Ahmad Yusran: Krisis Sampah Tidak Cukup Diatasi dengan Memilah, Tetapi dengan Mengubah Perilaku

  • Whatsapp
Ahmad Yusran (Komunitas Hijau Makassar)

Kota Makassar saat ini masuk dalam kategori kota yang menghadapi tekanan lingkungan yang serius. Kita sudah berada pada kondisi darurat sampah. Karena itu, mahasiswa yang akan turun ke masyarakat harus hadir dengan semangat solusi, bukan sekadar melihat masalah.

Ahmad Yusran, Komunitas Hijau Makassar

PELAKITA.ID – Makassar — Persoalan perubahan iklim tidak dapat dilepaskan dari masalah sampah yang semakin kompleks di kawasan perkotaan.

Pesan itulah yang disampaikan oleh Ahmad Yusran, pendiri Forum Komunitas Hijau Makassar, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Cengkerama Iklim: Aksi Pemuda Jaga Iklim, Menuju Indonesia ASRI, yang menjadi bagian dari pembekalan mahasiswa peserta KKN Tematik Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin.

Di hadapan ratusan mahasiswa, Ahmad Yusran mengajak peserta melihat persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan lingkungan, melainkan bagian dari krisis ekologis yang semakin mendesak.

“Kota Makassar saat ini masuk dalam kategori kota yang menghadapi tekanan lingkungan yang serius. Kita sudah berada pada kondisi darurat sampah. Karena itu, mahasiswa yang akan turun ke masyarakat harus hadir dengan semangat solusi, bukan sekadar melihat masalah,” ujarnya.

Menurut Yusran, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan kampanye memilah sampah.

Yang lebih penting adalah membangun disiplin, kesadaran, dan perubahan perilaku dari tingkat individu hingga komunitas.

Ia menampilkan berbagai pengalaman advokasi yang dilakukan Forum Komunitas Hijau selama bertahun-tahun, mulai dari pendampingan masyarakat, edukasi mahasiswa, hingga pemantauan pengelolaan tempat pemrosesan akhir (TPA).

Dari pengalaman tersebut, ia melihat bahwa persoalan utama bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan lemahnya kesadaran kolektif dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab.

“Indonesia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Persoalan sampah sudah melewati batas. Karena itu yang dibutuhkan bukan hanya teknologi, tetapi perubahan perilaku dan komitmen bersama,” tegasnya.

Dari Sampah Menjadi Sumber Daya

Salah satu pendekatan yang dikembangkan Forum Komunitas Hijau adalah penerapan prinsip ekonomi sirkular. Menurut Yusran, sampah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai barang buangan, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi.

Ia menceritakan praktik sederhana yang diterapkannya di rumah bersama keluarga. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah kemasan plastik dibersihkan, dipilah, dan dimasukkan ke dalam botol hingga menjadi ecobrick.

Dari kebiasaan tersebut, keluarganya berhasil menghasilkan puluhan modul ecobrick yang kemudian dimanfaatkan menjadi kursi, bangku, dan berbagai kebutuhan lainnya.

“Banyak orang berbicara tentang lingkungan, tetapi perubahan sesungguhnya dimulai dari rumah masing-masing. Dari kebiasaan sederhana, kita bisa mengurangi sampah yang berakhir di TPA,” katanya.

Gerakan tersebut juga terhubung dengan jaringan internasional yang mendorong pengurangan sampah plastik melalui pendekatan berbasis masyarakat.

Literasi Lingkungan Sebelum Aksi

Ahmad Yusran menekankan pentingnya literasi lingkungan bagi mahasiswa sebelum terjun ke lapangan. Menurutnya, banyak persoalan lingkungan muncul karena masyarakat belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai sumber masalah yang dihadapi.

Ia mengingatkan bahwa sebelum berbicara tentang solusi, mahasiswa perlu memahami data, kondisi sosial, perilaku masyarakat, hingga tata kelola sampah di wilayah yang akan mereka dampingi.

“Kita sering berbicara tentang aksi, tetapi lupa membangun literasi. Padahal perubahan perilaku dimulai dari pemahaman yang benar terhadap masalah,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk membiasakan diri membaca data, memahami kondisi lapangan, dan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat.

Pendekatan Personal dan Spiritual

Menurut Yusran, keberhasilan program lingkungan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kebijakan, tetapi juga oleh pendekatan sosial dan budaya.

Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak datang ke masyarakat hanya dengan membawa teori atau teknologi. Pendekatan personal, budaya, dan spiritual justru sering menjadi pintu masuk yang lebih efektif dalam membangun kesadaran lingkungan.

“Masyarakat sudah sering melihat berbagai program dan teknologi. Yang mereka butuhkan adalah keteladanan, kejujuran, dan kedekatan,” katanya.

Karena itu, mahasiswa KKN diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Komitmen ke Aksi

Di akhir pemaparannya, Ahmad Yusran mengajak mahasiswa untuk menerjemahkan komitmen menjadi tindakan nyata.

Menurutnya, aksi iklim tidak selalu harus dimulai dari program besar. Langkah sederhana seperti mengurangi sampah plastik sekali pakai, memilah sampah dari sumbernya, mengolah sampah organik, hingga mengedukasi masyarakat merupakan kontribusi nyata dalam menghadapi krisis lingkungan.

Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Perubahan harus dimulai dari individu, keluarga, komunitas, hingga lembaga pendidikan.

“Belum ada teknologi yang mampu memutus persoalan sampah jika perilaku manusianya tidak berubah. Karena itu perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri,” ujarnya.

Bagi Ahmad Yusran, keberhasilan aksi iklim tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam atau program yang dijalankan, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu membangun budaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Kalau lingkungan sehat, masyarakat juga sehat. Dan di situlah sebenarnya tujuan utama dari seluruh gerakan lingkungan yang kita lakukan,” pungkasnya.

Artikel ini sudah disusun dengan pendekatan jurnalistik-feature, mengangkat gagasan utama Ahmad Yusran tentang darurat sampah, ekonomi sirkular, literasi lingkungan, perubahan perilaku, dan peran mahasiswa sebagai agen perubahan iklim.