PELAKITA.ID – Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) Universitas Hasanuddin hadir sejak 1988 – kini sebagai Ilmu Kelautan di FIKP Unhas kembali menorehkan prestasi membanggakan.
Hingga 2026, sedikitnya tujuh alumninya yang berkuliah antara tahun 1988 hingga 1994 telah berhasil meraih jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar, tersebar di Universitas Hasanuddin, Universitas Khairun, dan Universitas Halu Oleo.
Capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan almamater, tetapi juga menunjukkan kontribusi nyata alumni ITK Unhas dalam pengembangan ilmu kelautan di Indonesia, khususnya kawasan timur.
Ketujuh profesor ini mengembangkan kepakaran yang beragam, mulai dari ekologi pesisir, oseanografi, geospasial kelautan, biodiversitas laut, hingga pencemaran lingkungan pesisir.
Menariknya, masing-masing memiliki bidang keahlian yang saling melengkapi sehingga mencerminkan luasnya spektrum keilmuan yang dibangun di lingkungan Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas.
Siapa saja mereka?
Di bidang ekologi pesisir, Prof. Dr. Amran Saru dikenal sebagai pakar ekologi mangrove.
Penelitiannya banyak berfokus pada rehabilitasi kawasan pesisir, jasa ekosistem mangrove, konservasi, serta pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan. Berbagai karya ilmiahnya menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan pengelolaan mangrove di Indonesia.
Sementara itu, Prof. Dr. Nurjannah Nurdin, ST., M.Si. memperkuat bidang geospasial kelautan.
Kepakaran perempuan yang akrab disapa Kak Ecce di generasinya ini meliputi penginderaan jauh (remote sensing), Geographic Information System (GIS), pemetaan pesisir dan pulau-pulau kecil, pemanfaatan drone atau UAV, hingga analisis spasial berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Selain aktif sebagai akademisi di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, ia juga menjadi salah satu pengurus dan pendiri PUSLITBANG Wilayah Tata Ruang dan Informasi Spasial (WITARIS) LPPM UNHAS yang mendorong pengembangan riset maritim berbasis teknologi.
Dalam bidang biodiversitas laut, Prof. Dr. Andi Muhammad Iqbal dikenal sebagai salah satu pakar vertebrata laut Indonesia.
Fokus penelitiannya meliputi taksonomi ikan, keanekaragaman hayati laut, hiu dan pari (elasmobranch), serta konservasi fauna laut Indonesia. Publikasinya banyak menjadi referensi dalam pengungkapan kekayaan biodiversitas laut Nusantara.
Sementara itu, Prof. Dr. Mahatma Lanuru, ST., M.Sc., pria asal Pangkajene Sidrap, mengembangkan kepakaran di bidang oseanografi, khususnya oseanografi fisik, dinamika sedimen, hidrodinamika pantai, dan pemodelan oseanografi pesisir.
Saat ini ia dipercaya memimpin Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin sebagai Dekan periode 2025–2029.
Masih dari FIKP Unhas, Prof. Dr. Ahmad Faizal, ST., M.Si. merupakan salah satu pionir pengembangan GIS dan geospasial kelautan.
Bidang kepakarannya mencakup Sistem Informasi Geografis (GIS), marine spatial analysis, pemetaan habitat pesisir, penginderaan jauh, serta eksplorasi sumber daya hayati laut berbasis spasial. Selama ini, ia dikenal sebagai salah satu penggerak penguatan teknologi geospasial dalam pendidikan dan penelitian di FIKP Unhas.
Jejak alumni ITK Unhas juga berkembang di luar kampus almamater. Prof. Dr. Najamuddin yang kini mengabdi di Universitas Khairun, Ternate, meraih guru besar dengan bidang kepakaran Pencemaran Polutan Anorganik di Lingkungan Laut, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil.
Penelitian Putra Bone itu banyak membahas pencemaran laut, kualitas perairan, logam berat, geokimia lingkungan, hingga pengelolaan lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Adapun alumni termuda yang baru saja dikukuhkan sebagai guru besar adalah Prof. Ir. La Ode Muhammad Yasir Haya, ST., M.Si., Ph.D. dari Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari.
Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Eksplorasi dan Pemodelan Ekosistem Pesisir-Kelautan, dengan fokus penelitian pada pemodelan spasial pesisir, GIS kelautan, penginderaan jauh, eksplorasi sumber daya pesisir, dan pemodelan ekosistem kelautan.
Makna bagi Negara Maritim Indonesia
Jika dicermati, tujuh profesor alumni ITK Unhas tersebut menggambarkan kekuatan keilmuan yang sangat lengkap. Ada yang menekuni ekologi pesisir dan mangrove, oseanografi, biodiversitas laut, pencemaran lingkungan, hingga teknologi geospasial dan pemodelan ekosistem.
Yang menarik, tiga dari tujuh profesor tersebut memiliki benang merah dalam pengembangan ilmu geospasial kelautan, yakni Prof. Ahmad Faizal, Prof. Nurjannah Nurdin, dan Prof. La Ode Muhammad Yasir Haya.
Ketiganya mengembangkan pemanfaatan GIS, penginderaan jauh, pemodelan spasial, dan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan. Hal ini menunjukkan bahwa ITK Unhas telah membangun tradisi akademik yang kuat dalam bidang geospasial kelautan, salah satu disiplin yang semakin penting di era transformasi digital dan ekonomi biru.
Di sisi lain, kepakaran yang dikembangkan Prof. Amran Saru, Prof. Mahatma Lanuru, Prof. Andi Muhammad Iqbal, dan Prof. Najamuddin memperkuat bidang-bidang fundamental ilmu kelautan, mulai dari konservasi ekosistem, oseanografi, biodiversitas, hingga kualitas lingkungan laut.
Keberhasilan para alumni tersebut menjadi profesor di berbagai perguruan tinggi juga menunjukkan bahwa Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Universitas Hasanuddin tidak hanya melahirkan lulusan yang berkiprah sebagai akademisi, tetapi juga menjadi pusat pembentukan ilmuwan yang berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kebijakan pengelolaan sumber daya kelautan Indonesia.
Bagi keluarga besar alumnni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas – kini FIKP Unhas, capaian tujuh guru besar ini bukan sekadar penambahan gelar akademik.
Tak hanya itu, mereka menjadi representasi tumbuhnya jejaring keilmuan maritim Indonesia Timur yang terus berkembang, memperkuat riset, pendidikan, dan inovasi demi pengelolaan laut yang berkelanjutan.
Editor Denun









