Pada awal 1990-an, perjalanan menuju Selayar bukanlah perkara sederhana. Akses transportasi masih terbatas, perjalanan laut memerlukan waktu yang panjang, dan fasilitas belum seperti sekarang. Namun, menurut Rustan, justru dalam keterbatasan itulah nilai sebuah pengabdian terasa lebih bermakna.
PELAKITA.ID – Waktu telah berlalu lebih dari tiga dekade. Warna foto mulai memudar, beberapa wajah tampak samar, tetapi kenangan yang tersimpan di baliknya tetap hidup.
Di dalam foto itu, seorang pemuda berkemeja putih dengan lengan merah duduk di barisan depan. Dialah Rustan Rewa, ketika masih menjadi mahasiswa Jurusan Penyuluhan Pertanian Universitas Hasanuddin sekaligus Ketua Himpunan Mahasiswa Penyuluh Pertanian pada 1991.
Saat ditemui Pelakita, Rustan tersenyum ketika diminta menceritakan kembali kisah di balik foto lawas tersebut. Baginya, gambar itu bukan sekadar dokumentasi masa kuliah, melainkan pengingat akan masa ketika idealisme mahasiswa benar-benar diuji di tengah masyarakat.
“Itu waktu kami berangkat ke Kabupaten Selayar untuk melaksanakan pengabdian masyarakat. Kami membawa teman-teman mahasiswa turun langsung ke lapangan. Bukan sekadar menjalankan program, tetapi belajar memahami kehidupan masyarakat,” kenangnya.
Pada awal 1990-an, perjalanan menuju Selayar bukanlah perkara sederhana. Akses transportasi masih terbatas, perjalanan laut memerlukan waktu yang panjang, dan fasilitas belum seperti sekarang. Namun, menurut Rustan, justru dalam keterbatasan itulah nilai sebuah pengabdian terasa lebih bermakna.
Sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Penyuluh Pertanian, ia tidak hanya bertanggung jawab mengoordinasikan kegiatan organisasi, tetapi juga memastikan setiap mahasiswa memahami bahwa ilmu penyuluhan tidak cukup dipelajari di ruang kuliah.
“Bagi kami, penyuluhan adalah tentang hadir bersama masyarakat. Mendengar mereka, belajar dari mereka, lalu bersama-sama mencari solusi,” tuturnya.
Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya.
Selepas menyelesaikan pendidikan, Rustan mengabdikan diri di birokrasi Pemerintah Kabupaten Tolitoli. Ia pernah dipercaya memimpin Dinas Pertanian, sebelum kemudian mengemban amanah sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Daerah Kabupaten Tolitoli.
Menurut Rustan, banyak pelajaran kepemimpinan yang justru diperoleh ketika aktif di organisasi mahasiswa.
“Di organisasi kami belajar memimpin, menyelesaikan masalah, mengelola orang, dan bertanggung jawab. Bekal itu sangat terasa ketika memasuki dunia pemerintahan,” katanya.
Aktivisme kampus juga membentuk jejaring persahabatan yang hingga kini tetap terpelihara. Karena itu, setelah menjadi alumni, ia tetap aktif dalam berbagai organisasi, termasuk Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Tolitoli dan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Tolitoli.
Bagi Rustan, organisasi bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan ruang untuk terus memberi manfaat kepada masyarakat.
Melihat kembali foto lama itu, yang muncul bukan sekadar nostalgia tentang masa muda. Yang hadir adalah rasa syukur karena perjalanan panjang itu berawal dari keberanian seorang mahasiswa yang percaya bahwa ilmu harus dibawa keluar kampus.
“Kalau melihat foto ini, saya lebih banyak mengingat prosesnya daripada hasilnya. Kami datang sebagai mahasiswa, tetapi pulang membawa pelajaran hidup yang sangat berharga,” ujarnya.
Bagi Pelakita, kisah Rustan Rewa menunjukkan bahwa pengabdian tidak lahir secara tiba-tiba ketika seseorang menduduki jabatan publik. Pengabdian dibangun sejak masa muda, melalui organisasi, kerja lapangan, dan perjumpaan langsung dengan masyarakat.
Barangkali itulah makna terdalam dari foto yang diambil sekitar 35 tahun lalu itu. Wajah-wajah muda yang tersenyum di depan kamera bukan hanya sedang mengabadikan sebuah perjalanan ke Selayar.
Mereka sedang menanam benih kepemimpinan yang kelak tumbuh dalam berbagai bentuk pengabdian.
Sebagian menjadi birokrat, sebagian menjadi profesional, sebagian lagi menempuh jalan hidup yang berbeda. Namun, mereka pernah berada pada satu titik yang sama: menjadi mahasiswa yang percaya bahwa ilmu pengetahuan akan menemukan maknanya ketika kembali kepada masyarakat.
Pembaca sekalian, bagi Rustan Rewa, keyakinan itu ternyata tidak pernah berubah hingga hari ini.
Editor Denun









