Dari Tempat Sampah, Kami Belajar Menjadi Keluarga yang Lebih Peduli

  • Whatsapp
Ilustrasi persiapan warga (dok: Istimewa)

PELAKITA.ID – Saya seorang ibu rumah tangga yang tinggal di BTP, RT 01/RW 09, Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar. Beberapa pekan terakhir, ada perubahan yang menarik terjadi di rumah kami. Siapa sangka, urusan memilah sampah kini menjadi topik diskusi yang paling sering muncul di tengah keluarga.

“Yang ini organik.”

“Tunggu dulu, Yah… itu residu.”

“Lihat mi di flyer yang dibagikan Pak Ketua RW 09. Botol plastik masuk anorganik. Kalau kardus bekas masuk yang mana, Yah?”

Percakapan seperti itu kini menjadi “nyanyian” sehari-hari di rumah kami. Suami, istri, bahkan anak-anak ikut berdiskusi, saling mengingatkan, sesekali berdebat kecil, lalu tertawa ketika ada yang keliru. Kegiatan yang dulu kami anggap sepele kini berubah menjadi momen belajar bersama yang menyenangkan.

Terus terang, saya termasuk ibu rumah tangga yang tidak pernah berpikir serius tentang pentingnya memilah sampah. Sampah selama ini hanya dianggap sesuatu yang harus segera dibuang. Namun, sejak adanya kebijakan Pemerintah Kota Makassar mengenai pemilahan sampah, cara pandang kami mulai berubah.

Bagi saya pribadi, inilah kekuatan sebuah kebijakan publik yang benar-benar mampu mendorong masyarakat untuk berubah.

Meski masih menuai pro dan kontra, program yang digagas Wali Kota Makassar ini telah menghadirkan kesadaran baru di dalam keluarga kami. Kebijakan tersebut tidak hanya mengubah cara kami mengelola sampah, tetapi juga perlahan membentuk budaya baru yang sebelumnya tidak pernah kami bayangkan.

Urusan publik kini hadir di ruang domestik. Kesadaran menjaga lingkungan tumbuh dari rumah ke rumah. Anak-anak belajar bertanggung jawab sejak dini. Putri saya, Echa, bahkan sudah terbiasa memisahkan botol minuman dan botol air mineral sebelum dibuang.

“Memang di sekolah sudah dipelajari, Bu. Tapi sekarang kita harus mempraktikkannya,” katanya suatu hari.

Kalimat sederhana itu membuat saya berpikir. Ternyata pendidikan lingkungan tidak cukup berhenti di ruang kelas. Rumah adalah tempat terbaik untuk membiasakan nilai-nilai tersebut.

Kini anak-anak mulai memahami perbedaan antara sampah organik, anorganik, dan residu. Mereka belajar bahwa setiap tindakan kecil memiliki dampak besar bagi lingkungan. Kami sebagai orang tua pun ikut belajar dan berusaha menjadi teladan.

Tentu perjalanan ini belum sepenuhnya mudah. Kami sempat bertanya-tanya, apakah harus membeli beberapa ember dengan warna berbeda seperti yang banyak terlihat di media sosial? Suami saya kemudian memberikan pandangan yang sederhana tetapi sangat menenangkan.

“Kalau belum mampu, kita mulai saja dengan kantong plastik yang diberi tanda. Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Yang penting kita mulai sesuai kemampuan.”

Ia lalu mengibaratkannya seperti belajar naik sepeda.

“Awalnya pasti jatuh, lalu bangun lagi. Jatuh lagi, bangun lagi. Lama-lama bisa, bahkan mungkin suatu saat ikut balapan.”

Perumpamaan sederhana itu membuat kami sadar bahwa perubahan tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar atau mahal. Yang terpenting adalah kemauan untuk memulai.

Saya percaya, perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil. Dari sudut rumah yang bernama tempat sampah. Dari percakapan sederhana di meja makan. Dari tawa keluarga ketika bersama-sama belajar memilah sampah dengan benar.

Makassar sedang membangun budaya baru. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat hari ini. Namun, jika kebiasaan ini terus tumbuh, kita tidak hanya akan memiliki lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga melahirkan generasi yang lebih peduli, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Saya percaya, perubahan itu memang seharusnya dimulai dari keluarga.

Terinspirasi dari diskusi sederhana antara ayah, ibu, dan anak-anak di rumah.

___
Ema Husain

Tamalanrea, Agustus 2026