Jika Menteri Prof Brian berbicara tentang arah kebijakan nasional, Rektor Unhas Prof JJ berbicara tentang dampak bagi masyarakat, dan Boyd Whalan menjelaskan desain kolaborasi, maka Dirjen Fauzan menjawab pertanyaan berikutnya: bagaimana pemerintah akan membangun ekosistem riset Indonesia ke depan.
PELAKITA.ID – MAKASSAR – Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menegaskan bahwa masa depan riset Indonesia tidak lagi dibangun melalui proyek-proyek yang berjalan sendiri-sendiri.
Sebaliknya, penelitian harus tumbuh dalam ekosistem kolaboratif yang saling terhubung, melibatkan banyak institusi, dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Prof. Fauzan Adziman, saat membuka rangkaian PAIR (Partnership for Australia–Indonesia Research) Annual Meeting 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Menurut Fauzan, pengalaman pemerintah dalam membangun sistem penelitian nasional menunjukkan bahwa kekuatan terbesar Indonesia bukan hanya terletak pada sumber daya manusia atau pendanaan, melainkan pada budaya gotong royong yang mampu menyatukan berbagai aktor dalam menyelesaikan persoalan bersama.
“Gotong royong berarti bekerja bersama bukan dengan terlebih dahulu memikirkan keuntungan masing-masing, tetapi bagaimana menyelesaikan persoalan bersama.” Nilai tersebut, katanya, kini menjadi filosofi utama dalam membangun kebijakan riset nasional.
Dari Proyek Menjadi Ekosistem
Fauzan mengisahkan bahwa ketika bergabung dengan pemerintahan pada 2024, setelah lebih dari dua dekade berkarier sebagai akademisi, peneliti, dan pelaku technopreneurship, ia memperoleh satu pelajaran penting dari pendahulunya, Prof. Nizam.
Pesan yang paling membekas adalah bahwa riset Indonesia akan berkembang jauh lebih cepat apabila dibangun melalui konsorsium daripada proyek yang berdiri sendiri.
“Saya langsung kembali ke kantor dan membentuk Tim Konsorsium. Kami mulai memikirkan bagaimana proyek-proyek penelitian dapat saling terhubung dan memperkuat satu sama lain,” ujarnya.
Sejak saat itu, menurut Fauzan, pendekatan pemerintah bergeser dari sekadar mendanai penelitian menjadi mengorkestrasi hubungan antarriset sehingga hasil setiap proyek dapat memperkuat proyek lainnya.
Baginya, tantangan Indonesia saat ini bukan lagi menciptakan terlalu banyak program baru, melainkan menyusun berbagai program yang telah ada agar saling melengkapi.
“Kita tidak selalu membutuhkan program baru. Yang lebih penting adalah bagaimana mengorkestrasi program-program yang sudah ada agar menghasilkan dampak yang lebih besar.”
PAIR Menjadi Model Nasional
Dalam pandangan Fauzan, PAIR merupakan contoh nyata bagaimana konsorsium penelitian dapat berjalan secara efektif.
Ia mengapresiasi pendekatan bottom-up yang digunakan sejak PAIR Batch 1, di mana agenda penelitian lahir dari kebutuhan daerah dan dibangun bersama perguruan tinggi, pemerintah, industri, serta masyarakat.
Model tersebut, menurutnya, berhasil menciptakan keterhubungan antarriset sehingga setiap proyek tidak bekerja dalam ruang yang terpisah.
“Yang saya lihat bukan hanya proyek-proyek penelitian, tetapi bagaimana semuanya saling terhubung. Inilah bentuk program yang memang seharusnya kita bangun.”
Ia berharap semangat tersebut terus dipertahankan pada PAIR Batch 2 yang saat ini sedang dipersiapkan bersama Pemerintah Australia.
Berbekal pengalamannya di dunia industri, Fauzan juga menekankan bahwa keberhasilan kolaborasi tidak pernah ditentukan semata-mata oleh institusi.
Menurutnya, kerja sama terbaik selalu lahir dari hubungan antarmanusia.
“Dalam bisnis kami belajar bahwa pada akhirnya bukan business to business, bukan government to government, bahkan bukan university to university. Yang paling penting adalah human to human.”
Karena itu ia meminta seluruh peserta PAIR memanfaatkan forum tahunan tersebut untuk membangun jejaring yang akan terus hidup jauh setelah proyek penelitian selesai.
Salah satu capaian PAIR yang mendapat perhatian khusus adalah keberhasilan sejumlah hasil penelitian diterjemahkan menjadi kebijakan pemerintah daerah.
Fauzan menyebut salah satu produk penelitian periode 2019–2023 bahkan telah diadopsi menjadi Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan, membuktikan bahwa penelitian mampu memengaruhi arah pembangunan daerah.
“Itulah yang kami sebut dampak. Penelitian tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah.”
Menurutnya, inilah indikator keberhasilan yang ingin terus diperkuat pada seluruh program riset nasional.
Batch Kedua Lebih Terhubung
Memasuki PAIR Batch 2, pemerintah menargetkan adanya integrasi yang lebih kuat antartopik penelitian.
Setiap proyek diharapkan tidak hanya menghasilkan luaran sendiri, tetapi juga memiliki hubungan yang jelas dengan proyek lain, menyusun rencana keberlanjutan, serta menunjukkan jalur dampak (pathway to impact) yang terukur.
Selain memperkuat peran Universitas Hasanuddin sebagai simpul utama, pemerintah juga mendorong semakin banyak perguruan tinggi lokal di Sulawesi, Maluku, dan Papua menjadi bagian dari konsorsium.
Menurut Fauzan, konteks lokal merupakan faktor penting agar hasil penelitian benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Tidak Berhenti di Annual Meeting
Dalam kesempatan tersebut Fauzan juga mengundang seluruh peneliti PAIR menampilkan hasil terbaiknya pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia yang akan digelar pada September mendatang.
Forum nasional yang dibuka Presiden RI itu diharapkan menjadi panggung bagi berbagai inovasi hasil penelitian Indonesia.
Ia menegaskan bahwa capaian PAIR tidak boleh berhenti sebagai laporan tahunan maupun artikel ilmiah.
“Saya berharap hasil-hasil terbaik PAIR tidak berhenti di annual meeting dan tidak berhenti di publikasi. Kita harus membawa hasil penelitian itu ke panggung nasional.”
Menghubungkan PAIR dengan Program Nasional
Selain PAIR, Fauzan memperkenalkan berbagai skema pendanaan baru yang disiapkan pemerintah untuk memperluas kolaborasi internasional.
Di antaranya International Research Partnership Program, program mobilitas peneliti bersama mitra luar negeri, Diaspora Pulang, hingga skema Hub and Spokes yang menghubungkan perguruan tinggi Indonesia dengan universitas-universitas terbaik dunia, termasuk MIT, Oxford, Cambridge, Imperial College London, dan sejumlah universitas di Prancis serta Belanda.
Menurutnya, seluruh program tersebut merupakan bagian dari strategi besar pemerintah membangun kapasitas talenta riset Indonesia.
Di tengah berbagai tantangan fiskal, kata Fauzan, pemerintah tetap meningkatkan anggaran riset secara bertahap karena Presiden menempatkan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai investasi jangka panjang bagi daya saing bangsa.
Dari Sulawesi untuk Indonesia Timur
Menutup sambutannya, Fauzan berharap pengalaman PAIR di Sulawesi menjadi model yang dapat diperluas ke Maluku dan Papua.
Baginya, Sulawesi bukanlah tujuan akhir, melainkan laboratorium kolaborasi yang dapat direplikasi untuk mempercepat pembangunan berbasis ilmu pengetahuan di seluruh kawasan timur Indonesia.
“PAIR telah menunjukkan bahwa ketika perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat bergerak bersama, penelitian tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga melahirkan kebijakan, inovasi, dan perubahan yang nyata.”
Dirjen Fauzan Adziman: Ekosistem riset Indonesia dibangun melalui gotong royong, konsorsium, dan keterhubungan antarriset.
___
Editor: Kamaruddin Azis









