Kepada mahasiswa yang akan menjalankan KKN Tematik Perubahan Iklim, Iwan menyarankan agar tidak terburu-buru membuat program besar sebelum memahami kondisi lapangan.
PELAKITA.ID – Makassar — Program Kampung Iklim bukan sekadar kegiatan menanam pohon atau menjalankan proyek lingkungan sesaat. Lebih dari itu, Kampung Iklim merupakan upaya membangun perubahan perilaku masyarakat agar mampu menghadapi tantangan perubahan iklim secara berkelanjutan.
Pesan tersebut disampaikan oleh Muhammad Ihwan atau yang lebih dikenal sebagai Iwan Dento.
Dia adalah penggerak Komunitas Anak Sungai dan Program Lestari Rammang-Rammang. Iwan memberikan pembekalan kepada mahasiswa peserta KKN Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin dalam kegiatan Cengkerama Iklim bertema “Aksi Pemuda Jaga Iklim, Menuju Indonesia ASRI”.
Sebagai pegiat lingkungan yang telah lebih dari dua dekade berkecimpung dalam pelestarian kawasan karst, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di kawasan Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan,
Iwan Dento mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah Kampung Iklim tidak ditentukan oleh besarnya program yang dijalankan, melainkan oleh kemampuan masyarakat membangun kebiasaan dan kelembagaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Memahami Tiga Pilar Kampung Iklim
Dalam pemaparannya, Iwan menjelaskan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi fondasi Program Kampung Iklim.
Pertama adalah mitigasi, yaitu berbagai upaya untuk menekan laju perubahan iklim agar dampaknya tidak semakin besar. Mitigasi dilakukan melalui berbagai tindakan yang mampu mengurangi emisi dan mencegah kerusakan lingkungan.
Kedua adalah adaptasi, yakni kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim yang sudah terjadi. Adaptasi menjadi penting karena berbagai dampak perubahan iklim, mulai dari cuaca ekstrem hingga perubahan pola musim, telah dirasakan oleh banyak komunitas.
Ketiga adalah keberlanjutan, yaitu memastikan seluruh kegiatan yang dilakukan dapat terus berjalan setelah program selesai. Karena itu, pembangunan kelembagaan lokal dan penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan Kampung Iklim.
“Kalau tidak ada kelembagaan yang kuat, program akan berhenti ketika pendamping atau mahasiswa selesai bertugas. Karena itu keberlanjutan harus dipikirkan sejak awal,” jelasnya.
Kepedulian Bukan Sekadar Ucapan
Salah satu pesan yang paling ditekankan Iwan kepada para mahasiswa adalah makna kepedulian yang sesungguhnya.
Menurutnya, kepedulian bukan sekadar pernyataan atau slogan yang diucapkan dalam berbagai kegiatan lingkungan. Kepedulian adalah keberpihakan yang diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kalau kita mengatakan peduli tetapi tidak melakukan apa-apa, maka itu bukan kepedulian. Kepedulian harus terlihat dalam tindakan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa substansi dari perubahan iklim sesungguhnya adalah perubahan perilaku. Karena itu, program-program lingkungan harus diarahkan untuk mendorong perubahan kebiasaan masyarakat, bukan sekadar menghasilkan kegiatan seremonial.
Memulai dari Hal Sederhana
Kepada mahasiswa yang akan menjalankan KKN Tematik Perubahan Iklim, Iwan menyarankan agar tidak terburu-buru membuat program besar sebelum memahami kondisi lapangan.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun kontrak sosial di lingkungan posko KKN. Ia memberi contoh sederhana seperti membiasakan penggunaan botol minum isi ulang dan menyediakan water station untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Setelah itu, mahasiswa perlu melakukan observasi untuk mengenali persoalan lingkungan yang paling mendesak di lokasi penugasan, apakah berkaitan dengan sampah, krisis air bersih, degradasi lingkungan, atau persoalan lainnya.
“Jangan datang membawa program yang sudah jadi. Datanglah untuk melihat, mendengar, dan memahami kebutuhan masyarakat terlebih dahulu,” pesannya.
Ia juga mendorong mahasiswa membangun kelembagaan lokal yang mampu menjadi motor penggerak setelah program KKN berakhir.
Belajar dari Kampung Rammang-Rammang
Sebagai contoh praktik baik, Iwan membagikan pengalaman pengembangan Kampung Rammang-Rammang yang berhasil meraih status Kampung Iklim Lestari, kategori tertinggi dalam Program Kampung Iklim.
Keberhasilan tersebut tidak dicapai melalui proyek besar dalam waktu singkat, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam menjaga lingkungan dan membangun sistem pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Berbagai program yang dijalankan antara lain pengendalian sampah melalui gerakan “satu rumah satu tempat sampah”, pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomi, pembangunan rumah belajar, rumah kompos, rumah sampah, hingga pemanfaatan energi surya untuk kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, seluruh program tersebut lahir dari kebutuhan nyata masyarakat dan tumbuh secara bertahap melalui proses belajar bersama.
Di penghujung sesi, Iwan menyampaikan refleksi yang menarik tentang tantangan pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, masalah terbesar yang akan dihadapi manusia di masa depan bukan hanya soal ekonomi atau ketersediaan uang, melainkan soal ruang hidup yang semakin terbatas dan tertekan oleh berbagai aktivitas manusia.
“Masalah terbesar ke depan bukan uang, tetapi ruang. Ketika kita mampu mengelola ruang dengan baik, maka kehidupan sosial, lingkungan, dan ekonomi akan tumbuh dengan lebih baik pula,” ujarnya.
Karena itu, Program Kampung Iklim harus dipahami sebagai upaya membangun ruang hidup yang sehat, produktif, dan berkelanjutan melalui perubahan perilaku masyarakat.
Bagi Iwan Dento, aksi iklim yang paling penting bukanlah program yang terlihat besar di atas kertas, melainkan perubahan-perubahan kecil yang tumbuh menjadi budaya baru di tengah masyarakat.
Dari situlah keberlanjutan dapat terwujud dan lingkungan dapat tetap terjaga untuk generasi yang akan datang.
Redaksi












