Direktur Pemberdayaan Nelayan KKP: Perguruan Tinggi hingga NGO Dibutuhkan Sejak Awal Penyiapan KNMP 2027

  • Whatsapp
  • Ady Candra menyampaikan apresiasi kepada para dekan, ketua jurusan, kepala program studi, akademisi, NGO, LSM, ikatan alumni perikanan, ISKINDO, ISPIKANI, serta organisasi kelautan dan perikanan yang hadir dalam kegiatan tersebut.
  • Ia menilai keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dari proses penyiapan KNMP, terutama karena program tersebut memiliki cakupan nasional dan membutuhkan dukungan pengetahuan serta pengalaman lapangan yang luas.

PELAKITA.ID – Direktur Pemberdayaan Nelayan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ady Candra, S.Pi., M.Si., menegaskan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi, akademisi, NGO, LSM, organisasi alumni, serta berbagai organisasi kelautan dan perikanan dalam penyiapan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahun 2027.

Pesan tersebut disampaikan Ady Candra saat membuka Sosialisasi Penyiapan Perencanaan Lokasi KNMP Tahun 2027 yang digelar secara daring.

Menurutnya, pelibatan berbagai unsur tersebut sejak tahap awal diperlukan agar pembangunan KNMP tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur, tetapi memiliki kesiapan sosial dan kelembagaan untuk memastikan fasilitas yang dibangun dapat dikelola secara berkelanjutan.

Ady menyampaikan apresiasi kepada para dekan, ketua jurusan, kepala program studi, akademisi, NGO, LSM, ikatan alumni perikanan, ISKINDO, ISPIKANI, serta organisasi kelautan dan perikanan yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Ia menilai keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dari proses penyiapan KNMP, terutama karena program tersebut memiliki cakupan nasional dan membutuhkan dukungan pengetahuan serta pengalaman lapangan yang luas.

Program prioritas nasional

Ady menjelaskan, KNMP merupakan salah satu program prioritas nasional KKP untuk periode 2025–2039. Penguatan kebijakan tersebut ditandai dengan diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2026 tentang Percepatan Pembangunan dan Operasionalisasi Kampung Nelayan Merah Putih.

Menurut Ady, program KNMP diarahkan untuk membenahi persoalan mendasar yang dihadapi nelayan, terutama berkaitan dengan rantai dingin atau cold chain system pada tingkat nelayan.

Persoalan spoilage atau kerusakan hasil tangkapan selama ini menjadi salah satu faktor yang dapat menurunkan nilai jual ikan. Karena itu, pembangunan fasilitas KNMP diarahkan untuk memperkuat penanganan hasil tangkapan sejak ikan didaratkan hingga masuk ke rantai pemasaran.

“Fokus utama dari program ini adalah bagaimana kita membenahi rantai dingin atau cold chain system di tingkat nelayan,” ujar Ady.

Fasilitas yang dibangun nantinya tidak diseragamkan begitu saja. Infrastruktur akan disesuaikan dengan kebutuhan dan tipologi setiap lokasi, mulai dari pabrik es, cold storage, fasilitas docking kapal, hingga perbaikan infrastruktur permukiman dan kawasan pelabuhan nelayan.

Pendekatan berbasis tipologi tersebut penting karena karakteristik kampung nelayan berbeda-beda. Kebutuhan sebuah kawasan perikanan tangkap di satu daerah belum tentu sama dengan kawasan lainnya.

Ady menegaskan, pembangunan infrastruktur merupakan bagian penting dari KNMP, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan.

Pengalaman dari program-program sebelumnya menunjukkan bahwa keberlanjutan fasilitas sangat dipengaruhi oleh kesiapan kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia masyarakat nelayan. Infrastruktur yang baik membutuhkan kelembagaan pengelola dan SDM yang mampu mengoperasikan, merawat, serta mengembangkan fasilitas tersebut.

Karena itu, menurut Ady, pembangunan KNMP perlu berjalan beriringan dengan proses penguatan masyarakat. “Namun demikian, pembangunan fisik saja tentu tidak cukup,” katanya.

Ady melihat peran strategis perguruan tinggi dan NGO. Akademisi memiliki kapasitas pengetahuan dan riset, sementara NGO dan LSM memiliki pengalaman dalam pendampingan serta pendekatan kepada masyarakat.

Keduanya dibutuhkan untuk melakukan social engineering, pendekatan sosial kemasyarakatan, serta pendampingan intensif agar masyarakat nelayan memiliki kesiapan untuk mengelola fasilitas yang akan dibangun.

Perguruan tinggi dan NGO dilibatkan sejak awal

Ady menekankan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dan NGO tidak dimaksudkan hanya ketika pembangunan telah berlangsung. Sebaliknya, keduanya diharapkan masuk sejak tahap penyiapan dan perencanaan lokasi.

“Oleh karena itu, pada tahap penyiapan dan perencanaan lokasi KNMP untuk tahun 2027 ini, kami sengaja melibatkan bapak dan ibu sekalian sejak awal,” ujarnya.

Pernyataan tersebut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui kajian sosial-ekonomi, pemetaan potensi perikanan, analisis kelembagaan, pengembangan kapasitas SDM, riset terapan, hingga evaluasi program.

Sementara NGO dan LSM dapat memperkuat proses komunikasi dan pendampingan masyarakat, membantu membangun partisipasi, mengidentifikasi kebutuhan kelompok nelayan, serta mendukung penguatan kelembagaan lokal.

Dengan demikian, proses penyiapan KNMP tidak hanya menghasilkan dokumen perencanaan, tetapi juga membangun kesiapan masyarakat sebagai calon pengelola kawasan dan fasilitas KNMP.

Perencanaan ditargetkan selesai Desember

Ady menyampaikan bahwa proses perencanaan KNMP 2027 ditargetkan selesai pada Desember. Target tersebut menjadi bagian penting dari strategi pemerintah untuk mempercepat tahapan pengadaan dan konstruksi.

Dengan perencanaan yang diselesaikan lebih awal, proses lelang atau pengadaan konstruksi diharapkan dapat dimulai sejak awal tahun melalui pendekatan T-1.

Harapan tersebut menunjukkan bahwa kualitas persiapan menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan antara perencanaan dan pelaksanaan. Semakin matang informasi mengenai lokasi, kebutuhan, kondisi sosial, dan desain teknis, semakin kuat pula dasar untuk memasuki tahapan pembangunan.

Bagi perguruan tinggi dan NGO, ruang waktu sejak tahap persiapan tersebut sekaligus memberikan kesempatan untuk berkontribusi lebih jauh. Pengetahuan akademik dan pengalaman lapangan dapat digunakan untuk memastikan desain pembangunan tidak terlepas dari konteks sosial dan ekonomi masyarakat nelayan.

Menjaga tujuan besar KNMP

Ady menegaskan bahwa tujuan akhir KNMP adalah menghadirkan perubahan ekonomi yang nyata bagi masyarakat pesisir. Pembangunan fasilitas diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, meningkatkan pendapatan nelayan, menyerap tenaga kerja lokal, sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi di kawasan pesisir.

Karena itu, kata dia, keberhasilan KNMP tidak cukup diukur dari jumlah fasilitas yang dibangun. Keberhasilan juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat menggunakan fasilitas tersebut untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dan memperkuat posisi mereka dalam rantai nilai perikanan.

Dalam konteks tersebut, kolaborasi pemerintah dengan perguruan tinggi dan NGO menjadi bagian penting dari desain pembangunan. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan pembangunan, perguruan tinggi memperkuat basis pengetahuan dan inovasi, sedangkan NGO dapat memperkuat pendampingan sosial serta kapasitas masyarakat.

Pesan Ady Candra pada pembukaan sosialisasi tersebut pada dasarnya menempatkan penyiapan masyarakat sejajar pentingnya dengan penyiapan infrastruktur. KNMP diharapkan tidak hanya hadir sebagai kawasan dengan fasilitas baru, tetapi sebagai ekosistem perikanan yang mampu dikelola, dimanfaatkan, dan dikembangkan oleh masyarakat nelayan.

Dengan pelibatan akademisi dan NGO sejak awal, proses menuju KNMP 2027 diharapkan menjadi lebih kolaboratif. Perencanaan tidak hanya berbicara mengenai apa yang akan dibangun, tetapi juga siapa yang akan mengelola, bagaimana masyarakat memanfaatkannya, serta bagaimana fasilitas tersebut dapat terus memberi manfaat setelah pembangunan selesai.

Harapan tersebut menjadi salah satu fondasi penting KNMP: infrastruktur dibangun dengan perencanaan yang matang, sementara masyarakat dipersiapkan agar mampu menghidupkan dan mengelola fasilitas tersebut sebagai bagian dari penguatan ekonomi kawasan pesisir.

Redaksi