Lettu Husain Lewa, Pejuang Kemerdekaan dari Tanah Galesong yang Mengabdikan Hidup untuk Bangsa dan Agama

  • Whatsapp
Lettu Anumerta Husain Lewa (image oleh Pandawa Galesong)

PELAKITA.ID – Di setiap daerah, selalu lahir sosok-sosok yang mengukir sejarah tanpa banyak meminta dikenang. Mereka tidak hanya berjuang ketika bangsa memanggil, tetapi juga terus mengabdi setelah dentuman senjata mereda. Salah satu di antaranya adalah Anumerta Letnan Satu (Lettu) Husain Lewa, putra terbaik dari Tanah Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Nama Husain Lewa mungkin tidak setenar tokoh-tokoh nasional yang menghiasi buku sejarah. Namun, bagi masyarakat Galesong, ia adalah simbol keberanian, keteguhan iman, dan pengabdian yang melampaui zamannya.

Lettu Husain Lewa lahir dari pasangan Seni Daeng Nangring dan St. Saidah, seorang perempuan berdarah Melayu. Sejak usia muda, ia telah tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai keagamaan dan semangat kebangsaan. Bersama ayahnya, ia aktif dalam gerakan Muhammadiyah, sehingga tidak hanya menjadi anak biologis, tetapi juga pewaris nilai perjuangan dan dakwah yang diwariskan keluarganya.

Ketika Indonesia memasuki masa-masa mempertahankan kemerdekaan, Husain Lewa memilih berada di garis depan. Bersama sejumlah tokoh pejuang Sulawesi Selatan seperti H. Muhammad Daeng Patompo—yang kelak dikenal sebagai Wali Kota Makassar—Andi Oddang, Andi Mattalatta, Kapten Samad, Patih Hasan, dan sejumlah pejuang lainnya, ia ikut mengangkat senjata mempertahankan republik.

Perjuangan mereka berlangsung pada masa yang penuh gejolak. Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sulawesi Selatan menjadi salah satu wilayah yang mengalami perlawanan sengit terhadap upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

Berbagai laskar rakyat, termasuk kelompok-kelompok pejuang dari Galesong, terlibat dalam mempertahankan cita-cita kemerdekaan di tengah operasi militer yang berlangsung pada akhir dekade 1940-an.

Dalam berbagai pertempuran, Husain Lewa bersama rekan-rekannya beberapa kali terlibat kontak senjata dengan pasukan Belanda maupun tentara Jepang pada masa transisi. Bagi para pejuang Galesong, keberanian tidak hanya bertumpu pada kemampuan mengangkat senjata, tetapi juga pada keyakinan yang kuat kepada Allah SWT.

Di kalangan laskar hidup sebuah ungkapan dalam bahasa Makassar yang diwariskan turun-temurun: “Manna peloroka ammake ngasengji mata, silamaka nammattung, sisingkuluka nassa’ra talang.” Sebuah keyakinan bahwa setiap peluru yang dilepaskan manusia tetap berada dalam kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Nilai spiritual inilah yang menguatkan mereka menghadapi medan perang yang penuh risiko.

Namun, bagi Husain Lewa, perjuangan tidak berhenti ketika Indonesia merdeka. Baginya, mempertahankan bangsa juga berarti membangun masyarakat.

Di mana pun ia bermukim, perhatian terhadap kehidupan beragama selalu menjadi bagian dari pengabdiannya. Ia dikenal sebagai perintis pembangunan sejumlah masjid, antara lain di kawasan Rajawali, Makassar, Barembeng, Lassang, hingga yang terakhir di Kampung Jempang, Galesong, yaitu Masjid Nurul Hakim.

Nama “Nurul Hakim” dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada pamannya, Ince Abdul Hakim, seorang tokoh agama berdarah Melayu yang banyak memberi pengaruh dalam perjalanan hidupnya. Pilihan nama tersebut menunjukkan bahwa bagi Husain Lewa, perjuangan fisik dan pembangunan spiritual merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan.

Pengabdian panjangnya kepada negara kemudian mendapat pengakuan sebagai bagian dari Korps Cacat Veteran Republik Indonesia (KCVRI) di Makassar. Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa jasa para pejuang tidak hanya tercatat dalam ingatan keluarga, tetapi juga dalam sejarah perjuangan bangsa.

Kisah Husain Lewa mengajarkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir hanya dari para tokoh besar di pusat pemerintahan. Republik ini juga dibangun oleh putra-putra daerah yang berjuang dari kampung-kampung pesisir, dari desa-desa sederhana seperti Galesong, dengan keberanian, pengorbanan, dan keyakinan yang kokoh.

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia setiap bulan Agustus, mengenang sosok seperti Lettu Husain Lewa menjadi penting. Sejarah lokal bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber inspirasi bagi generasi muda untuk memahami bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan kolektif dari ribuan anak bangsa yang mungkin tidak banyak dikenal, tetapi telah memberikan seluruh hidupnya demi tegaknya Merah Putih.

Warisan terbesar Lettu Husain Lewa bukan hanya keberaniannya di medan perang, melainkan teladan bahwa cinta kepada tanah air harus berjalan seiring dengan keimanan, pengabdian kepada masyarakat, dan komitmen membangun peradaban.

Dari Galesong, ia meninggalkan pesan bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar berakhir; ia hanya berubah bentuk, dari mengangkat senjata menjadi membangun manusia dan memajukan bangsa.

___
Penulis: Husain Romo