PELAKITA.ID – MAKASSAR — Sebelum datang ke desa-desa dan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan perubahan iklim di masyarakat, ratusan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin terlebih dahulu dibekali satu prinsip mendasar: jangan bekerja berdasarkan asumsi.
Pesan itu menjadi benang merah dalam sesi pembekalan bertajuk “Metode Pengumpulan Data SIDIK dan Pendekatan Partisipatif” yang disampaikan oleh Dr. Ir. Syarifuddin Mabe Parenreng, S.T., M.P., IPU., ASEAN Eng., Kepala Subdirektorat Pendidikan Berbasis Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Bertempat di Auditorium Prof. Dr. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Unhas, Selasa (2/6/2026), kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian persiapan mahasiswa yang akan diterjunkan ke lima kabupaten di Sulawesi Selatan dalam Program Kampung Iklim (ProKlim).
“Sebagai masyarakat ilmiah, kita bekerja berdasarkan data, bukan berdasarkan perasaan,” tegas Syarifuddin di hadapan peserta.
Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi memiliki makna besar. Dalam konteks perubahan iklim, persepsi sering kali tidak cukup untuk memahami persoalan yang dihadapi masyarakat.
Diperlukan data yang valid agar program yang dirancang benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Lima Kabupaten, Lima Karakteristik Berbeda
Tahun ini, Program KKNT Perubahan Iklim menjangkau lima wilayah, yakni Kota Makassar, Kabupaten Maros, Parepare, Sidrap, dan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep).
Masing-masing wilayah memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda. Daerah pesisir menghadapi ancaman abrasi dan kenaikan muka air laut, sementara wilayah daratan berhadapan dengan persoalan kekeringan, perubahan pola musim, hingga gangguan produktivitas pertanian.
Perbedaan tersebut membuat mahasiswa tidak bisa datang dengan program yang seragam.
Mereka harus memahami kondisi masing-masing wilayah terlebih dahulu sebelum menentukan bentuk intervensi yang akan dilakukan.
Di sinilah data menjadi fondasi utama.
Mengenal SIDIK: Membaca Kerentanan Sebelum Bertindak
Untuk membantu mahasiswa memahami kondisi lapangan secara sistematis, pembekalan memperkenalkan penggunaan SIDIK (Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan Iklim).
SIDIK merupakan instrumen yang digunakan untuk memetakan tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap dampak perubahan iklim sekaligus mengidentifikasi kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai risiko lingkungan.
Melalui metode ini, mahasiswa diajak melihat persoalan iklim secara lebih komprehensif.
Tidak hanya mengamati banjir, kekeringan, atau abrasi pantai yang tampak di permukaan, tetapi juga memahami faktor-faktor sosial yang membuat suatu komunitas menjadi lebih rentan dibanding komunitas lainnya.
Dalam SIDIK, analisis dilakukan melalui tiga komponen utama.
Pertama adalah paparan (exposure), yaitu tingkat keterpaparan suatu wilayah terhadap ancaman perubahan iklim.
Kedua adalah sensitivitas (sensitivity), yakni tingkat kerentanan masyarakat terhadap ancaman tersebut, seperti ketergantungan terhadap sektor pertanian atau keterbatasan akses terhadap air bersih.
Ketiga adalah kapasitas adaptif (adaptive capacity), yaitu kemampuan masyarakat untuk beradaptasi melalui kelembagaan lokal, pengetahuan, maupun infrastruktur yang tersedia.
Ketiga komponen tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas program dan solusi yang akan dikembangkan mahasiswa bersama masyarakat.
Masyarakat Bukan Objek, tetapi Mitra
Namun bagi Syarifuddin, data saja tidak cukup.
Data harus dibangun melalui pendekatan yang menghargai masyarakat sebagai sumber pengetahuan dan mitra utama dalam pembangunan.
Karena itu, mahasiswa juga dibekali pendekatan partisipatif dalam setiap tahapan kegiatan.
Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai subjek utama yang terlibat sejak proses identifikasi masalah, penyusunan program, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi.
Menurutnya, masyarakat sering kali memiliki pengetahuan lokal yang tidak ditemukan dalam buku atau jurnal ilmiah.
Petani yang telah puluhan tahun mengelola lahan, nelayan yang setiap hari membaca tanda-tanda cuaca, atau warga yang hidup berdampingan dengan ancaman banjir memiliki pengalaman yang sangat berharga untuk memahami perubahan lingkungan.
“Semua orang memiliki pengetahuan yang berbeda. Ketika teori yang dibawa mahasiswa bertemu dengan pengalaman masyarakat, di situlah lahir pengetahuan yang lebih utuh,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa diharapkan hadir sebagai fasilitator, mediator, sekaligus penghubung pengetahuan, bukan sebagai pihak yang datang untuk menggurui.
Melihat Potensi di Balik Masalah
Dalam sesi pembekalan, mahasiswa juga diajak mengubah cara pandang terhadap persoalan yang ditemui di lapangan.
Syarifuddin mengingatkan bahwa di balik setiap masalah selalu terdapat potensi yang dapat dikembangkan.
Sering kali masyarakat yang sudah lama tinggal di suatu wilayah menganggap persoalan tertentu sebagai hal yang biasa.
Sebaliknya, mahasiswa yang datang dari luar memiliki perspektif baru yang mampu melihat peluang yang belum dimanfaatkan.

Pengalaman berbagai program KKN sebelumnya menunjukkan bahwa banyak inovasi lahir dari kemampuan mahasiswa melihat sesuatu yang luput dari perhatian masyarakat maupun pemerintah setempat.
Karena itu, pengumpulan data bukan sekadar kegiatan administratif, melainkan proses untuk menemukan peluang perubahan.
Membangun Program yang Tetap Hidup Setelah KKN Berakhir
Salah satu tantangan terbesar dalam program pengabdian masyarakat adalah keberlanjutan.
Banyak program berhenti ketika mahasiswa selesai menjalankan KKN dan kembali ke kampus.
Untuk menghindari hal tersebut, pendekatan partisipatif juga diarahkan untuk membangun sense of ownership atau rasa memiliki di kalangan masyarakat.
Ketika masyarakat terlibat sejak awal, mereka tidak melihat program sebagai milik mahasiswa KKN, melainkan sebagai bagian dari kebutuhan dan kepentingan mereka sendiri.
Dengan demikian, berbagai kegiatan yang telah dirintis dapat terus berjalan meskipun masa pengabdian mahasiswa telah berakhir.

Menuju Desa Percontohan Adaptasi Iklim
Program Kampung Iklim Universitas Hasanuddin dirancang sebagai program berkelanjutan hingga tahun 2028.
Melalui data yang dikumpulkan mahasiswa, nantinya akan dipilih desa-desa terbaik yang dapat dikembangkan menjadi lokasi percontohan adaptasi perubahan iklim di masing-masing kabupaten.
Desa-desa tersebut diharapkan menjadi laboratorium sosial yang menunjukkan bagaimana masyarakat dapat beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui pemanfaatan sumber daya lokal, inovasi komunitas, dan kolaborasi berbagai pihak.
Bagi mahasiswa, proses ini menjadi pengalaman belajar yang jauh melampaui ruang kuliah.
Mereka tidak hanya belajar mengumpulkan data dan menyusun program, tetapi juga belajar mendengarkan, memahami, dan bekerja bersama masyarakat.
Pada akhirnya, pesan utama dari pembekalan ini sederhana namun sangat penting: perubahan yang berkelanjutan selalu dimulai dari pemahaman yang baik terhadap realitas. Dan pemahaman itu hanya dapat diperoleh ketika data, ilmu pengetahuan, dan pengalaman masyarakat bertemu dalam satu proses kolaboratif.
Dari data menuju aksi. Dari kampus menuju masyarakat. Dari pembelajaran menuju ketahanan iklim yang nyata.









