Mengidentifikasi Isu Perubahan Iklim, Potret Tantangan Lingkungan di Enam Desa Wakatobi

  • Whatsapp
Rubble, coral bleaching (image by Pelakita.ID)

PELAKITA.ID – Wakatobi bukan sekadar gugusan pulau dengan keanekaragaman hayati laut yang memukau; ia adalah palagan nyata di mana masyarakat pesisir berjuang mempertahankan hidup di tengah pergeseran iklim dan degradasi lingkungan.

Melalui lensa JICA Capacity Development Project (2007–2013) dan JICA-CDCCS, kita dapat melihat bagaimana kerusakan ekosistem berdampak langsung pada keberlangsungan hidup manusia sebagaimana dinarasikan oleh Guru Besar Sosiologi Pertanian Unhas, Prof Darmawan Salman, M.S dan Jumardi Lanta dari the COMMIT Foundation berikut ini;

Menghadapi Kerentanan di Jantung Wakatobi

Masyarakat di desa-desa Wakatobi saat ini terjepit di antara dua ancaman yang saling berkelindan: kerentanan kelestarian lingkungan (environmental sustainability) dan keberlanjutan sumber penghidupan (livelihood sustainability).

Hubungan ini bersifat timbal balik; ketika alam rusak, fondasi ekonomi masyarakat—yang mayoritas bergantung pada sumber daya alam—ikut runtuh.

Dalam dinamika ini, peran Community Facilitator (CF) menjadi sangat vital.

Sebagai agen perubahan yang dibekali data teknis dan keterampilan sosiologi pedesaan, para fasilitator ini menjembatani kesadaran masyarakat dengan fakta lapangan. Mereka bukan sekadar pendamping, melainkan katalisator yang mengubah keresahan kolektif menjadi rencana aksi nyata berbasis komunitas.

Isu Kerusakan Ekosistem Mangrove di Desa Tampara (Pulau Kaledupa)

Bagi warga Desa Tampara, mangrove adalah “napas” ekonomi, terutama bagi para penangkap kepiting bakau yang menggunakan bubu.

Namun, sejak awal tahun 2000-an, ekosistem ini mengalami tekanan hebat.

Sekitar 500 rumah tangga (KK) warga Bajo mengambil kayu bakau secara masif. Kayu ini tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga, tetapi juga sebagai bekal energi utama untuk ekspedisi menangkap teripang yang memakan waktu hingga berbulan-bulan.

Tekanan ini menciptakan krisis bagi nelayan setempat. Rasa cemas menghantui mereka:

“Jika mangrove habis, maka mata pencaharian hilang.”

Sebagai bentuk respons, masyarakat menginisiasi pemantauan intensif. Mereka belajar mengenali kesehatan pohon melalui warna daun; jika hijau-biru tua, pohon sehat; jika kuning pucat, ulat penghancur akar sedang menyerang.

Melalui gerakan swadaya, warga berhasil menanam sekitar 2.300 pohon bakau dalam periode 2010–2014 untuk memastikan kepiting—dan masa depan mereka—tetap ada.

Abrasi Pantai dan Krisis Air di Desa Sombano (Pulau Kaledupa)

Desa Sombano menyajikan potret tragis mengenai dampak eksploitasi material alam demi pembangunan infrastruktur yang tidak berkelanjutan.

  • Abrasi Pantai: Akibat penambangan pasir masif sejak tahun 2000 untuk pengaspalan jalan dan gedung pemerintah, garis pantai menyusut tajam. Pada 2008, lebar pantai yang semula 10 meter hanya tersisa 5 meter, menelan tiga baris pohon kelapa milik warga.
  • Penurunan Debit Air: Di sisi daratan, mata air utama desa terancam hilang. Hal ini dipicu oleh pembukaan lahan di area hulu oleh lima keluarga pemilik lahan. Negosiasi sosial menjadi kunci; melalui persuasi, rumpun keluarga tersebut akhirnya sepakat menghentikan pembukaan lahan demi kepentingan publik.

Masyarakat melakukan langkah mitigasi dengan memasang barikade batu dan menanam pohon lokal seperti bintangor dan ketapang sepanjang satu kilometer pantai untuk membentengi desa dari amukan gelombang.

Kebakaran Lahan dan Salinitas Air di Desa Kahiyanga (Pulau Tomia)

Di Desa Kahiyanga, musim kemarau adalah musim ketakutan. Hutan alang-alang yang luas membuat kebun jambu mete, ubi kayu, dan jagung sangat rentan terbakar. Namun, masyarakat menemukan inovasi cerdas: menggunakan tanaman ubi kayu sebagai sabuk hijau atau sekat bakar hidup.

Karena ubi kayu memiliki kadar air yang lebih tinggi dan struktur yang lebih rapat, ia terbukti efektif menghentikan lidah api dari alang-alang merambat ke kebun produktif.

Masalah lain muncul dari gelas-gelas air warga. Sejak 2010, air PDAM yang bersumber dari mata air di bibir pantai berubah rasa menjadi hambar atau payau (asin).

Ironisnya, air ini hanya terasa tawar saat laut surut. Masyarakat mengaitkan fenomena salinitas ini dengan hilangnya pohon-pohon penyangga di perbukitan sekitar mata air yang telah habis ditebang, sehingga keseimbangan air tanah terganggu.

Ancaman Gelombang dan Penurunan Hasil Laut di Desa Onemay (Pulau Tomia)

Kondisi Desa Onemay memberikan gambaran dramatis tentang kekuatan alam yang tak lagi terbendung. Tanpa perlindungan pepohonan yang dahulu rimbun di tahun 1970-an, hempasan gelombang kini mampu mengangkat dan menghanyutkan dapur rumah penduduk.

Di bawah laut, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Akibat maraknya penggunaan bom dan potasium pada 1999–2000, hasil laut merosot tajam.

Dipelopori oleh tokoh masyarakat bernama Armin Sahari dan kelompok Komunto (Komunitas Nelayan Pulau Tomia), warga bangkit melawan degradasi ini.

Mereka menetapkan wilayah “Bank Ikan”—sebuah zona konservasi keramat. Upaya ini membuahkan hasil luar biasa dengan kembalinya spesies bernilai tinggi yang sempat hilang, seperti Ikan Napoleon dan Ikan Tuna Gigi Anjing.

Perubahan Garis Pantai yang Ekstrim di Desa Wapia-pia (Pulau Wangi-Wangi)

Desa Wapia-pia mengalami perubahan morfologi yang sangat drastis akibat pengambilan pasir lokal dan dinamika arus laut yang berubah.

Indikator Kondisi Pantai Kondisi Tahun 1970-an Kondisi Saat Ini
Jarak Bibir Pantai ke Rumah ± 50 Meter ± 5 Meter
Panjang Pantai ± 1.100 Meter ± 900 Meter

Seorang pemuda bernama Hendri, melalui kelompok Kinati (Komunitas Anak Terdidik), menggerakkan rekan-rekannya untuk peduli.

Masalah di sini bersifat “tragedy of the commons”; pasir di pantai Wapia-pia tidak kembali karena terbawa arus ke desa tetangga, di mana pasir tersebut juga ditambang habis-habisan.

Selain abrasi, mereka juga berjuang mengelola kembali kebun-kebun kelapa yang terbengkalai karena ditinggal pemiliknya merantau.

Degradasi Hutan dan Perladangan Berpindah di Desa Longa (Pulau Wangi-Wangi)

Tradisi perladangan berpindah di Desa Longa secara perlahan telah menggerus luas tutupan hutan. Menanggapi hal ini, kelompok “Kouluma” (yang berarti Naungan atau Canopy) menginisiasi rehabilitasi hutan pada lahan seluas 1.000 hektar milik rumpun kerabat.

Salah satu inovasi menarik di desa ini adalah program “Wisata Tanam Bibit”.

Setiap tamu, termasuk Menteri, anggota DPR, hingga peneliti, diajak menanam pohon dengan identitas mereka tersemat pada papan nama di pohon tersebut.

Dengan biaya pemeliharaan sebesar Rp100.000 per pohon, masyarakat memiliki dana abadi untuk merawat hutan. Hingga akhir 2013, sebanyak 10.000 pohon telah berdiri sebagai monumen kepedulian di hutan Longa.

Sintesis Isu: Pelajaran dari Monitoring Berbasis Komunitas

Pengalaman di enam desa ini membuktikan bahwa indikator perubahan iklim paling akurat sering kali ditemukan dalam pengetahuan lokal masyarakat.

Desa Isu Utama Lingkungan Indikator Lokal (Folk Indicators)
Tampara Kerusakan Mangrove Warna daun bakau (kuning vs hijau-biru); jumlah tangkapan kepiting bubu.
Sombano Abrasi & Krisis Air Tinggi air yang mengalir di bawah jembatan kampung; penyusutan pantai.
Kahiyanga Kebakaran & Salinitas Rasa air PDAM (hanya tawar saat laut surut); kebersihan sekat bakar (ilaran).
Onemay Gelombang & Degradasi Karang Dapur rumah hanyut; munculnya Napoleon; arus air yang membuat penyelam “mabuk”.
Wapia-pia Abrasi Pantai Ekstrim Jarak jangkauan ombak ke rumah penduduk; pohon kelapa yang tumbang ke laut.
Longa Degradasi Hutan Berkurangnya luas tutupan hutan asli akibat pola ladang berpindah.

Kesimpulan

Monitoring berbasis komunitas menunjukkan bahwa adaptasi perubahan iklim bukanlah sekadar teori di atas kertas kebijakan.

Pengetahuan masyarakat tentang rasa air, kekuatan arus, hingga kesehatan daun adalah data vital yang harus diintegrasikan ke dalam kebijakan nasional. Keberlanjutan Wakatobi bergantung pada kolaborasi antara sains modern dan kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu.

___
Laporan ini ditulis oleh Kamaruddin Azis sesuai hasil penelitian Prof Darmawan Salman, M.S dan Jumardi Lanta dari The COMMIT Foundation