PELAKITA.ID – SIDENRENG RAPPANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi berbasis arsitektur dan ketahanan pangan melalui program kerja individu bertajuk “Rekayasa Struktur Agro-Edukatif: Pengembangan Desain Rangka Vertikal dan Tata Ruang Kebun Literasi Desa Lajonga”.
Program tersebut diimplementasikan di kawasan Kantor Kelurahan Lajonga, Kecamatan Panca Lautang, Kabupaten Sidenreng Rappang, sebagai upaya mendukung adaptasi perubahan iklim sekaligus memperkuat fungsi edukatif ruang publik desa.
Kelurahan Lajonga dikenal memiliki potensi agraris yang cukup besar. Namun dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat setempat menghadapi berbagai tantangan lingkungan, terutama musim kemarau berkepanjangan dan serangan hama tikus yang berdampak pada produktivitas pertanian.
Di tengah kondisi tersebut, pembangunan Kebun Literasi desa dinilai membutuhkan pendekatan yang lebih inovatif agar tidak hanya berfungsi sebagai area tanam, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang nyaman, produktif, dan berkelanjutan.
Merespons kebutuhan tersebut, mahasiswa Arsitektur KKN-T Unhas merancang konsep kebun literasi yang memadukan unsur desain ruang, fungsi edukasi, serta teknologi sederhana yang adaptif terhadap kondisi iklim setempat.
Salah satu inovasi utama yang diterapkan adalah pembangunan struktur rangka vertikal yang dilengkapi dengan paranet sebagai pelindung tanaman dari intensitas sinar matahari yang berlebihan.
Penggunaan paranet bertujuan menjaga kelembapan tanah sekaligus menciptakan kondisi mikroklimat yang lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Dengan perlindungan tersebut, tanaman diharapkan tetap dapat tumbuh optimal meskipun berada dalam kondisi cuaca panas dan curah hujan yang rendah.
Lurah Lajonga, Hj. Salmiah, S.H., menyampaikan bahwa kemarau panjang telah memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas pertanian masyarakat. Menurutnya, banyak petani mengalami kerugian akibat berkurangnya ketersediaan air di lahan pertanian.
“Sudah beberapa bulan kemarin musim kemarau dan tidak ada hujan turun sama sekali, sehingga banyak petani kita yang mengalami kerugian akibat kekeringan di lahan pertaniannya,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi gagasan yang dihadirkan mahasiswa KKN-T Unhas karena dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Hadirnya gagasan dari mahasiswa arsitektur ini sangat kami dukung. Rangka pelindung tanaman ini adalah solusi cerdas dan tepat sasaran untuk menyikapi cuaca panas di Sidrap saat ini,” tambahnya.
Selain berfungsi sebagai sarana budidaya tanaman, Kebun Literasi juga dirancang sebagai ruang belajar terbuka yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai pertanian, lingkungan, dan adaptasi perubahan iklim.
Penataan ruang yang lebih terstruktur diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas tersebut.
Program ini menunjukkan bagaimana pendekatan arsitektur dapat berkontribusi dalam menjawab tantangan lingkungan di tingkat lokal. Melalui desain yang sederhana namun fungsional, mahasiswa KKN-T Unhas tidak hanya menghadirkan solusi fisik bagi kebutuhan masyarakat, tetapi juga mendorong terciptanya ruang publik yang edukatif, produktif, dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Keberadaan Kebun Literasi adaptif iklim ini diharapkan menjadi contoh penerapan inovasi berbasis komunitas yang dapat direplikasi di wilayah lain, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya adaptasi perubahan iklim di tingkat desa.









