KKN Itu PDKT, Pesan Suci Rahmadani Artika tentang Cara Memenangkan Hati Masyarakat

  • Whatsapp
Di tengah antusiasme ratusan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Program Kampung Iklim Universitas Hasanuddin, Dr. Suci Rahmadani Artika memilih membuka pemaparannya dengan cara yang berbeda. Ia tidak langsung berbicara tentang teori perubahan iklim atau metodologi pemberdayaan masyarakat. Sebaliknya, ia mengajak peserta memahami satu hal yang sederhana namun sering dilupakan.

PELAKITA.ID – Suasana ruangan mendadak riuh ketika nama-nama daerah mulai dipanggil satu per satu. Sidrap, Parepare, Maros, Makassar, hingga Pangkep berlomba menunjukkan semangatnya. Teriakan dan sorak peserta memenuhi ruangan, mencairkan suasana sebelum sesi materi dimulai.

Di tengah antusiasme ratusan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Program Kampung Iklim Universitas Hasanuddin, Dr. Suci Rahmadani Artika memilih membuka pemaparannya dengan cara yang berbeda.

Ia tidak langsung berbicara tentang teori perubahan iklim atau metodologi pemberdayaan masyarakat.

Sebaliknya, ia mengajak peserta memahami satu hal yang sederhana namun sering dilupakan.

“KKN itu sebenarnya intinya PDKT,” ujarnya disambut gelak tawa peserta.

Pernyataan itu terdengar ringan, tetapi menyimpan pesan yang sangat mendalam.

Menurut Suci, keberhasilan mahasiswa selama menjalankan pengabdian di desa tidak ditentukan oleh seberapa canggih program yang dibawa, melainkan seberapa dekat mereka mampu membangun hubungan dengan masyarakat.

“Mana ada orang langsung percaya kalau tidak PDKT dulu,” katanya.

Pesan tersebut menjadi pengingat penting bagi para mahasiswa yang akan menghabiskan waktu lebih dari satu bulan tinggal bersama masyarakat di berbagai wilayah Sulawesi Selatan dalam Program Kampung Iklim.

Datang untuk Mendengar, Bukan Menggurui

Menurut Suci, kesalahan yang sering terjadi dalam kegiatan pengabdian masyarakat adalah munculnya perasaan bahwa mahasiswa datang sebagai pihak yang paling tahu.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Mahasiswa memang memiliki pengetahuan akademik dan teori yang diperoleh di kampus. Namun masyarakat memiliki pengalaman hidup yang tidak diajarkan di ruang kuliah.

Karena itu, mahasiswa harus menempatkan diri sebagai fasilitator, bukan guru yang datang untuk menggurui.

“Kalian punya ilmunya, punya teorinya, tetapi pengalaman kalian kalah jauh dibanding masyarakat di lokasi,” ujarnya.

Dalam perspektif ini, masyarakat adalah pemeran utama. Mereka bukan objek pasif yang hanya menerima program, melainkan aktor yang akan melanjutkan setiap upaya yang dilakukan setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Suci mengibaratkan mahasiswa hanya sebagai pelatih dalam sebuah tim sepak bola.

Pelatih bisa berganti, tetapi pemain tetap ada di lapangan.

Karena itu, keberhasilan sebuah program tidak diukur dari ramainya kegiatan saat berlangsung, tetapi dari keberlanjutannya setelah mahasiswa meninggalkan lokasi.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Cengkerama Iklim bertema “Aksi Pemuda Jaga Iklim, Menuju Indonesia ASRI” yang diselenggarakan oleh Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, Selasa (2/6/2026), di Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Perubahan Iklim Tidak Jauh dari Desa

Dalam pemaparannya, Suci juga mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu global yang hanya terjadi di kutub atau negara-negara maju.

Dampaknya sudah dirasakan hingga ke tingkat desa.

Perubahan pola musim, gangguan pertanian, abrasi pantai, penurunan hasil tangkapan nelayan, hingga persoalan ketersediaan air merupakan contoh nyata bagaimana krisis iklim memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Karena itu, mahasiswa yang terlibat dalam Program Kampung Iklim harus mampu menerjemahkan isu besar perubahan iklim ke dalam konteks lokal yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Mengikuti Alam, Mengikuti Masyarakat

Salah satu pesan menarik yang disampaikan Suci adalah pentingnya memahami pendekatan berbasis alam atau Nature Based Solution (NBS).

Dengan bahasa yang ringan, ia menggambarkan hubungan manusia dengan alam seperti hubungan dengan pasangan.

“Kalau alam sedang bermasalah, jangan dilawan. Ikuti dulu maunya alam,” ujarnya disambut tawa peserta.

Menurutnya, alam memiliki mekanisme untuk memulihkan dirinya sendiri. Karena itu, solusi yang dirancang harus bekerja bersama alam, bukan melawannya.

Prinsip serupa juga berlaku dalam pendekatan kepada masyarakat.

Mahasiswa harus memahami kebutuhan dan aspirasi masyarakat sebelum menawarkan solusi.

“Ikuti juga maunya masyarakat,” katanya.

Pesan ini sejalan dengan konsep Community Based Adaptation yang menempatkan masyarakat sebagai pusat dari proses adaptasi perubahan iklim.

Belajar dari Kearifan Lokal

Suci juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada anggapan bahwa setiap solusi harus menggunakan teknologi tinggi.

Ia membagikan pengalaman saat membawa alat pengukur salinitas ke lapangan. Seorang warga setempat hanya mencelupkan jari ke air dan mencicipinya, lalu memperkirakan tingkat salinitas yang ternyata sama dengan hasil alat ukur.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan lingkungan mereka.

“Jangan ragukan kemampuan mereka,” tegasnya.

Karena itu, program yang dirancang mahasiswa harus menghargai kearifan lokal dan memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia di masyarakat.

Keluar Posko dan Mulai SKSD

Salah satu saran praktis yang diberikan kepada peserta adalah segera mengenal masyarakat sejak hari pertama tiba di lokasi.

Menurutnya, mahasiswa tidak boleh berdiam diri di posko menunggu masyarakat datang.

Sebaliknya, mereka harus aktif berkeliling kampung, menyapa warga, dan membangun komunikasi informal.

“Besoknya langsung keluar. Keliling kampung. SKSD saja dulu,” katanya.

Pendekatan informal seperti itu justru sering menjadi pintu masuk untuk membangun kepercayaan.

Karena pada akhirnya, masyarakat akan lebih mudah menerima program dari orang yang mereka kenal dan percaya.

Program yang Berumur Panjang

Pesan terpenting yang berulang kali disampaikan Suci adalah soal keberlanjutan program.

Mahasiswa hanya berada di lokasi sekitar 45 hingga 50 hari. Namun dampak yang diharapkan harus bertahan jauh lebih lama daripada masa pengabdian tersebut.

Karena itu, mahasiswa diminta tidak membuat kelompok baru jika sudah ada kelompok masyarakat yang berjalan. Mereka juga harus memastikan ada warga yang memahami cara mengelola dan melanjutkan program setelah KKN selesai.

Keberhasilan program, menurutnya, bukan ketika masyarakat datang karena diundang atau diperintah.

Keberhasilan sesungguhnya terjadi ketika masyarakat secara mandiri menjalankan kegiatan yang pernah diperkenalkan mahasiswa.

“Kalau kalian pulang dan mereka tetap melanjutkan sendiri, berarti program kalian berhasil,” ujarnya.

Di akhir sesi, Suci kembali mengingatkan posisi mahasiswa dalam pengabdian masyarakat.

Mahasiswa adalah fasilitator.

Masyarakat adalah pemeran utama.

KKNT hanya berlangsung beberapa minggu, tetapi perubahan yang ingin diwujudkan harus bertahan selama mungkin.

Sebuah pesan sederhana yang dirangkum dalam istilah yang mudah diingat oleh generasi muda: KKN yang baik selalu dimulai dengan PDKT.

Artikel ini cocok untuk media kampus, portal lingkungan, atau publikasi kegiatan Cengkerama Iklim dan Program Kampung Iklim dengan gaya feature yang lebih hidup dan mudah dibaca.