Membaca kediaman itu, suasana belakang rumah, kali kering, kanal irigasi yang penuh sedimen dan tak berfungsi, pohon lobi atau lobe-lobe dalam bahasa Makassar, hingga rumpun bambu yang meranggas mengingatkan suasana Galesong tahun 1980-an.
PELAKITA.ID – Tahun 1980-an saya pernah bersepeda dari Kampung Jempang, terus ke Kampung Takari, berbelok ke Bontorita, lalu ke Barembeng hingga Bontolangkasa’.
Sedikit lagi tembus Jalan Poros Limbung–Palleko. Kenangan itu terus membekas dalam ingatan, tentang irigasi yang sehat, air jernih, dan suasana desa-desa Galesong–Bontonompo nun lampau.
Setiap mengingat Bontonompo, selalu terkenang Bategulung, kampung di dekat Bontolangkasa’ yang pernah saya datangi membawa undangan sunatan untuk anak Haji Te’ne di Bayowa, tante yang juga memiliki Coto Bajiminasa di Jalan Bulukunyi 29 dahulu.
Kenangan itu kembali menyeruak saat Mustamin Raga, pegawai negeri di Gowa yang saya kenal sebagai penulis buku, alumni Sastra Inggris Unhas angkatan 1988, dan rajin menulis untuk Pelakita.ID meski tanpa honor.
“Ada waktuta hari ini? Ada rencana ke Bategulung bareng Daeng Gajang.”
Kurang lebih begitu pesannya pada Sabtu, 2 Agustus 2026.
Tentu saja saya mengiyakan. Nama kampung itu sejak lama selalu dirindukan.
Ada semangat merevitalisasi ingatan dan bereuni dengan orang-orang di sana, meski saya tidak yakin masih ada yang mengenal saya, atau minimal keluarga dari Bayowa, Kampung Pajalaya, dan Jempang.
Pendek cerita, saya dan Mustamin Raga—selanjutnya akan saya tulis sebagai Tetta Raga—berangkat ke Bategulung. Dia datang menjemput di rumah Tamarunang lalu berbelok menanjak ke Jembatan Kembar Sumigo yang memorable via Cambaya.

Kepada Tetta Raga saya bercerita tentang kebiasaan bersepeda sejak SMP, naik motor trail Yamaha milik almarhum Azis Daeng Salle—bapak saya—hingga mengingat bahwa Bategulung yang saya ingat adalah kampung di seberang Rappokaleleng.
“Ih tidak, Bategulung itu dekat Bontolangkasa, atau selurus Manjapai, Kaluarrang, kampungnya Bupati Takalar,” begitu balasan Tetta Raga.
Nah, ini satu hal yang tercerahkan dan mengusik kabut memori tentang geografi di antara Bontonompo–Galesong.
Lalu saya masuk ke pertanyaan kedua.
“Betulkah itu Kampung Sengka, kampungnya Daeng Kawang SYL?”
“Bukan, beliau di Karebasse, dekat Bategulung, atau lebih sering disebut Manjapai, karena Karebasse bagian dari Manjapai,” jelas Tetta Raga.
Dua hal terselesaikan. Memori kembali cerah.
Mobil yang kami tumpangi berbelok dari ruas jalan, bukan melalui Rappokaleleng.
“Kalau ini jalur alternatif utama, lebih dekat ke Bategulung. Kalau lewat Rappokaleleng lebih jauh,” kata Tetta Raga.
Jalur jalan itu agak menanjak, tetapi jalannya bagus. Sama persis dengan kondisi jalan antara Limbung ke Bajeng Barat sebelum betul-betul parah saat masuk Galesong.
Kami sampai sekitar pukul tiga sore di sebuah rumah yang menghadap ke ujung barat.
“Dari sini bagus sunset-nya,” kata Tetta Raga.
Jadi, sosodara, kami akan berburu sunset, sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga Tetta Raga.
Dari rumah itu kami bergeser sedikit ke selatan. Kami salat Asar di masjid yang tampak besar.
“Di sana itu rumahnya Sekda Gowa pada masanya, Mallingkai Maknun. Beliau Bupati satu periode di Bantaeng dan pernah jadi Ketua DPRD Gowa,” ungkap Tetta Raga.
Keluarga besar Yasin Limpo berasal dari Manjapai–Bategulung–Bontolangkasa.
“Pak SYL itu aslinya dari Karebasse,” ulang Tetta Raga.
Ada beberapa nama yang bertaut dengan kawasan ini, selain SYL, IYL, None, Bupati Adnan, hingga sosok cerdas dan tangguh bernama Mallingkai Maknun.
Kami sempat ngopi di rumah tua Mallingkai yang menjadi pusat Yayasan Tamparang Taesa. Di situ ada kolam ikan bundar berisi nila, aula pengajian, dan sejumlah ruang yang tampaknya digunakan untuk pengajian Al-Qur’an maupun tempat bermain anak-anak.

Di rumah ini pula kami bersua dengan kemenakan Mallingkai, Syamsu Alam Salewangang Daeng Gajang, yang juga Wakil Rektor IV Universitas Syekh Yusuf Almakassari dan aktivis LSM dengan pengalaman hampir 40 tahun. Ia juga pernah lama bekerja di Plan International.
“Saat Tetta Mallingkai Maknun Bupati di Bantaeng, beliau tosseng pandasa-dasa riolo,” goda Tetta Raga kepada Daeng Gajang, sosok yang juga pengurus DPP KKSS Sulawesi Selatan.
Membaca kediaman itu, suasana belakang rumah, kali kering, kanal irigasi yang penuh sedimen dan tak berfungsi, pohon lobi atau lobe-lobe dalam bahasa Makassar, hingga rumpun bambu yang meranggas mengingatkan suasana Galesong tahun 1980-an.
Kami sempat meneguk kopi hitam di kediaman ini dan berbincang dengan adik Mallingkai Maknun yang merawat kolam ikan nila.


Dijamu sunset
Dari rumah itu, kami kembali ke rumah pertama. Duduk di depan rumah sembari sesekali memeriksa matahari dan mencari posisi terbaik untuk memotret nantinya. Tuan rumah menyiapkan kopi hitam, semangka atau mandike, serta pisang goreng tebal yang sungguh nikmat dan gurih.

Poros jalan itu sangat ramai kendaraan, berbeda dengan Poros Limbung–Galesong. Tentu saja karena ini jalan alternatif yang mudah menuju Kota Takalar, tembus ke Bontoramba, hingga Jipang dan Paddinging.
“Bagus pemandangan sunset di sini, kita lihatmi sebentar,” kata Tetta Raga.
Dia menyebut demikian sebab belum ada atau tidak ada bangunan tinggi di antara Bategulung dan sisi barat. Hanya ada hamparan persawahan dan tanaman jagung. Poros ini memang nampak luar biasa, setidaknya kalau melihat poros jalan yang lempang dan bagus, terbeton, dan pemandangannya sunset-nya.
Membaca itu, saya membayangkan sebuah kedai kopi atau tempat lesehan yang apik sembari memandangi sunset di atas Pantai Barat Galesong melalui pucuk-pucuk pohon aren atau tala’.
Sunset yang indah tersaji di ruas Bategulung. Indah sekali di atas pucuk daun jagung yang masih muda, juga rindang pepohonan di sebelah barat Bategulung. Saya merekam sejumlah momen, video, dan sesekali beraksi layaknya anak muda yang berjingkrak di poros jalan dengan latar belakang sunset. Ka mau tongki kamase.
Di momen ini hadir pula Andi Agung Iskandar. Sosok yang penulis kenal saat dia bekerja untuk Lembaga Mitra Lingkungan dan di benak penulis sebagai orang Malino.
“Jangan salah Denun, beliau ini ayahnya adalah pengusa di Manjapai, tanahnya luas dan tuan tanah beliau ini,” kata Tetta Raga.
Andi Agung bercerita kalau ayahnya asal Manjapai, ibunya asal Malino.

Pengembaraan Daeng Ruppa di Galesong
Cerita belum berhenti di situ. Ini intinya.
Menjelang malam, datang Kepala Desa Bategulung, Tamrin Daeng Ruppa. Dia datang membawa parang kecil di pinggang, baru pulang dari sawah. Pertemuan Daeng Ruppa, Daeng Gajang, Tetta Raga, dan tuan rumah terasa seperti reuni keluarga besar.
Mereka sepantaran dan sepengalaman. Lahir, besar, di Bategulung lalu mengembara ke sana kemari dengan banyak cerita. Yang tampak adalah saling hormat, meski sense of humor terus hadir.
Yang membuat kami bertahan lama di Bategulung adalah cerita-cerita Daeng Ruppa.
Rupanya sebelum menjadi kepala desa, saat mudanya pada era 1980-an hingga 1990-an, dia juga kerap ke Galesong. Ia mengenal baik keluarga penulis di Bayowa, di Lanna, di Kampung Pajalaya, termasuk Datok atau kakek kami bernama Tora’.
Penulis bercita juga meski diselingi nuansa sedih. “Bapak Tora ada satu lusin perahu pattoraniangnya, meski satu persatu dibagikan ke cucu-cucunya termasuk saya, hilang, habis, untuk sekolah, untuk pendidikan cucu-cucunya, pun tanah.”
Dia mengaku familiar dengan nuansa maritim Bayowa, Galesong hingga Laelae. Dia kerap bergabung dengan tokoh Galesong kala itu. Ada gelas, atau bibbikang (ikan) di balai-balai. Pemandangan lazim di pesisir Bayowa kala itu, tempat di mana penulis menghabiskan masa kanak-kanak di rumah antara Nenek Kebo;, Dato Nappa, rumah Daeng Ngempo hingga rumah Nenek Jai.
Kisah yang dibagikan Daeng Ruppa antara kisah lucu dan juga nelangsa tentang tradisi pattoraniang, budaya pesisir dan relasi antara sawi, pinggawa atau patronclient khas pesisir dan peran pemodal besar atau papalele.
Daeng Ruppa menyebut hampir semua nama dari lingkar keluarga yang ada di memori bersejarah penulis. Disebutkan Daeng Nurung, Daeng Ngempo, Daeng Muntu, Dato Nappa, Daeng Gading, Daeng Ngella, Daeng Janji, Daeng Tika di Bayowa, Mada Tompo, hingga semua pelosok kampung mulai dari Mangindara, Boddia, hingga Batu-Batu.
“Saya pernah bawa perahu patorani, pernah sebagai sawi—ABK—hingga jual solar di sana, bukan papalele, tapi sebagai pinggawa,” kata Daeng Ruppa.
“Jadi kita ini anaknya Daeng Salle di Jempang?” kata Daeng Ruppa.
Saya mengiyakan dan terbahak.
“Kecilnya dunia,” kataku.
Banyak kisah yang dibagikan Daeng Ruppa. Tentang kosmologi patorani, budaya minum tuak, masjid di Bayowa yang proses pendiriannya heroik—bahkan harus melapor kepada keluarga karaeng di Galesong kala itu—serta hubungannya dengan tradisi nelayan di sana yang sarat nuansa mistis.
Saya akan menulisnya pada bagian lain, termasuk komunikasi dengan Haji Jarre, teman saat bekerja di Selayar antara tahun 2000-2003, Haji Jarre adalah keluarga Tetta Raga dan pernah jadi pejabat di Selayar dan pensiun di Takalar.
___
Kamaruddin Azis di Tamarunang, 3 Agustus 2026









