Oleh: Kamaruddin Azis
(Peneliti Perubahan Iklim di Pulau-Pulau Kecil Indonesia)
PELAKITA.ID – Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dianugerahi lebih dari 17.000 pulau. Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan pulau-pulau kecil yang menjadi garda terdepan sekaligus benteng paling rapuh dalam menghadapi krisis iklim global.
Di balik keindahan pasir putih dan jernihnya air laut, tersimpan kecemasan mendalam tentang keberlangsungan hidup jutaan jiwa di atasnya.
Perubahan iklim bukan lagi sekadar prediksi ilmiah di atas kertas atau perdebatan di ruang seminar internasional. Bagi masyarakat pesisir, ia adalah realitas harian yang mengancam urat nadi kehidupan.
Realitas Pahit di Ujung Utara Rajuni
Beberapa waktu lalu, di Pulau Rajuni, kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, saya menyaksikan sendiri sebuah pemandangan yang menyayat hati.
Di ujung utara pulau tersebut, warga masih harus mengais dan menggali pasir pantai demi mendapatkan setetes air bersih. Realitas ini adalah alarm keras.
Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika kenaikan permukaan air laut akibat pencairan es kutub terus berlanjut. Intrusi air laut akan semakin jauh mengunci daratan, membuat sumber air tawar yang tersisa menjadi asin dan tak layak konsumsi.
Situasi ini kian diperparah oleh gelombang yang semakin tinggi dan anomali cuaca yang sulit ditebak. Ketika hantaman El Niño datang, pulau-pulau kecil ini seperti dipanggang kekeringan ekstrem, memicu krisis air bersih dan sanitasi yang mengancam kesehatan warga.
Ancaman ini tidak berhenti di darat. Di laut, perubahan suhu air telah memicu pemutihan karang (coral bleaching) dan merusak ekosistem tempat ikan memijah.
Akibatnya, secara sosial dan ekonomi, nelayan tradisional kini kesulitan menangkap ikan di area dekat pantai. Mereka terpaksa melaut semakin jauh ke tengah samudra, menerjang risiko keselamatan yang lebih besar dengan biaya operasional bensin yang membengkak, tanpa jaminan membawa pulang hasil.
Kritik untuk Media: Melampaui Jurnalisme Permukaan
Pesisir dan pulau kecil kita sedang rapuh, namun perhatian yang diberikan oleh ruang redaksi kita masih terasa minim.
Selama ini, media kita cenderung lebih banyak menulis di permukaan. Isu lingkungan atau cuaca ekstrem kerap kali hanya diberitakan sebagai peristiwa sesaat—seperti statistik angka kerugian atau liputan bencana yang bersifat reaktif dan cepat usai.
Sangat jarang kita temukan liputan mendalam (in-depth) yang mengupas tuntas gejala atau peristiwa kerencanaan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang mengakar akibat perubahan iklim.
Padahal, hancurnya terumbu karang bukan cuma soal ekologi, melainkan awal dari kemiskinan struktural nelayan.
Kekeringan di pulau kecil bukan sekadar cuaca panas, melainkan ancaman hilangnya sebuah peradaban lokal. Media punya utang besar untuk mengaitkan titik-titik krisis ini agar publik dan pembuat kebijakan paham bahwa kita sedang menghadapi ancaman eksistensial yang sistemik.
Oleh karena itu, kita perlu menggali lebih dalam realitas lapangan, mendengarkan langsung pengalaman para aktor lokal—para nelayan, perempuan pesisir, dan tetua adat yang menjadi saksi hidup perubahan alam.
Di sinilah pentingnya mendorong Evidence-Based Journalism (Jurnalisme Berbasis Bukti). Kita harus menjauh dari jurnalisme kosmetik dan sensasionalisme, apalagi terjebak dalam narasi hoaks.
Untuk melahirkan produk jurnalisme yang kuat dan mendalam, kolaborasi aktif antara jurnalis, peneliti, dan kampus atau perguruan tinggi menjadi harga mati. Kampus memiliki kekayaan data ilmiah, sementara jurnalis memiliki kemampuan merajut data tersebut menjadi cerita yang menyentuh hati publik.
Peluang Kolaborasi ke Depan: Menembus Batas dan Sektor
Menatap tantangan yang kian kompleks, ruang redaksi tidak bisa lagi bekerja dalam silo atau sendirian. Di masa depan, terbuka peluang kolaborasi yang sangat menjanjikan untuk menjembatani riset ilmiah dan jurnalisme berdampak. Salah satu bentuk konkretnya adalah membangun kemitraan strategis lintas negara dan lintas sektor.
Kita bisa menginisiasi kolaborasi multipihak yang mempertemukan keahlian akademis dari institusi seperti Universitas Hasanuddin (Unhas)—yang memiliki kedekatan geografis dan riset kuat pada karakter maritim serta pulau-pulau kecil di Indonesia Timur—dengan media maritim khusus seperti Pelakita.ID dan maritimeposts.com.
Jika ekosistem lokal ini dipadukan dengan jejaring media Australia yang memiliki perhatian tinggi pada isu climate change, kita akan mampu melahirkan sebuah platform bertukar data, peningkatan kapasitas jurnalis, hingga produksi liputan kolaboratif (cross-border reporting) yang mendalam.
Kemitraan ini akan memastikan isu-isu kritis dari wilayah terluar seperti Taka Bonerate bisa bergaung hingga ke tingkat global.
Tanggung Jawab Moral dan Rencana Aksi Nyata
Menyelamatkan pulau-pulau kecil adalah tanggung jawab kolektif. Kita semua perlu terlibat dan mengambil aksi nyata sebelum pulau-pulau ini tenggelam atau tak lagi bisa dihuni. Sebagai langkah konkret ke depan, beberapa rencana aksi strategis yang harus segera diwujudkan antara lain:
-
Sosialisasi dan Edukasi Masif: Membangun kesadaran masyarakat tapak tentang adaptasi perubahan iklim, mulai dari pengelolaan air bersih yang bijak hingga perlindungan vegetasi pantai seperti mangrove.
-
Penulisan Konten yang Dalam dan Inspiratif: Memproduksi narasi-narasi jurnalistik yang mendalam (features) yang mampu membongkar akar masalah kerencanaan sosial-ekonomi sekaligus menyebarkan praktik-praktik baik (good practices) adaptasi warga pulau.
-
Membangun Kolaborasi Multi-Pihak: Menjembatani komunikasi antara pakar ahli, peneliti, perguruan tinggi, dan komunitas lokal melalui platform kerja sama yang inklusif.
Model kemitraan internasional seperti yang diinisiasi oleh Australia Indonesia Center (AIC), Australia Indonesia Initiative, serta Monash Climate Communication Hub adalah contoh nyata betapa kolaborasi global mampu memperkuat riset dan komunikasi iklim.
Kemitraan strategis semacam ini membuktikan bahwa batas negara mencair ketika kita bicara tentang tanggung jawab moral menyelamatkan bumi.
Pulau Rajuni dan ribuan pulau kecil lainnya di Indonesia sedang mengirimkan sinyal darurat.
Menengok ke belakang bukanlah pilihan. Melalui kolaborasi sains, jurnalisme yang jujur, mendalam, dan aksi nyata yang konsisten, kita masih punya kesempatan untuk memastikan bahwa anak-cucu kita di masa depan masih bisa melihat indahnya pulau-pulau kecil Nusantara, bukan sekadar mengenangnya lewat cerita sejarah.
___
Penulis Kamaruddin Azis, Gowa, 4 April 2026









