tahun kemudian.

Kita bahkan belajar dari percakapan yang tidak selesai, karena kalimat yang terputus kadang justru menyisakan pertanyaan yang lebih panjang daripada jawaban yang sudah tersedia.

Itulah yang saya rasakan setelah berbincang dengan Dr. Yahya Kadir, bahwa antropologi tidak selalu harus dimulai dari teori yang rumit, tetapi dapat dimulai dari keberanian bertanya kembali tentang sesuatu yang selama ini kita anggap biasa.

Mengapa kita berbicara seperti itu, mengapa kita menghormati orang tertentu dengan cara tertentu, mengapa masyarakat berubah, dan mengapa sebagian orang memiliki kemampuan lebih besar untuk menentukan arah perubahan merupakan pertanyaan yang membawa kita masuk ke wilayah kebudayaan dan kekuasaan.

Mengapa sebuah pengalaman lokal dapat berubah menjadi representasi tentang suatu masyarakat juga merupakan pertanyaan penting, sebab representasi selalu melibatkan pilihan tentang siapa yang berbicara, siapa yang didengar, dan siapa yang akhirnya menjadi objek pembicaraan.

Mengapa manusia yang hidup dalam tradisi yang pernah terasa egaliter dapat perlahan belajar tunduk kepada hierarki merupakan pertanyaan yang menurut saya tidak cukup dijawab dengan mengatakan bahwa masyarakat sedang berubah.

Kita perlu melihat siapa yang mendorong perubahan, bagaimana perubahan itu berlangsung, nilai apa yang ikut berubah, dan siapa yang memperoleh keuntungan maupun kehilangan ruang dalam proses tersebut.

Saya tidak memiliki semua jawabannya, dan mungkin memang bukan jawaban lengkap yang selalu kita perlukan ketika berhadapan dengan persoalan kebudayaan yang begitu kompleks dan terus bergerak.

Kadang-kadang yang kita perlukan adalah pertanyaan yang cukup baik untuk membuat kita terus berjalan, terus membaca, terus mendengar, dan terus bersedia mengubah cara kita memahami pengalaman sendiri.

Saya kembali pada satu metafora yang muncul dalam percakapan kami: seberapa dalam laut yang kita bicarakan?

Barangkali setiap kali kita menulis tentang manusia, masyarakat, kebudayaan, pembangunan, atau kekuasaan, pertanyaan itu harus selalu kita bawa agar kita tidak berhenti pada permukaan sebuah persoalan. Laut tidak pernah hanya permukaan, sebagaimana kebudayaan tidak pernah hanya kebiasaan dan manusia tidak pernah selesai dibaca hanya melalui satu pengalaman.

Akhirnya sosodara, pengetahuan sering kali tumbuh bukan ketika kita merasa sudah tahu, tetapi ketika sebuah perjumpaan membuat kita sadar bahwa masih banyak yang belum kita pahami.

Seperti laut, manusia selalu menyimpan kedalaman yang tidak selesai dibaca dalam satu percakapan.

___
Sorowako, 23 September 2026