PELAKITA.ID – Momentum wisuda seringkali dipandang sebagai garis finis, namun di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Tamalanrea, Makassar, atmosfer yang terbangun pada Kamis, 7 Mei 2026, justru menandakan sebuah titik tolak yang jauh lebih menantang.
Di hadapan 981 wisudawan baru Universitas Hasanuddin (Unhas) Periode Mei 2026, Rektor Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Prof JJ) tidak sekadar memberikan ucapan selamat.
Dia menyampaikan sebuah narasi strategis tentang bagaimana bertahan dan relevan di tengah gelombang perubahan dunia yang kian eksponensial.
Sebagai seorang spesialis komunikasi strategis, saya melihat pesan Prof JJ bukan sekadar retorika seremonial, melainkan sebuah panduan navigasi bagi para intelektual muda dalam menghadapi ketidakpastian global yang semakin nyata.
Memahami Paradoks Tantangan Global yang Eksponensial
Mengapa kita harus terus berubah? Jawaban Prof JJ berakar pada realitas bahwa tantangan yang kita hadapi saat ini memiliki kompleksitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menariknya, beliau menekankan sebuah ironi: ancaman terbesar bagi umat manusia saat ini bukan lagi sekadar faktor alamiah, melainkan sistem yang dibangun oleh manusia itu sendiri.
Beberapa titik kritis yang menjadi perhatian utama meliputi:
Krisis Iklim dan Kerentanan Pangan: Perubahan lingkungan yang drastis yang mengancam stabilitas kebutuhan dasar manusia di seluruh belahan dunia.
Fluktuasi Ekonomi Global: Dinamika pasar internasional yang sangat volatil dan saling terkait, yang mampu mengubah peta kesejahteraan nasional dalam waktu singkat.
Disrupsi Teknologi Eksponensial: Kemajuan teknologi yang melesat lebih cepat dari kemampuan manusia untuk beradaptasi, menuntut definisi baru tentang cara kita bekerja dan berinteraksi.
Dunia modern tidak lagi memberikan ruang bagi mereka yang statis. Ketika sistem yang kita ciptakan menjadi sumber ketidakpastian, maka kapasitas internal manusialah yang harus dievolusi.
Filosofi “Learn, Unlearn, and Relearn” sebagai Evolusi Kognitif
Di tengah badai disrupsi ini, Prof JJ memperkenalkan kerangka berpikir Learn, Unlearn, and Relearn. Ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah kompetensi kognitif yang membedakan antara mereka yang akan tertinggal dengan mereka yang akan memimpin.
Learn: Menyadari bahwa kompetensi akademik yang diraih di bangku kuliah hanyalah fondasi awal. Belajar adalah proses akuisisi pengetahuan yang harus terus berlanjut.
Unlearn: Ini adalah fase yang paling menantang. Unlearn menuntut keberanian untuk “membongkar pengetahuan lama” dan meninggalkan metode atau cara pandang yang sudah usang. Keluar dari zona nyaman bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan untuk melakukan audit terhadap intelektualitas kita sendiri.
Relearn: Kemampuan untuk membangun kembali cara berpikir baru, mempelajari keterampilan yang relevan, dan menyelaraskan diri dengan tuntutan zaman yang terus bergerak.
“Keterampilan paling berharga hari ini adalah kemampuan untuk terus membongkar pengetahuan lama dan mempelajari hal baru. Learn, unlearn, and relearn menjadi kemampuan yang harus dimiliki setiap lulusan Unhas agar tetap relevan di tengah perubahan global,” tegas Prof JJ.
Unhas sebagai Inkubator Solusi Nyata
Sebagai institusi, Universitas Hasanuddin tidak hanya menuntut mahasiswanya untuk berubah, tetapi juga memberikan teladan melalui transformasi kelembagaan.
Mandat mencerdaskan bangsa kini diterjemahkan melalui hilirisasi riset yang berdampak langsung pada masyarakat. Unhas memosisikan diri bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai pusat solusi bagi persoalan bangsa.
Manifestasi nyata dari filosofi Relearn ini terlihat pada berbagai inovasi strategis yang dikembangkan Unhas di sektor agrokompleks, di antaranya:
Benih Jagung Unggulan: Upaya konkret dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional.
Varietas Ayam Alope: Inovasi sumber protein hewani yang kompetitif dan adaptif.
Pengelolaan Peternakan Modern Closed House: Implementasi teknologi terkini untuk memastikan efisiensi dan produktivitas tinggi dalam sistem pangan.
Inovasi-inovasi ini adalah bukti bahwa kampus telah berhasil mendobrak cara-cara lama dan mengadopsi pendekatan baru yang lebih relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Integritas dan Otokritik: Bekal Melampaui Ijazah
Menutup pesannya, Prof JJ mengingatkan bahwa gelar dan ijazah bukanlah tujuan akhir perjalanan intelektual. Gelar tersebut hanyalah instrumen untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna. Bagi para lulusan yang akan memasuki dunia kerja yang kompetitif, beliau menitipkan tiga pilar utama yang harus dijaga:
Menjaga Integritas: Karakter adalah mata uang yang paling berharga dalam profesionalisme. Tanpa integritas, kompetensi teknis akan kehilangan maknanya.
Keberanian Mengevaluasi Diri (Otokritik): Kemampuan untuk melihat ke dalam dan menyadari kekurangan diri adalah langkah pertama menuju pertumbuhan.
Semangat Belajar Sepanjang Hayat: Belajar tidak berhenti saat toga dilepaskan; ia adalah perjalanan seumur hidup.
Harapan besar yang disematkan kepada 981 wisudawan Unhas adalah agar mereka tidak sekadar menjadi pencari kerja, melainkan menjadi pembawa solusi.
Dengan semangat Learn, Unlearn, and Relearn, lulusan Unhas diharapkan mampu menavigasi masa depan yang penuh ketidakpastian menjadi peluang yang berdampak nyata bagi kemajuan bangsa.
Redaksi









