Dosa Ekologis: Saat Korupsi Menghancurkan Ciptaan Tuhan

  • Whatsapp
Ilustrasi pohon yang ditebang (dok: Istimewa)

Selamat Hari Lingkungan Hidup

PELAKITA.ID – Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap 5 Juni seharusnya menjadi saat bagi kita untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan bumi. Perenungan itu tidak cukup berhenti pada persoalan sampah plastik, penanaman pohon, atau pengurangan emisi karbon.

Kita perlu melihat akar yang lebih dalam. Sebab kerusakan lingkungan sering kali bukan bermula dari rusaknya alam, melainkan dari rusaknya moral manusia.

Hutan tidak hilang dengan sendirinya. Sungai tidak tercemar karena kebetulan. Lahan-lahan produktif tidak berubah menjadi ruang eksploitasi karena takdir semata. Di balik banyak kerusakan ekologis, sering bersembunyi praktik penyalahgunaan kekuasaan, pembiaran, kolusi, dan korupsi.

Korupsi adalah bentuk keserakahan yang dilegalkan oleh nurani yang mati.

Ketika pejabat menyalahgunakan amanah, yang dirampas bukan hanya uang negara. Yang dicuri adalah masa depan. Yang digadaikan adalah harapan rakyat. Yang dikorbankan adalah keberlanjutan kehidupan.

Peristiwa yang belakangan mencuat dalam tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pengingat yang menyakitkan.

Program yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia dan membangun generasi unggul justru tersandung dugaan korupsi yang kini sedang diproses secara hukum.

Aparat penegak hukum telah menetapkan sejumlah mantan pejabat terkait sebagai tersangka, sementara pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperbaiki tata kelola program tersebut. Asas praduga tak bersalah tentu harus dihormati hingga proses peradilan selesai. Namun peristiwa ini menghadirkan pelajaran moral yang sangat penting bagi bangsa.

Mengapa kasus seperti ini relevan dibicarakan dalam konteks lingkungan hidup?

Karena pangan adalah produk ekologi. Sepiring makanan yang sampai ke tangan seorang anak sesungguhnya merupakan hasil kerja panjang bumi.

Ia berasal dari tanah yang subur, air yang terjaga, petani yang bekerja keras, dan ekosistem yang sehat. Ketika tata kelola pangan dikotori korupsi, maka sesungguhnya yang sedang dirusak bukan hanya administrasi pemerintahan, melainkan juga mata rantai kehidupan yang menghubungkan manusia dengan alam.

Di sinilah korupsi berubah menjadi dosa ekologis.

Ia mungkin tidak menebang pohon secara langsung. Ia mungkin tidak membuang limbah ke sungai. Tetapi ia menggerogoti fondasi keberlanjutan. Ia merusak kepercayaan publik. Ia menghambat hadirnya keadilan sosial dan keadilan ekologis yang seharusnya dinikmati oleh seluruh warga negara.

Dalam perspektif agama, manusia tidak ditempatkan sebagai pemilik bumi, melainkan sebagai penjaga dan pemelihara. Alam adalah amanah. Kekuasaan juga amanah. Jabatan pun amanah.

Karena itu, ketika seorang pejabat menggunakan kewenangannya untuk memperkaya diri sendiri, sesungguhnya ia tidak hanya melanggar hukum negara. Ia juga sedang mengkhianati amanah Tuhan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah tangan manusia. Ayat ini bukan hanya berbicara tentang pencemaran atau bencana ekologis. Ia juga berbicara tentang kerusakan moral yang melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan. Ketika keserakahan menguasai hati, bumi menjadi korban pertama.

Ironisnya, manusia modern sering berbicara tentang penyelamatan lingkungan sambil mengabaikan penyelamatan nurani. Kita menanam pohon, tetapi membiarkan korupsi tumbuh. Kita membersihkan sungai, tetapi membiarkan integritas mengering. Kita mengkampanyekan keberlanjutan, tetapi menoleransi pengkhianatan terhadap amanah publik.

Padahal, lingkungan yang sehat tidak akan pernah lahir dari sistem yang korup.

Masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh teknologi hijau, tetapi juga oleh moralitas hijau. Tidak hanya oleh kecanggihan kebijakan, tetapi juga oleh kejujuran para pelaksana kebijakan.

Tidak hanya oleh regulasi, tetapi juga oleh kesadaran bahwa setiap jabatan akan dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan rakyat, melainkan juga di hadapan Tuhan.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini mengajarkan satu hal yang sangat sederhana: menyelamatkan bumi harus dimulai dengan menyelamatkan integritas.

Sebab bumi yang rusak dapat direhabilitasi. Hutan yang gundul dapat ditanami kembali. Sungai yang tercemar masih dapat dipulihkan. Namun ketika nurani para pengelola amanah telah rusak oleh keserakahan, kerusakan yang ditimbulkannya dapat menjalar jauh melampaui satu generasi.

Mari menanam pohon. Mari menjaga sungai. Mari mengurangi sampah.

Tetapi lebih dari itu, mari menjaga kejujuran, merawat amanah, dan menegakkan integritas.

Karena sesungguhnya dosa ekologis terbesar bukanlah ketika manusia gagal mencintai bumi, melainkan ketika ia mengkhianati amanah Tuhan atas bumi yang telah dipercayakan kepadanya.
____
Muliadi Saleh: Menulis Makna, Membangun Peradaban.