Silaturahmi “Meja Bundar” Daeng Manye, Ketika Domino Menjadi Kunci Sinergi Pembangunan di Takalar

  • Whatsapp
Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye bersama pekerja media (dok: Infokom)

PELAKITA.ID – Malam di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Takalar, Senin (1/6/2026), menghadirkan suasana yang berbeda dari kebanyakan pertemuan antara pemerintah dan insan pers.

Tidak ada sekat protokoler yang kaku, tidak pula deretan kursi formal yang menciptakan jarak antara pejabat dan masyarakat.

Di bawah suasana hangat malam Takalar, suara batu domino yang beradu di atas meja pualam justru menjadi pengikat kebersamaan.

Di sanalah Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, duduk setara dengan puluhan jurnalis, berbagi tawa, berdiskusi, sekaligus merajut komunikasi dalam suasana yang cair dan penuh kekeluargaan.

Daeng Manye, malam itu duduk memegang kartu, di sampingnya ada Leo dari Klikbaca.com, Iwank Surya dari Sulberita dan penulis.

Bagi sebagian orang, permainan domino mungkin hanya dianggap sebagai hiburan. Namun bagi Daeng Manye, meja domino menjadi medium komunikasi yang efektif untuk membangun kedekatan sekaligus memecah kekakuan birokrasi yang selama ini sering menjadi penghambat arus informasi.

“Kadang-kadang ide dan solusi terbaik justru lahir dari ruang-ruang yang santai. Ketika sekat formal hilang, komunikasi menjadi lebih terbuka dan jujur,” ujar Kemal Situru, jurnalis dan ketua JOIN pada pertemuan silaturahmi tersebut.

Dalam kultur masyarakat Sulawesi Selatan, meja domino memang memiliki makna sosial yang khas. Ia bukan sekadar arena permainan, melainkan ruang perjumpaan yang egaliter.

Di atas meja bundar berbalut kain putih itu, status sosial dan jabatan seakan melebur. Yang tersisa hanyalah interaksi antarmanusia yang saling menghargai. Setelah menikmati sajian mie kering, sukun goreng dan kopi nikmat, peserta duduk – sebagian memilih berdiri merekam sambutan dua sosok.

Sebagai pengantar pertemuan sekaligus mewakili jurnalis. Kamaruddin Azis, pendiri portal maritim pelakita.ID dan media berbahasa Inggris www.maritimposts.com mengapresiasi iniisiatif ini dan menyebutnya setara dengan ungkapan, ‘hidup-hidupkanlah Muhammadiyah’ dan hidup-hidupkanlah insan pers di Takalar yang peduli pembangunan daerah.

Pria asal Galesong ini menyebut, momen seperti ini sangat istimewa karena ada komitmen Pemerintah Daerah untuk mengajak media bersama mempromosikan potensi daerah termasuk 7 Destinasi Wisata yang sedang digaungkan Bupati dan telah menjadi agenda setting pembertaan jurnalis di Takalar.

“Kalau bisa setelah ini, bisa dilanjutkan seperti promosi destinasi kuliner seperti Jagung Bakar Hj Athik yang luar biasa itu,” kata pria yang akrab disapa Daeng Nuntung itu.

Suasana seperti itulah yang tampak malam itu. Para jurnalis, pejabat daerah, hingga kepala organisasi perangkat daerah berbincang tanpa beban protokoler. Percakapan mengalir dari isu pembangunan, pelayanan publik, hingga berbagai potensi daerah yang perlu mendapatkan perhatian lebih luas.

Dalam kesempatan tersebut, Daeng Manye menegaskan pentingnya peran media sebagai mitra strategis pemerintah daerah.

Menurutnya, media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada masyarakat serta menjaga keseimbangan informasi di ruang publik.

“Media adalah jembatan logis yang menghubungkan pemerintah dengan masyarakat, khususnya dalam mengabarkan berbagai program pembangunan, kebijakan makro, hingga capaian pelayanan publik. Kami berharap rekan-rekan pers bisa terus menyajikan informasi yang objektif, melahirkan pemberitaan berkualitas, serta dapat dipertanggungjawabkan,” kata Daeng Manye.

Lebih jauh, Bupati Takalar juga mengajak media untuk menjadi bagian dari upaya promosi daerah.

Menurutnya, Takalar memiliki banyak potensi yang layak diperkenalkan kepada publik yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Potensi tersebut mencakup sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan daerah, sektor perikanan dengan kekayaan sumber daya kelautan yang melimpah, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga sektor pariwisata yang menawarkan keindahan kawasan pesisir dan pantai.

“Potensi daerah harus terus dipromosikan agar semakin dikenal. Ketika daerah dikenal, investasi akan datang, kunjungan wisata meningkat, dan pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Komitmen membangun kolaborasi tersebut juga terlihat dari kehadiran sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan yang turut meramaikan kegiatan malam itu.

Hadir Camat Pattallassang, Camat Mappakasunggu, serta Camat Polongbangkeng Selatan yang menunjukkan dukungan terhadap upaya memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat melalui media.

Turut hadir pula Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Takalar, Suhardiyanto,., bersama Kabid Humas Andi Gunawan, serta Kabid Informatika M. Syahrir.

Kehadiran mereka memperlihatkan kesiapan pemerintah daerah dalam membangun sistem komunikasi publik yang semakin terbuka dan responsif.

Dukungan dari organisasi profesi media juga tampak dalam pertemuan tersebut. Jurnalis Online Indonesia (JOIN) diwakili Kemal Situru, sementara Serikat Pers Reformasi Nasional (Sepernas) diwakili Azis Kawang.

Kehadiran berbagai elemen ini menjadi simbol bahwa pembangunan daerah membutuhkan kerja sama lintas sektor yang kuat.

Pada akhirnya, kebersamaan yang terbangun di atas meja pualam itu bukan semata tentang permainan domino.

Lebih dari itu, ia menjadi simbol sinergi, ruang dialog, dan sarana membangun kepercayaan antara pemerintah, media, dan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Takalar menunjukkan bahwa membangun daerah tidak selalu harus dimulai dari ruang rapat yang formal. Terkadang, sebuah meja domino mampu menghadirkan suasana yang lebih produktif untuk menyatukan visi pembangunan.

Di tengah berbagai tantangan pembangunan yang semakin kompleks, pendekatan sederhana namun humanis seperti inilah yang menjadi pengingat bahwa komunikasi yang hangat dan kolaboratif sering kali menjadi fondasi utama lahirnya optimisme publik serta kemajuan daerah.

Redaksi