Todd Diaz tidak berbicara banyak mengenai kebijakan atau teknis penelitian, melainkan membangun narasi emosional tentang hubungan Australia-Indonesia yang berakar dari sejarah panjang Sulawesi.
PELAKITA.ID – MAKASSAR – Hubungan Australia dan Indonesia sesungguhnya tidak dimulai dari ruang diplomasi modern ataupun perjanjian antarnegara. Jauh sebelum lahirnya negara-bangsa, para pelaut Makassar telah berlayar ke Australia Utara, membangun hubungan dagang dan persahabatan dengan masyarakat Aborigin.
Narasi sejarah itu menjadi pembuka sambutan Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Diaz, pada pembukaan PAIR (Partnership for Australia–Indonesia Research) Annual Meeting 2026 di Universitas Hasanuddin.
Dengan gaya santai dan disampaikan hampir seluruhnya dalam bahasa Indonesia, Todd mengajak para peneliti melihat bahwa kemitraan Australia–Indonesia bukan sekadar kerja sama diplomatik, melainkan kelanjutan dari hubungan antarmasyarakat yang telah berlangsung selama berabad-abad.
“Hari ini kita berada di Makassar, titik nol hubungan Australia dan Indonesia. Bukan hanya karena kunjungan para pemimpin, tetapi karena ratusan bahkan ribuan tahun lalu para pelaut Makassar telah datang ke Australia Utara dan bekerja sama dengan masyarakat asli Australia.”
Baginya, Makassar bukan hanya lokasi penyelenggaraan konferensi, tetapi simbol awal persahabatan dua bangsa.
Sulawesi Menjadi Jantung Kemitraan
Todd mengaku bangga karena PAIR merupakan satu-satunya program riset bilateral yang secara khusus berfokus pada Sulawesi.
Ia mengapresiasi Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta LPDP, bersama Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), yang memilih Sulawesi sebagai laboratorium kolaborasi ilmu pengetahuan.
“PAIR adalah program yang secara khusus berfokus pada Sulawesi. Tidak ada program lain seperti ini.”
Menurutnya, perhatian terhadap kawasan timur Indonesia menjadi langkah penting untuk menghadirkan pemerataan kesempatan riset sekaligus memperkuat pembangunan di luar Pulau Jawa.
Penelitian Harus Turun ke Lapangan
Berbeda dengan banyak forum ilmiah yang berpusat di ruang konferensi, Todd mengaku lebih menikmati berada langsung di lapangan.
Selama mendampingi kegiatan PAIR, ia mengunjungi berbagai wilayah di enam provinsi Sulawesi, mulai dari Bunaken di Sulawesi Utara, Donggala di Sulawesi Tengah, Kendari di Sulawesi Tenggara, hingga berbagai komunitas pesisir lainnya.
“Kami mengunjungi puskesmas, desa-desa, dan masyarakat pesisir. Di sanalah kita benar-benar melihat tantangan yang mereka hadapi.”
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa perubahan iklim hadir dalam bentuk yang berbeda di setiap daerah.
Di Sulawesi Barat masyarakat menghadapi abrasi pantai. Di Sulawesi Tenggara dan Gorontalo muncul persoalan kekeringan yang memengaruhi sektor pertanian. Wilayah lain menghadapi tantangan terhadap kesehatan masyarakat, sumber daya perikanan, hingga ketahanan pangan.
Namun menurut Todd, seluruh persoalan itu memiliki akar yang sama.
Masalah Sulawesi Adalah Masalah Dunia
Todd menegaskan bahwa riset PAIR bukanlah proyek Australia untuk membantu Indonesia.
Sebaliknya, kedua negara sedang bekerja sama menghadapi tantangan yang sama.
“Ini bukan penelitian Australia untuk Sulawesi. Ini adalah Australia dan Indonesia bersama-sama membantu Sulawesi, membantu Indonesia, membantu Australia, dan mudah-mudahan juga membantu dunia.”
Menurutnya, perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir Sulawesi pada dasarnya juga sedang dihadapi berbagai komunitas pesisir di Australia.
Karena itu, solusi yang lahir dari Sulawesi berpotensi menjadi pembelajaran global.
Menjadi Tetangga yang Baik
Todd kemudian mengutip pesan yang juga disampaikan Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Jamaluddin Jompa.
Australia dan Indonesia, katanya, tidak pernah dapat memilih siapa tetangganya.
Yang dapat dipilih adalah bagaimana kedua negara menjadi tetangga yang baik.
“Kita memang tidak bisa memilih tetangga. Tetapi kita bisa memilih menjadi tetangga yang baik.”
Baginya, PAIR merupakan wujud nyata pilihan tersebut.
Melalui penelitian bersama, kedua negara saling belajar, berbagi pengetahuan, dan membangun solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat di kedua sisi Laut Timor.
Science, Policy, Action
Menjelang akhir sambutannya, Todd kembali mengingatkan tema besar PAIR Annual Meeting 2026, yakni Science, Policy and Action.
Menurutnya, ilmu pengetahuan harus menjadi dasar penyusunan kebijakan, tetapi tidak boleh berhenti di sana.
Yang paling penting adalah aksi nyata yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
“Yang terpenting adalah aksi nyata. Selama tiga hari ke depan kita harus mendiskusikan tindakan apa yang benar-benar akan kita lakukan.”
Ia berharap seluruh peneliti, pemerintah daerah, pelaku industri, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal yang hadir dalam forum tersebut dapat menghasilkan langkah konkret yang memberi manfaat bagi masyarakat pesisir Sulawesi.
Menutup sambutannya, Todd menyampaikan ucapan terima kasih dalam beberapa bahasa daerah di Sulawesi sebelum mengakhiri dengan salam khas Sulawesi Selatan.
“Salama’ki barakka’.”
Kalimat sederhana itu menjadi penutup yang hangat, sekaligus menegaskan bahwa bagi Australia, kemitraan dengan Indonesia bukan hanya dibangun melalui diplomasi, tetapi juga melalui penghormatan terhadap budaya, sejarah, dan masyarakat yang menjadi fondasi hubungan kedua negara.
___
Editor: Kamaruddin Azis









